x

MENELADANI SEPULUH SIKAP MENTAL PEMIMPIN

Dānaṁ sīlaṁ pariccāgaṁ ājjavaṁ maddavaṁ tapaṁ akkodaṁ avihimsañca khanti avirodhanaṁ
Berdana, kemoralan, kemurahan hati, kejujuran, kelembutan, pengendalian diri, tanpa kebencian atau cinta kasih, tanpa kekerasan atau belas kasih, kesabaran, dan kesantunan
(Khuddaka Nikāya, Jataka V : 378)

    DOWNLOAD AUDIO

     Keluarga menjadi tempat awal tumbuhnya benih-benih kepemimpinan. Para pemimpin dunia yang berkarisma dan dicintai oleh rakyatnya bermula dari didikan orangtua yang baik, sabar, dan penuh perhatian terhadap anak dalam sebuah keluarga. Walaupun keadaan lingkungan masyarakat turut berpengaruh terhadap perkembangan mental anak, namun pendidikan awal  dari orangtuanya seperti ‘tinta pertama' yang mengukir beragam warna dan tulisan di lembaran hati atau mental di masa-masa awal kehidupan anak. Anak akan memberikan baktinya, menghormati, mencintai, taat, menyayangi ibu dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Hal ini akan tercermin dari sikap atau perilaku anak. Meskipun suatu ketika jarak waktu dan tempat memisahkan mereka, tetapi jika dari awal, sejak usia dini anak-anak secara terus-menerus dibesarkan dalam sebuah lingkungan yang baik, dibekali dasar kemoralan yang baik, maka besar kemungkinan anak akan tumbuh lebih baik, dan jika ia besar di lingkungan yang kurang baik, tidak merasakan kasih sayang orangtua sendiri atau mungkin orangtua angkat, itu juga memungkinkan ia mempunyai sikap mental  atau kebiasaan berperilaku tidak baik. Misalnya, anak suka berbohong pada teman-temannya, suka mencuri, suka mengadu-domba teman-temannya sendiri, dan hal-hal buruk lainnya, bahkan sampai anak ini tumbuh dewasa, sikap buruknya kian menjadi-jadi, tidak mudah untuk dirubah menjadi lebih baik. Maka, mempunyai anak yang baik, berbakti, bisa dipercaya, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan menjadi dambaan orangtua. Guru Agung Buddha menjelaskan suatu keluarga yang bahagia, saling menghormati dan memperoleh kebahagiaan di alam surga sebagai hasilnya, ini semua didukung oleh banyak kebajikan dan bakti yang besar anak kepada ibu dan ayah mereka:
1.Keluarga-keluarga tinggal bersama Brahma di mana di rumah mereka ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka.
2.Keluarga-keluarga tinggal bersama guru-guru pertama di mana di rumah mereka ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka.
3.Keluarga-keluarga tinggal bersama yang-layak menerima pemberian di mana di rumah mereka ibu dan ayah dihormati oleh anak-anak mereka.
