x

Perspektif Pandangan Benar

Yaṁ kho, bhikkhave, dukkhe ñāṇaṁ, dukkhasamudaye ñāṇaṁ,
dukkhanirodhe ñāṇaṁ, dukkhanirodhagāminiyā paṭipadāya ñāṇaṁ.
Ayaṁ vuccati, bhikkhave, sammādiṭṭhi.
Pandangan benar adalah pengetahuan atau pemahaman mengenai dukkha, 
sebab dukkha, penghentian dukkha serta jalan menuju penghentian dukkha.
(Mahāsatipaṭṭhāna Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Pandangan Benar perlu di-pahami sebagai suatu pemahaman yang mendalam terhadap segala sesuatu bukan secara intelektual saja, namun juga telah menyatu dalam diri sebagai suatu cara hidup sehingga pandangan benar akan terwujud ketika pikiran atau kehendak, perbuatan dan ucapan seseorang benar. Pandangan benar yang betul-betul terlatih sempurna dengan dukungan unsur-unsur lainnya itulah yang disebut kebijaksanaan sejati. Ketika pandangan benar telah sempurna dialami, maka unsur lainnya juga secara otomatis telah sempurna dijalankan karena semuanya adalah bagian dari satu jalan menuju kebahagiaan sejati, nibbāna. Jadi sebelum suatu tindakan dilakukan, seseorang harus mempunyai pandangan atau pengertian terhadap tindakan yang akan dilakukannya, sehingga ia tahu mana tindakan yang merugikan dan mana tindakan yang mendatangkan kebahagiaan. Itulah alasan mengapa Pandangan Benar berada di urutan pertama dan sebagai dasar yang menopang Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Kita telah mengetahui akibat dari pandangan benar dan pandangan salah, sehingga hal selanjutnya adalah mengerti apa itu pandangan benar. Pandangan benar adalah memahami realitas hidup seperti apa adanya. Lalu bagaimana realitas kehidupan atau kenyataan dari segala sesuatunya itu? Di sinilah letak penting ajaran Buddha yang menarik banyak orang. Buddha Gotama mengajarkan hakikat kehidupan layaknya seorang ilmuwan yang mengajarkan ilmu-ilmu sains, seperti matematika dan fisika. Namun, Buddha mengajarkan sesuatu yang lebih mengarah ke masalah sosial. Beliau menyadari bahwa semua hal yang terjadi dalam masyarakat sosial akibat dimulai dari diri sendiri, sehingga Buddha mengajarkan dan berharap bahwa setiap orang melatih dirinya masing-masing dahulu untuk selanjutnya akan menciptakan lingkungan masyarakat yang damai. 

Untuk memulai melatih diri sendiri itulah, seseorang memerlukan pandangan yang benar sebagai dasar.

Syarat untuk melatih dan mengembangkan pandangan benar adalah memahami:
1. Yang bajik dan yang tak-bajik (kusala dan akusala)
2. Empat kebenaran Mulia (cattāri ariya saccāni)
3. Tiga corak umum (tilakkhana)
4. Kesalingterkaitan antar segala sesuatu
5. Kotoran batin dan cara melenyapkannya.

Yang dimaksud dengan pandangan benar terhadap hal yang bajik dan yang tak-bajik adalah bahwa seseorang tahu dengan jelas yang mana yang baik dan yang mana yang buruk, tahu yang manakah yang tidak boleh dilakukan dan dihindari serta yang mana yang harus dilakukan dan dilatih. Ada sepuluh hal tak-bajik yang harus dihindari dan tidak dilakukan dan ada sepuluh hal bajik yang dianjurkan oleh Buddha untuk dilatih. Dalam melatih pandangan benar  seseorang perlu memahami kesepuluh hal yang bajik maupun yang tak-bajik tersebut (Sammādiṭṭhi Sutta, MN 9.3).

Memahami sepuluh hal yang tak-bajik antara lain: membunuh makhluk hidup (termasuk menyakiti), mengambil apa yang tidak diberikan, perilaku salah di dalam kesenangan indera-indera (seksual), ucapan tidak benar (bohong), ucapan dengki, ucapan kasar, gosip, iri hati, niat jahat, pandangan salah (MN 9.4). Penyebab yang mendasarinya adalah keserakahan, kebencian, kebodohan batin (MN 9.5). Memahami sepuluh hal yang bajik: menghindar dari mem-bunuh makhluk hidup, menghindar dari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindar dari perilaku salah di dalam kesenangan indera-indera, menghindar dari ucapan tidak benar, menghindar dari ucapan dengki, menghindar dari ucapan kasar, menghindar dari gosip, tidak iri hati, tanpa niat jahat, pandangan benar (MN 9.6). Akar penyebabnya adalah tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin (MN 9.7).

