x

ATURAN ITU MEMBEBASKAN BUKAN MEMBEBANI

Tañca kammaṁ kataṁ sādhu yaṁ katvā nānutappati
yassa patīto sumano vipākaṁ paṭisevati
“Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan tidak membuat seseorang menyesal, maka perbuatan itu adalah baik. Orang itu akan menerima buah perbuatannya 
dengan hati gembira dan puas“
(Dhammapada, Bala-Vagga syair: 68)

    DOWNLOAD AUDIO

Aturan adalah tindakan atau perbuatan yang harus dijalankan agar sikap dan perilaku manusia menjadi tertib dan terkendali. Dengan demikian, maka sesuai dengan definisi manusia itu sendiri yang memiliki makna makhluk yang mempunyai akal budi. Jika manusia mempunyai akal budi, maka tentunya mampu menimbang dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk, menghindari yang buruk dan menjalankan yang baik, sehingga akan menjadi manusia yang budiman yaitu pintar dan bijaksana. Tetapi tidak semua orang mampu memilih yang baik dan membuang yang buruk, oleh karena itu untuk memperoleh manusia yang berbudi luhur, maka diperlukan sebuah aturan, dan aturan inilah yang akan mempu membuat seorang menjadi baik dan bijaksana atau menjadi manusia yang berbudi luhur. 

Tetapi aturan ini pada sebagian orang terasa membebani padahal esensi dari aturan itu membebaskan bukan membebani. Dhammapada Yamaka-Vagga, syair 16 menyebutkan “Idha modati pecca modati katapuñño ubhayattha modati so modati so pamodati disva kammavisuddhi-mattano artinya: di dunia ini ia bergembira di dunia sana ia bergembira, pelaku kebajikan bergembira di kedua dunia itu. Ia bergembira dan bersuka cita karena melihat perbuatannya sendiri yang bersih”. Di dalam syair ini disebutkan kegembiraan seseorang didapatkan dari merenungkan perbuatannya sendiri yang bersih, hal ini menunjukkan ketika seseorang berlatih, menjalankan aturan dengan sungguh-sungguh maka akan memperoleh kegembiraan karena ke-gembiraan itu ekspresi dari memperoleh kebebasan. Beban yang dialami seseorang dalam berlatih karena ketidakmampuannya dalam menjalankan aturan secara sungguh-sungguh, terkadang merasa bebaspun karena ia meninggalkan latihan itu dan tidak mengingatnya. Orang yang lalai tidak taat terhadap aturan maka akan terbebani terhadap aturan yang dijalankan sehingga akan terjatuh di kehidupan yang akan datang dan terbebani di kehidupan saat ini. 

Terbebani karena aturan dikarenakan tidak menjadi orang yang cerdas serta bijaksana dalam menjalankan aturan itu sendiri, Bahussutta (ummagga) Kecerdasan AN 4.186, Sang Buddha menjelaskan seseorang dapat dikatakan seorang terpelajar yang ahli Dhamma yaitu “jika, setelah mempelajari makna dan Dhamma bahkan hanya sebuah syair empat baris, ia berlaitih sesuai Dhamma, maka itu cukup baginya untuk disebut seseorang terpelajar yang ahli Dhamma.” Dikatakan setelah mempelajari makna Dhamma bahkan hanya sebuah syair empat baris dan ia berlatih sesuai dengan Dhamma yang telah dipahami, orang tersebut cukup disebut sebagai seorang terpelajar yang ahli Dhamma. pernyataan ini sebenarnya jika dipahami dengan baik, akan mampu memberi peringatan serta cambukan bagi orang-orang yang begitu luas mempelajari makna Dhamma tetapi tidak mampu menerpakannya dalam bertindak, dengan demikian akan muncul orang-orang yang tidak mampu memperingati diri sendiri ketika menyimpang dari latihan.
 