“Brahma,” adalah sebutan bagi ibu dan ayah. ‘Guru-guru pertama’ adalah sebutan bagi ibu dan ayah. ‘Yang layak menerima pemberian’ adalah sebutan bagi ibu dan ayah. Karena alasan apakah? Ibu dan ayah sangat membantu bagi anak-anaknya: mereka membesarkan anak-anaknya, memelihara, dan menunjukkan dunia kepada mereka.” Ibu dan ayah memiliki belas kasih terhadap keturunannya. Oleh karena itu seorang bijaksana harus menghormati ibu dan ayahnya, memperlihatkan penghormatan selayaknya, karena pelayanan kepada ibu dan ayah, orang bijaksana dipuji di dunia ini dan setelah kematian ia bergembira di alam surga, (Aṅguttara Nikāya, Buku Kelompok Tiga). Teramat besar kasih sayang orangtua terhadap anak-anaknya. Betapa penting peranan ibu dan ayah dalam mendidik putra-putrinya hingga di zaman dahulu orangtua sering disejajarkan dengan Brahma. Brahma merupakan dewa yang memiliki sifat luhur tanpa batas. Seperti dalam Khuddakanikāya, Khuddakapātha, dijelaskan tentang empat sifat luhur, yaitu cinta kasih (mettā), kasih sayang (karunā), simpati (muditā), dan keseimbangan batin (upekkhā) kepada semua makhluk. Bagi orangtua yang baik, keempat sifat luhur tersebut menjadi dasar yang tanpa batas dalam mendidik anak-anaknya, oleh karena itu anak-anak memandang mereka laksana dewa Brahma. Cinta kasih dan kasih sayang yang tulus telah diberikan orangtua kepada anak-anaknya akan dapat memunculkan generasi-generasi bangsa yang memliki mental berkualitas baik. Bahkan siapa pun yang tekun memancarkan mettā, karunā, muditā, dan upekkhā, jika hal ini terus dikembangkan akan menumbuhkan sifat dermawan, memiliki tata susila yang baik, kemurahan hati, kejujuran, kelembutan, keramahan, melindungi, membimbing, kesabaran, dan sifat-sifat luhur lainnya. Dan bakti yang ditunjukkan anak terhadap orangtua, kondisi-kondisi baik serta simpanan kebajikan di masa lalu akan turut mendukung tumbuhnya sosok generasi pemimpin yang berbudi luhur, pemberani, tangguh, rela berkorban demi keluarga, masyarakat, organisasi, perusahaannya, maupun negaranya. Dari keluarga yang baik ini pula ada kemungkinan tumbuh anak yang  akan menjadi seorang atasan yang bisa memberikan contoh yang baik bagi bawahannya, dan jika ia menjadi seorang pemimpin negara maka akan banyak  orang yang menaruh harapan baik padanya,  atau paling tidak ia menjadi pemimpin yang baik bagi dirinya sendiri. Dalam kitab Jataka dijelaskan bahwa merupakan sesuatu yang penting sekali bila seorang pemimpin mengikuti azas kepemimpinan dalam ajaran Dasa raja dhamma (sepuluh kewajiban raja yang pada masa kini berlaku pula untuk pemimpin) agar dapat memerintah dengan baik, mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, kemajuan, dan kejayaan bagi seluruh rakyatnya:
1.Dāna (memberi) memberikan dana kepada mereka yang memerlukan. Ini merupakan salah satu kewajiban seorang raja (pemerintah, pemimpin) untuk menjaga kesejahteraan rakyatnya. Salah satu ciri pemimpin ideal apabila dapat memberikan kekayaannya secara bijaksana dan tidak berusaha menjadi kaya dengan memanfaatkan kedudukannya. Ia tidak kikir karena ia bersedia berkorban demi orang yang dipimpinnya. Pengorbanan di sini lebih cenderung pada materi yang dimilikinya demi kesejahteraan orang banyak. Seseorang belajar Dhamma bisa dimulai dari hal yang mudah dilakukan terlebih dahulu, yakni memberi (danā). Demikian juga seorang pemimpin hendaknya ia seorang yang memiliki kebiasaan memberi. Kebiasaan memberi ini akan menjadi sifat dermawan yang mendarah-daging dalam dirinya, dan ia akan memberikan sebanyak-banyaknya benda-benda materi dan lainnya untuk kepentingan, untuk kebahagiaan orang-orang yang dipimpinnya. Bahkan bisa lebih luas lagi yaitu kepada orang lain yang bukan anggota keluarganya, organisasinya, atau rakyatnya. Pemimpin yang baik memiliki kepekaan yang kuat melihat derita rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya sehingga berjuang keras mengentaskan kesengsaraan hidup rakyatnya menuju kesejahteraan sosial yang merata. Sebagai contoh, jika terjadi bencana alam seperti banjir besar yang menghanyutkan rumah-rumah penduduk, maka pemimpin segera bertindak cepat menangani para korban banjir tersebut dan berusaha agar banjir bisa diminimalisir dampaknya di masa mendatang, misalnya dengan menguras lumpur atau sampah-sampah di sepanjang aliran sungai, terus mendorong masyarakat menjaga kebersihan tempat tinggal, lingkungan, seluruh saluran irigasi, membangun waduk atau danau buatan, selain bisa dijadikan tempat rekreasi, dapat juga digunakan untuk menampung debit air yang melimpah sehingga diharapkan dapat digunakan untuk berbagai keperluan masyarakat di musim kemarau.
