x

KECINTAAN TERHADAP DIRI SENDIRI

Attānañce piyaṁ jaññā, rakkheyya naṁ surakkhitaṁ
Tiṇṇaṁ aññataraṁ yāmaṁ, paṭijaggeyya paṇḍito.
Jika tahu sendiri apa yang dicintai, diperolehnya menjaganya 
dengan baik. Orang bijak perlu senantiasa waspada dalam tiga masa. 
(Khu, Dp. 157)

    DOWNLOAD AUDIO

     Sejak lahir, kita telah me-ngenal makna kasih sayang yang telah diberikan langsung oleh kedua kita, khusus ibu kita. Kasih sayang yang kita rasakan dari orang-orang terdekat makin bertambah kompilasi kita mulai kenal mereka. Namun jarang sekali kita memberikan cinta atau cinta untuk diri sendiri. Dengan menganggap diri sendiri, bukan berarti kita meningkatkan ego karena semua yang terjadi dalam kehidupan kita ini berpusat pada diri kita sendiri. Kita akan menjadi baik atau jahat; akan bahagia atau menderita; akan kaya atau miskin; akan terlahir di alam bahagia atau di alam menderita; Semuanya bergantung pada diri kita sendiri. Tidak ada satu pun orang yang berhasil memunculkan yang menjadi penyebabnya. 

    Kata 'Diri sendiri' dalam syair Dhammapada ini berarti diri fisik dan batin. Setelah kita bahas dengan kebijaksanaan itu tidak ada pun yang menerima orang lain lebih menerima diri sendiri, kita perlu memberikan perhatian yang lebih kepada diri sendiri. Ada pepatah yang mengatakan, 'kuman di seberang lautan, jelas kelihatan, namun gajah di depan mata, tidak kelihatan'. Dengan demikian, kita perlu menasehati diri sendiri seperti sabda Buddha, “attanā codayattānaṁ” nasehatilah diri sendiri oleh diri sendiri. Dengan cara ini, kita akan menjadi baik secara bertahap.

     Setelah mengetahui sendiri apa yang dicintai, maka mari kita menjaganya dengan baik. Orang berbahaya perlu senantiasa adalah dalam tiga masa, yaitu masa anak-anak, remaja, dan tua. Kita perlu setiap saat dalam diri kita jaga diri karena tidak ada orang lain yang menerima kita, sama seperti kita menyambut diri kita sendiri, sesuai dengan sabda Buddha “natthi attasamaṁ pema kec” tidak ada yang suka dengan yang suka kecintaan kepada diri sendiri.

    Ketika orang saling mencintai, mereka akan meminta memberikan yang terbaik untuk orang tersebut. Demikian juga dengan kompilasi kita, membuat kita dapat memberikan yang terbaik untuk diri kita sendiri, seperti duduk dengan baik, jalan dengan baik, makan dengan baik, berbicara dengan baik, berprilaku dengan baik, dan sebagainya.

     Ada tiga tahapan yang perlu dilakukan agar hal yang baik ini melekat dengan diri kita, yaitu pada masa anak-anak, remaja, dan tua.
      Tahap pertama kita mulai mengembangkan hal-hal yang baik kompilasi masih anak-anak dengan belajar di sekolah maupun di rumah dengan baik sehingga akan saya kebutuhan perhatian dan perbaikan.
     Tahap kedua, kompilasi masa remaja, kita harus memiliki pekerjaan dalam kehidupan sebagai perumah tangga sehingga memiliki dukungan yang cukup untuk mendukung kehidupan berkeluarga.
     Tahap ketiga adalah masa tua. Setelah lewat muda, seseorang akan melewati masa tua. Saat ini harus segera berusaha membuat perlindungan. Ada 4 hal yang harus dilakukan pada masa ini, yaitu: 1) Menjaga tugas dan tugas dengan sungguh-sungguh. 2) Melepaskan kesedihan. 3) Jangan cemas, dan 4) Perhatian terhadap Dhamma, sesuai dengan sabda Buddha, “Dhammo memiliki rakkhati dhammacāriṁ”, Dhamma akan melindungi dia yang mempraktikkan Dhamma. Di dalam Sutta Sappurisadhamma, Sang Buddha menguraikan Dhamma berikut:
1.  Dhammaññutā: mengetahui alasan, yaitu mengetahui alasan-alasan yang harus dilakukan akan berakibat sesuai dengan kondisi yang diinginkan.
2.  Atthaññutā: mengetahui hasil atau manfaat, yaitu mengetahui akibat yang akan ditimbulkan dari pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan.
3.  Attaññutā: mengetahui diri sendiri, yaitu mengetahui kondisi, kekemampuan, dan apa yang bisa dilakukan oleh diri sendiri. 
4.  Mattaññutā: tahu batas-batas, misalnya seorang bhikkhu tahu batas dalam hal makan. Perumah tangga tahu batas dalam menggunakan kebutuhan, dan sebagainya.  
5.  Kālaññutā: Tahu waktu, yaitu mengetahui waktu yang sesuai untuk beraktivitas atau ber-interaksi dengan lingkungan juga seseorang. 
6.  Parisaññutā: tahu kelompok, yaitu menemukan adat-istiadat dari setiap masyarakat yang akan dikunjungi dapat diterima dengan kelompok tersebut. 
7.  Puggalaparopaññutā: tahu seseorang, yaitu mengetahui perbedaan sifat, kemampuan, dan lain-lain yang dimiliki se-siapa pun bisa mendapatkan diri dengan baik.
    Dengan mengetahui dirimu sendiri adalah yang paling dicintai, kita harus kembali. Kita meminta kewaspadaan dengan melakukan hal-hal yang sesuai dengan masa-masa yang akan berkembang dalam tiga masa. Jika tidak bisa melakukan dalam tiga masa, kita bisa melakukan pada masa lainnya. Pada masa mana, kita mampu menggunakan masa tersebut dengan baik, maka pada masa tersebut kita akan memperoleh kemajuan. Pada masa mana, kita tidak bisa membeli dengan baik, maka masa depan akan berangkat. Karena itu, orang yang bijih akan selalu siap dalam tiga masa ini dengan menggunakannya untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat untuk diri sendiri karena mengetahui diri sendirilah yang paling dicintai. 




Oleh: Bhikkhu Dhammajato
Minggu, 10 Maret 2019

Dibaca : 2654 kali