x

Imlik

Cittaṁ, bhikkave, dantaṁ guttaṁ rakkhitaṁ samvutaṁ mahato atthāya samvattati`ti.
“Oh para Bhikkhu, pikiran yang jinak, terjaga, terlindungi dan terkendali 
mengarah kepada manfaat yang besar.”
(A.N. I.21-26, Abhavita Sutta)

    DOWNLOAD AUDIO

Dua hari lagi dimulai dari hari ini. Masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa merayakan tahun baru yang disebut dengan Imlik. Bulan pertama di dalam kalender lunar menandakan awal musim semi dan tahun baru. Di China, Tahun baru  ini disebut dengan Juen Cie. Sedangkan masyarakat Indonesia  keturunan Tionghoa menyebutnya dengan Sin Cia atau Imlik yang berasal dari Bahasa Hokkian yang artinya tahun baru.
Perayaan Imlik tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa, tetapi juga dirayakan oleh masyarakat lainnya. Di dalam kalender nasional Indonesia, hari Imlik menjadi hari libur nasional. Tentu, cara merayakannya sesuai dengan tradisi atau cara masing-masing. Hari perayaan Imlik menjadi ajang berkumpul dengan semua anggota keluarga sekaligus melepas rindu dengan anggota keluarga.
Pada saat perayaan Imlik, umumnya dirayakan seperti pada perayaan tahun baru. Masyarakat memiliki sebuah harapan (apekkhā), tentu hal ini tidaklah salah. Dikarenakan semua orang tentu mempunyai sebuah keinginan. Tetapi, yang menjadi kurang tepat adalah jika sebuah harapan akan datang tersebut tidak disertai dengan sebuah tindakan (kamma).
Sang Buddha pernah mengajarkan kepada seorang perumah tangga bernama Byagghapajja tentang Samparāya Dhamma yang berisikan Dhamma yang berguna saat yang akan datang (samparāya). Tetapi, Dhamma yang diajarkan tersebut tidak hanya berguna untuk saat yang akan datang, tetapi juga berguna di saat ini.
Samparāya Dhamma yang diajarkan pertama adalah kesempurnaan dalam keyakinan (Saddhāsampadā). Yang dimaksud kesempurnaan dalam keyakinan adalah ia yakin kepada Tiga Permata (Tiratana) berdasarkan pengalaman pribadi, bukan yang lain. Dikarenakan, keyakinan seseorang bisa timbul biarpun isinya adalah hampa, kosong, dan salah. Keyakinan ini timbul dalam diri seseorang karena beberapa sebab seperti: yakin karena yakin, yakin karena rasa suka, yakin karena tradisi lisan, yakin karena logika semata, dan yakin menerima pandangan karena perenungan. (M.N. 95).
Samparāya Dhamma yang diajarkan kedua adalah kesempurnaan dalam perilaku bermoral (Sīlasampadā). Ketika seseorang menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari hubungan seksual yang salah, menghindari mengucapkan yang salah, dan menghindari mengkonsumsi apa yang bisa menyebabkan lemahnya kesadaran, maka dirinya menjadi tidak lengah. Karena, jika seseorang melakukan perbuatan yang tidak bermoral, di saat itu pula menjadi perilaku tidak bermoral tersebut menjadi landasan bagi kelengahan untuk dirinya sendiri.
  Samparāya Dhamma yang diajarkan ketiga adalah kesempurnaan dalam kedermawan-an (cāgasampadā), yang dimaksud sempurna dalam kerelaan adalah bagaimana seseorang mampu merelakan dengan pikiran baik dan tanpa pikiran buruk, bersenang dalam memberi dan berbagi. Dengan berbuat seperti ini, seseorang yang memberi dengan tujuan untuk mengikis kotoran batin, buahnya pun bisa sampai pada pencapaian kesucian anagami (A.N. 7.52)
Samparāya Dhamma yang diajarkan keempat adalah kesempurnaan dalam kebijaksanaan (paññāsampadā). Ketika seseorang memiliki kebijaksanaan yang melihat muncul dan lenyapnya segala fenomena yang ada baik secara batin maupun jasmani. Dengan memiliki kebijaksanaan ini maka akan mengarah menuju kehancuran penderitaan sepenuhnya. Inilah yang dimaksud kesempurnaan dalam kebijaksanaan. (A.N. 8.54)
Ketika seseorang mampu melatih empat sampadā ini, maka harapan yang ia bangun tidak hanya sebatas harapan, tetapi mampu menjadi kenyataan. Sehingga seseorang yang berlatih demikian, batinnya bisa jinak, terjaga, terlindungi, dan terkendali. Batin seperti inilah yang membawa manfaat yang besar bagi orang tersebut. Dengan demikian, perayaan Imlik tidak hanya sebatas pada tradisi atau ritual semata. Sebaliknya, perayaan Imlik memberikan motivasi, renungan, serta pemahaman bahwa jika harapannya ingin terpenuhi, maka ia harus melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi makhluk lain.

Pustaka Rujukan:
- Aṅguttara Nikāya: The Numerical Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2012.
- Majjhima Nikāya: The Middle-length Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 1995

Dibaca : 2395 kali