2.Sīla (moralitas yang baik). Sebagai pemimpin senantiasa mengendalikan moral yang baik melalui ucapan, badan jasmani dan pikiran ini akan menjadi contoh yang baik bagi rakyatnya. Memiliki kemoralan di sini setidaknya ia menghindari melakukan pembunuhan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Kelima kemoralan ini ia jadikan pedoman dalam hidup kesehariannya serta mampu menciptakan lingkungan hidup yang aman dan nyaman ketika di suatu daerah, instansi pemerintah banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran kemoralan, aturan atau undang-undang yang berlaku, seperti, pembunuhan, korupsi, suap, prostitusi pencurian, perjudian, dan perilaku buruk lainnya yang jelas-jelas meresahkan dan bisa menghancurkan tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk dapat mewujudkan kondisi masyarakat yang aman, bisa mengendalikan diri dari tindak kejahatan maka seorang pemimpin mampu mengendalikan dirinya terlebih dahulu dengan baik supaya bisa menjadi contoh yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya, dan sebagai hasilnya mereka pun akan menghormati dan bahkan sangat menyayangi sosok pemimpin yang memiliki kualitas moral yang baik demikian. Memberikan contoh ucapan-ucapan yang baik, benar, beralasan, bermanfaat, dan diucapkan tepat pada waktunya (Majjhima Nikāya 58). Orang akan mengenang perjuangannya, nama baiknya, mempercayai dan berusaha keras mempertahankan sosok pemimpin yang jujur, berani membuat keputusan yang tegas dan tepat. Seperti kata-kata Sang Buddha dalam syair Dhammapada, Bab IV: Puppha Vagga (Bunga-bunga): Na pupphagandho pativātameti, na candanaṁ tagaramallikā vā, satañca gandho pativātameti, sabbā disā sappuriso pavāti, yang berarti: Harumnya kayu Cendana, bunga Melati dan bunga Tagara tidak dapat melawan arah angin, tetapi harumnya nama baik si pembuat kebajikan dapat melawan arah angin, tersebar di segala penjuru. Kualitas kemoralan ini sangat penting, bila diamalkan dengan sungguh-sungguh maka kekerasan, penyuapan, korupsi, dan ketidakdisiplinan akan hilang dalam masyarakat.
3.Pariccāga (berani berkorban), berani berkorban segalanya demi kebahagiaan orang yang dipimpinnya. Pengorbanan di sini diartikan sebagai hal merelakan, mengikhlaskan, melepaskan, menanggalkan, mengorbankan (misalnya istri, anak, kerajaan, anggota badan); biaya (pengeluaran), pemberian atau derma (untuk orang miskin), kemurahan hati, menghindari keegoisan, misalnya nama baik, kesenangan pribadi bahkan sampai kehidupannya.
4.Ājjava (tulus hati, bersih). Sifat luhur ini tidak bisa ditinggalkan dalam setiap tindak-tanduknya, benar-benar melaksa-nakan tugas dengan jujur, keterbukaan, dan ketulusan. Dengan hati yang jujur dan bersih ini, pemimpin bebas dari rasa takut maupun kepentingan pribadi dalam setiap melaksanakan tugasnya. Rakyat sangat mendambakan seorang pemimpin yang jujur, baik dalam ucapan, tindakan, maupun pikiran. Kejujuran turut mendukung keberlangsungan seseorang memimpin dalam waktu yang lama.
