x

Berdikari Dengan Melihat Diri Sendiri

Na paresaṁ vilomāni, na paresaṁ katākataṁ, 
attano va avekkheyya, katāni akatāni ca.
“Seseorang semestinya tidak mengacuhkan tutur kata menyeramkan orang lain, semestinya tidak menghiraukan tuntas dan tidaknya pekerjaan orang lain, 
alih-alih mempedulikan tuntas dan tidaknya pekerjaan diri sendiri.”
(Puppha Vagga, 50)

    DOWNLOAD AUDIO

Pendahuluan
     Umumnya dalam kehidupan bermasyarakat selalu memperhatikan objek-objek yang ada di luar diri individu. Mereka dalam berinteraksi hanya melihat ke luar dan tidak mau melihat ke dalam sehingga objek-objek yang diketahui hanya di luar saja. Melalui pengalaman yang didapat di luar tentunya ada penilaian-penilaian terhadap apa yang didapatkan, misalkan penilaian yang positif, negatif, maupun netral.
     Apabila seseorang maupun sekelompok orang hanya melihat ke luar, maka akan terjadi subjektif pada diri sendiri serta menganggap orang yang ada di luar jelek, salah, serta berprilaku tidak terpuji. Padahal yang salah bukan orang di luar atau objek yang dilihat, tetapi sesungguhnya orang yang salah adalah diri sendiri. Oleh sebab itu, ketika memperhatikan orang lain atau melihat ke luar tidak selayaknya menilai orang lain itu jelek atau buruk, namun harus dilihat dengan saksama akan kebenaran yang terjadi sebagaimana apa adanya.

Pembahasan
     Seseorang sebaiknya memperhatikan atau melihat diri sendiri karena dengan melihat diri sendiri, maka ia akan semakin berhati-hati dalam berbuat. Melakukan suatu perbuatan harus dipikirkan terlebih dahulu, apakah merugikan orang lain atau tidak, bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain atau tidak. Melalui adanya perhatian seperti itu, tentu perbuatan jahat tidak akan dilakukan serta tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang sering melihat ke dalam adalah orang yang selalu waspada dalam berprilaku, tidak panik, tidak lalai, dan tidak lengah dalam menjalani hidupnya. Seperti yang tertuang di dalam Dhammapada Appamāda Vagga, 21 sebagai berikut:
Appamādo amataṁ padaṁ, pamādo maccuno padaṁ, appamattā na mīyanti, ye pamattā yathā matā: “Ketidaklengahan adalah jalan menuju ketidakmatian. Kelengahan adalah jalan menuju kematian. Mereka yang tidak lengah tidak mati, sebaliknya yang lengah tak ubahnya telah mati.” 
Melalui penjelasan syair Dhammapada itu dapat ditarik kesimpulan bahwa jika seseorang dalam menjalani hidup selalu melihat ke dalam serta tidak memperhatikan kejelekan orang, maka hidupnya akan bahagia. Kebahagiaan yang didapatkan tidak hanya kebahagiaan biasa yang bersifat duniawi, tetapi kebahagiaan yang direalisasi adalah kebahagiaan spiritual yang amat sukar dicari oleh setiap insan di dunia. Sikap yang hati-hati juga dapat mencerminkan tindakan mulia seseorang ketika bergaul dalam masyarakat.
     Khotbah Sang Buddha yang menjelaskan tentang pentingnya melihat ke dalam juga dijelaskan dalam Malla Vagga syair 253, yakni:
      Paravajjānupassissa, niccaṁ ujjhānasaññino, āsavā tassa vaḍḍhanti, ārā so āsavakkhayā: “Barang siapa yang selalu memperhatikan dan mencari-cari kesalahan orang lain, maka kekotoran batin dalam dirinya akan bertambah, dan ia akan semakin jauh dari penghancuran kekotoran-kekotoran batin.” Mengacu pada kutipan Dhammapada ini sangat jelas bahwa seseorang hendaknya memperhatikan tingkah lakunya sendiri, melakukan penilaian terhadap perbuatannya sendiri. Apabila seseorang selalu melihat ke dalam, ia dapat mengetahui kondisi dirinya. Bila keadaannya dalam kondisi terpuruk, maka ia akan melakukan perubahan atau langkah-langkah perbaikan tanpa menyalahkan orang lain. Sebaliknya, tatkala seseorang dalam hidupnya selalu menilai atau memperhatikan kesalahan orang lain, kondisi batinnya akan kering dan semakin jauh dari kebenaran. Hal tersebut diikarenakan penilaian ke luar tanpa menilai ke dalam serta menganggap dirinya paling benar dan orang lain dianggap sebagai tikar. 
     Relevansi tentang melihat ke dalam pun disampaikan oleh Sang Buddha dalam khotbah lainnya yang tertuang dalam Sabbasava Sutta (MN,2). Penjelasan tersebut menerangkan bahwa pengotor batin akan dapat dilenyapkan bagi orang yang mengerti dan melihat bukan bagi orang yang tidak mengerti dan melihat. Artinya dengan sering melihat ke dalam tentunya memberikan manfaat yang besar sebagai pelenyap pengotor batin (kilesa). 
    Berdasarkan penjelasan yang tertuang dalam Sutta tersebut, seseorang dalam menitikkan goresan tinta dalam hidupnya semestinya sesering mungkin untuk melihat ke dalam dirinya sendiri sehingga akan semakin eling dan waspada dalam menjalani hidup yang penuh fatamorgana ini. Di sinilah diperlukan kewaspadaan secara terus-menerus agar dapat terhindar dari hal-hal buruk yang membahayakan. Siapa yang mengetahui hal buruk akan segera datang, namun sebelumnya seseorang patut untuk eling dan waspada dalam hidupnya, maka kemungkinan kecil bencana menghampirinya. Seperti pepatah Cina yang pernah saya dengar dari ceramah Bapak Andrie Wongso, “Orang yang berbuat jahat walaupun bencana belum menghampirinya, tetapi rezeki telah menjauhinya. Sebaliknya orang yang berbuat baik walaupun rezeki belum datang, tetapi bencana telah menjauhinya.” Oleh sebab itu, penting sekali untuk memperhatikan ke dalam demi kesejahteraan, kedamaian, dan kemandirian batin.