Kita harus mengerti dengan jelas alasan dibalik menghindari sepuluh hal tak-bajik seperti yang disebutkan sebelumnya. Alasannya sangat sederhana. Hal-hal tak-bajik tersebut jika dilakukan akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Membunuh, mengambil barang yang tidak diberikan, perilaku salah dalam kesenangan seksual termasuk perbuatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri secara tidak langsung. Ucapan bohong, ucapan dengki, ucapan kasar, gosip termasuk ucapan yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Sedangkan iri hati, niat jahat, dan pandangan salah termasuk merugikan diri sendiri. Kesepuluh hal yang tak-bajik tersebut pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap diri sendiri, sehingga akan membuat dirinya menjadi tidak bahagia dan tenang. Maukah kita tidak bahagia?

Buddha menganjurkan melatih sepuluh hal yang bajik seperti yang disebutkan di atas dari sudut pandang pasif. Secara aktif, sepuluh hal yang bajik tersebut adalah menolong orang yang menderita, berdana, setia terhadap pasangan atau mengendalikan hasrat seksual, jujur, ucapan yang mendorong, ucapan sopan atau lembut, ucapan yang bermanfaat, kebahagiaan simpati, cinta kasih dan pandangan benar. Uraian lebih mendalam akan dijabarkan pada Jalan Mulia Berunsur Delapan bagian perbuatan benar, ucapan benar dan pikiran benar. Pandangan benar adalah pengetahuan atau pemahaman mengenai dukkha, sebab dukkha, penghentian dukkha serta jalan menuju penghentian dukkha. Dukkha dapat dipahami sebagai penderitaan karena kemelekatan atau ketidakpuasan karena perubahan. Dengan kata lain pandangan benar adalah suatu pandangan mengenai hakikat kehidupan atau pemahaman terhadap ke-nyataan dari segala sesuatu. Di sinilah letak pentingnya pandangan benar dan kita akan mengerti mengapa pandangan benar dijelaskan oleh Buddha berada di urutan pertama dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Setelah mengerti tentang pandangan benar, seseorang baru dapat mengembangkan pandangan benarnya sehingga menjadi sempurna. Ada dua kondisi bagi munculnya pandangan benar yang sempurna, yaitu ‘suara orang lain’ (parato ghosa) dan perhatian yang bijaksana (MN 43.13). Yang dimaksud ‘suara orang lain’ adalah ajaran yang bermanfaat yang berasal dari luar diri seperti diumpamakan dengan suara orang lain yang terdengar. Itulah Dhamma, sebagai ‘suara orang lain’. Dhamma yang di sini artinya lebih umum yakni kebenaran akan realitas, seperti perubahan, kesalingterkaitan antar segala sesuatu, Empat Kebenaran Mulia dan jalan Mulia Berunsur Delapan. Perhatian yang bijaksana adalah pengembangan mental dan terus-menerus melatih diri sesuai Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Referensi:
- Bodhi, bhikkhu. 2006. Jalan Kebahagiaan Sejati. Jakarta: Karaniya.
- Chia, Vajiro (Richard). 2004. Panduan Kursus Dasar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Vidyasena Production
- Dhammika, Ven. S. 2004. Dasar Pandangan Agama Buddha. Surabaya: Yayasan Dhammadipa Arama.
- Sangharakshita, Ven. 2004. Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jakarta: Karaniya.
- Yandi Wijaya,Willy. 2008. Pandangan Benar. Klaten: Insight Vidyasena Production.
- Cintiawati, Wena dan Lanny Anggawati (penerjemah bahasa Inggris). 2004. Majjhima  Nikāya. Klaten:Wisma Meditasi dan Pelatihan Dhammaguna.

Dibaca : 491 kali


hacklink nedir hacklin seo ve hacklinkin faydaları hacklink hacklink satış hacklink panel hacklink al hacklink seo evden eve nakliyat bmw yedek parça mercedes yedek parça seo nedir seo analiz googlede üst sıraya çıkmak gibi kesin sonuçlarla seo çalışmasında kaliteli hizmet veren hacklink adresi www.profseo.co dur.evden eve nakliyat böcek ilaçlama paykasa paykasa bozdurma aradığınız bütün kelimeler sadece burda. instagram takipçi hilesi bypass shell wso shell hacklink satış hacklink panel wso shell hacklink hacklink hacklink al hacklink seo nedir Google film izle porno porno izle porno seyret seks hikayeleri