5.Maddava (ramah tamah, sopan santun). Sebagai raja atau pemimpin memiliki  watak simpati dan ramah tamah terhadap siapa pun. Kelembutan sikap akan mampu mengoyak kerasnya keangkuhan bila dilakukan dengan tulus dan berkelanjutan. Keangkuhan yang dibiarkan bukannya menambah kewibawaan tetapi bahkan akan menurunkan rasa hormat bawahan terhadap atasan atau pemimpinnya. Sikap ramah, bersedia diajak berunding, menerima pendapat orang lain dapat menguatkan tali keharmonisan antara pimpinan dengan bawahan.
6.Tapa (kesederhanaan). Di mana pun ia bertugas, seorang raja atau pemimpin bersikap sederhana, dapat mengendalikan dirinya sendiri baik dalam bertutur kata, berberbuat dengan jasmani maupun menjaga pikirannya supaya tidak berbuat sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri maupun pihak lain. Keyakinan terhadap Hukum Kamma  memungkinkan seseorang cenderung selalu berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
7.Akkodha (bebas dari kebencian, tanpa niat jahat). Ajaran Buddha menganjurkan kita selalu mengembangkan sifat luhur cinta kasih yang berarti seorang pemimpin mau tidak mau harus selalu mengembangkan cinta kasih atau pikiran tanpa membenci, bukan pemarah terhadap orang-orang yang dipimpinnya walau pun banyak sikap dan perilaku dari bawahannya sering tidak mengenakan hati bahkan sering melanggar peraturan atau undang-undang.
8.Avihimsa (tanpa kekejaman atau kekerasan). Menjadi seorang pemimpin akan disayangi oleh banyak orang karena sikap dan tindakannya yang selalu menyayangi, tidak kejam, bertimbang-rasa, tanpa kekerasan, tidak sewenang-wenang kepada bawahannya bahkan terhadap siapapun. Ia juga berusaha meningkatkan perdamaian dan mencegah peperangan.
9.Khanti (kesabaran, rendah hati). Pemimpin harus dapat menghadapi halangan, berbagai kesulitan, ejekan-ejekan dengan kerendahan hati, dengan hati yang sabar, penuh pengertian, dapat menerima pujian dan celaan dengan batin yang seimbang serta dapat memaafkan orang lain yang menyakiti hatinya. Kesabaran, ketabahan adalah cara melatih batin terbaik (Ovādapātimokkhā). Mampu meredam gejolak amarah yang kadang muncul saat berhadapan dengan situasi atau ulah para bawahan yang tidak menyenangkan.
10.Avirodhana (kesantunan, tidak menentang, tidak bermusuhan). Sebagai pemimpin bisa menciptakan keharmonisan, tidak menentang kemauan rakyat, tidak bermusuhan dengan rakyat atau orang-orang yang dipimpinnya, tidak menghalang-halangi usaha untuk memajukan kesejahteraan rakyat, bahkan sebaliknya meningkatkan semangat persahabatan di antara rakyat. Dapat hidup bersatu dengan rakyat sesuai dengan tuntutan hati nurani rakyat.
      Dalam catatan sejarah Agama Buddha, Raja Asoka merupakan seorang pemimpin besar kerajaan di India yang terkenal, memiliki keberanian, keyakinan dan cara pandang yang jauh ke depan untuk mengamalkan ajaran tanpa kekerasan (avihimsa), penuh damai dan cinta kasih dalam pemerintahan kerajaannya yang besar nan agung mengenai hal-hal yang berkaitan dengan keadaan di dalam dan luar negeri.

Referensi :
• Bhante Vin Vijāno.Dhammapada.2013.Bahussuta Society Singkawang Selatan.
• Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V.2016.(elektronik).
• Khuddaka Nikāya, Jātaka V: 378. http://harian.analisadaily.com. 2016.
• Bhikkhu Bodhi.2012.Anguttara Nikāya.Jakarta Barat. DhammaCitta Press.
• Bhikkhu Bodhi.1995.Majjhima Nikāya.Khotbah Menengah Sang Buddha.Jakarta Barat.DhammaCitta Press.
•  Paritta Suci. 2005. Yayasan Sangha Theravāda Indonesia.

Dibaca : 2863 kali