Dewasa ini, ada berbagai macam karakter orang yang melakukan latihan-latihan aturan hal ini menyangkut kesejahateraan diri sendiri ataupun kesejahteraan orang lain. Sikkhāpadasutta (latihan-latihan aturan) AN 4.99, menyebutkan ada empat jenis seorang dalam menjalankan latihan “(1) Seorang yang berlatih demi kesejahteraannya sendiri tetapi bukan demi kesejahteraan orang lain; (2) seorang yang berlatih demi kesejahteraan orang lain tetapi bukan demi kesejahteraannya sendiri; (3) seorang yang berlatih bukan demi kesejahteraannya sendiri juga bukan demi kesejahteraan orang lain; dan (4) seorang yang berlatih demi kesejahteraannya sendiri juga demi kesejahteraan orang lain.”. Jika dilihat di dalam pernyataan sutta ini, poin yang sempurna adalah yang terakhir yaitu seseorang yang berlatih demi kesejahteraannya sendiri dan juga demi kesejahteraan orang lain, karena hal ini selaras bagaikan orang yang menjalankan latihan dengan semboyan “lakukan apa yang kamu ucapkan dan ucapkan apa yang kamu lakukan” dengan catatan yang dilakukan adalah aturan-aturan positif (baik). Mengapa “lakukan apa yang kamu ucapkan dan ucapkan apa yang kamu lakukan”, menjadi penting karena jika kita menganjurkan kebaikan tetapi kita tidak melakukannya akan menjadi sia-sia anjuran itu, karena selain ucapan yang bermanfaat tentunya orang pada umumnya melihat perilaku si pemberi nasehat, tetapi ketika yang terjadi sebaliknya maka jika orang yang kita beri nasehat mempunyai akal budi maka ia akan mau melakukannya. Karena alasan inilah mengapa seseorang hendaknya melakukan apa yang diucapkan, selain itu agar ucapan atau anjuran kita diikuti maka kita juga perlu mengembangkan etika-etika positif.

Seorang filsuf emperisme, Sir David Hume menyatakan suatu tindakan dinilai baik jika tindakan itu berguna atau menyenangkan bagi kita atau banyak orang. Secara umum dibedakan empat sikap positif dalam etika Hume 1. sikap yang menyenangkan kita sendiri; 2. sikap yang menyenangkan orang lain; 3. sikap yang berguna bagi diri sendiri; dan 4. sikap yang berguna untuk orang lain (Tjahjadi 2004: 253). Manusia ter-dorong untuk melakukan sikap positif tersebut berdasarkan prisnsip cinta diri (untuk tindakan yang menyenangkan dan berguna bagi diri sendiri) dan simpati (untuk tindakan yang menyenangkan dan berguna bagi orang lain). Dalam Buddhisme sikap positif tercermin dan terkandung di dalam aturan-aturan latihan misalkan yang terdapat di dalam pañcasῑla (lima aturan) yang merupakan latihan yang ditujukan kepada upāsaka-upāsikā dan apabila ditaati dan dilakukan dengan baik maka akan membawa pada kebebasan, karena esensi dari latihan aturan-aturan itu membebaskan bukan membebani si pelaksana aturan.

Pada dasarnya, perbuatan baik itu membebaskan bukan membebani, hal ini berlaku untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, karena kebaikan itu tidak akan menimbulkan penyesalan apabila setelah dilakukan. Seperti halnya pernyataan yang ada di dalam Dhammapada, Bala-Vagga syair: 68, yaitu “Bila suatu perbuatan setelah selesai dilakukan tidak membuat seseorang menyesal, maka perbuatan itu adalah baik. Orang itu akan menerima buah perbuatannya dengan hati gembira dan puas”. Perasaan gembira dan puas itu adalah wujud dari kebebasan dalam menjalankan aturan, oleh karena itu hendaknya kita terus berusaha dan berupaya agar aturan-aturan yang sudah ditentukan dan dianjurkan, dijalankan dengan baik agar kita memperoleh manfaat dalam menjalankan aturan itu yaitu berupa kebebasan bukan sebaliknya.

Referensi:
-Tjahjadi, Simon Petrus L. 2004. Petualang Intelektual. Yogyakarta: Kansius.
-Vijanao, Win.2013. Kitab Suci Dhammapada. Singkawang selatan: Bahussuta Society.
-https://legacy.suttacentral.net/id/an4.186 diakses pada tanggal 14 Februari 2019 pukul 17.10 WIB.
-https://legacy.suttacentral.net/id/an4.99 diakses pada tanggal 14 Februari 2019 pukul 17.12 WIB

Dibaca : 2716 kali