Kesimpulan
     Sebagai kesimpulannya adalah ketika berinteraksi dengan masyarakat di mana pun berada, baik di kota maupun di desa, hendaknya seseorang lebih sering melihat ke dalam atau melihat diri sendiri. Apabila seseorang dalam hidupnya sering melihat ke dalam, maka orang tersebut akan memperoleh kebahagiaan, baik kebahagiaan secara duniawi maupun spiritual, bahkan dapat membebaskan diri sendiri dari penderitaan. Dengan kata lain dapat merealisasi kebahagiaan sejati, kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbāna. 
     Sebaliknya, jika seseorang dalam menjalani hidupnya selalu memperhatikan ke luar tanpa melihat ke dalam, maka batinnya akan semakin jauh dari kebenaran. Senantiasa melakukan kejahatan serta tidak mau disalahkan karena menganggap dirinya benar sementara yang lain hina di matanya. Orang yang demikian, walaupun masih hidup dikatakan sudah mati karena tidak waspada terhadap diri sendiri serta murka dalam perbuatannya sehingga merugikan diri sendiri dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
      Orang yang memperhatikan ke dalam juga memberikan dampak positif pada lingkungan, artinya individu tersebut akan menciptakan lingkungan dalam kondisi nyaman seperti yang dialami dalam batinnya. Sepatutnya orang berdikari hendaknya melihat dirinya sendiri tanpa menghiraukan apa yang sudah dan belum dikerjakan oleh orang lain. Sebaliknya, memperhatikan dan melihat apa yang telah dan belum dikerjakan oleh diri sendiri demi kemandirian batin dalam kesehariannya. 
Mulai dari sekarang mari melihat diri sendiri ke dalam untuk menciptakan batin yang berdikari agar kebahagiaan duniawi maupun spiritual dapat direalisasi. Berdikarinya batin ditentukan serta dikondisikan oleh diri sendiri, bukan orang lain. Selain melihat ke dalam, adakalanya melihat ke luar atau lingkungan agar hidup serasi dan sejalan dengan alam yang ditempati. 

Referensi
Dhammadhiro. 2008. Paritta Suci. Jakarta: Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia.
Dhammadhiro. 2014. Pustaka Dhammapada Pāli-Indonesia. Tangerang: Saṅgha Theravāda Indonesia.
Ñanamoli, Bhikkhu dan Bhikkhu Bodhi, Indra Anggara (alih bahasa), Fernando Lie dan Gina Melissa (ed). 2013. Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya). Jakarta: DhammaCitta Press.


                                                                                                                                       Oleh: Bhikkhu Jayaseno
                                                                                                                                       Minggu, 07 April 2019
 

Dibaca : 1062 kali