x

Resep Ke Surga

Akataṁ dukkaṭaṁ seyyo, Pacchā tappati dukkaṭaṁ
Katañca sukataṁ seyyo, Yaṁ katvā nānutappati
Lebih baik tidak melakukan keburukan, daripada menyesal belakangan;
Lebih baik melakukan kebajikan, yang tiada sesal setelah melakukannya.
(Tāyana gāthā, Devatasaṁyutta, Saṁyutta Nikāya

    DOWNLOAD AUDIO

Dalam Aṅguttara Nikāya kelompok empat Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada Anāthapiṇḍika, bahwa ada empat hal yang diinginkan, dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini. Apakah empat hal itu? yaitu; “Orang berpikir: ‘Semoga kekayaan datang kepadaku dengan cara yang benar!' Inilah hal pertama di dunia yang diinginkan, dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini. “Setelah memperoleh kekayaan dengan cara yang benar, dia berpikir: ‘Semoga kemashyuran menyebar tentang diriku dan sanak-saudara serta guruku!' Inilah hal kedua yang dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini. “Setelah memperoleh kekayaan dan kemashyuran, dia berpikir: ‘Semoga aku hidup lama dan mencapai usia yang panjang!' Inilah hal ketiga yang dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini. “Setelah memperoleh kekayaan, kemashyuran dan umur panjang, dia berpikir: ‘Ketika tubuhku hancur, setelah kematian, semoga aku terlahir kembali di tempat yang baik, di alam surgawi!' Inilah hal keempat yang dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini.

Tak dipungkiri, sebagian besar manusia mengharapkan kelahiran di alam bahagia/surga setelah kematiannya, bagaimanakah caranya untuk mencapai alam bahagia/surga? Simaklah uraian berikut ini!

Di dalam Sāleyyaka Sutta, Majjhima Nikāya, Sang Buddha ditanya oleh kaum brahmana dan perumah tangga di daerah Kosala, tentang apakah sebabnya yang membuat beberapa makhluk hidup setelah meninggal dunia terlahir kembali di alam-alam rendah dan sengsara, sedangkan beberapa yang lainnya setelah meninggal dunia terlahir di alam yang menyenangkan/alam surga. Sang Buddha menjelaskan bahwa makhluk-makhluk yang terlahir di alam-alam rendah dan sengsara karena menempuh kehidupan tidak sesuai dengan Dhamma dan sebaliknya makhluk-makhluk yang terlahir di alam yang menyenangkan/ alam surga karena menempuh kehidupan sesuai dengan Dhamma. Jadi untuk mencapai alam surga maka harus hidup sesuai dengan Dhamma, hidup sesuai Dhamma berarti mengarahkan perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran ke arah yang benar. Maka milikilah empat hal berikut ini:

Saddhā (Keyakinan):
Ada empat jenis keyakinan yang terbaik. Apakah yang empat itu? Di antara semua makhluk hidup, baik yang tanpa kaki atau berkaki dua, berkaki empat atau berkaki banyak, yang berbentuk atau tanpa bentuk, yang bisa memahami, tidak bisa memahami, Sang Tathagata, Arahat, Yang Sepenuhnya Tercerahkan, dianggap yang terbaik di antara semua itu. Mereka yang memiliki keyakinan pada Buddha memiliki keyakinan pada yang terbaik; dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terbaik, hasil yang terbaik akan mereka miliki. Di antara hal-hal yang terkondisi, Jalan Mulia Berunsur Delapan dianggap yang terbaik di antara semua itu. Mereka yang memiliki keyakinan pada Jalan Mulia Berunsur Delapan memiliki keyakinan pada yang terbaik; dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terbaik, hasil yang terbaik akan mereka miliki. Di antara hal-hal yang terkondisi dan tidak terkondisi, tanpa nafsu dianggap yang terbaik dari semua itu: hancurnya segala perasaan tergila-gila, hilangnya kehausan, tercabutnya akar kemelekatan, terpotongnya lingkaran (tumimbal lahir), hancurnya nafsu keinginan, tanpa-nafsu, Nibbāna. Mereka yang memiliki keyakinan pada Dhamma yang tanpa nafsu memiliki keyakinan pada yang terbaik; dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terbaik, hasil yang terbaik akan mereka miliki. Di antara semua kelompok atau komunitas, Sangha siswa Sang Tathagata dianggap yang terbaik, yaitu, empat pasang manusia agung, delapan individu agung; Sangha siswa Yang Terberkahi pantas mendapatkan pemberian, pantas menerima keramah-tamahan, pantas menerima persembahan, pantas mendapatkan penghormatan, merupakan ladang jasa yang tak ada bandingnya bagi dunia. Mereka yang memiliki keyakinan pada Saïgha, memiliki keyakinan pada yang terbaik; dan bagi mereka yang memiliki keyakinan pada yang terbaik, hasil yang terbaik akan menjadi milik mereka.

Sīla (Kemoralan):
Memiliki sīla, menjaga perbuatan secara jasmani, ucapan dan pikiran dengan baik dan pantas, tanpa kesalahan. Seorang perumah tangga tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berperilaku seksual yang menyimpang, tidak berbicara yang tidak benar, tidak minum anggur, minuman keras dan apapun lainnya yang bersifat meracuni yang menjadi landasan kelalaian. Kemampuan untuk menahan diri dari perbutan-perbuatan yang menimbulkan kerugian pada makhluk lain, ini menumbuhkan penghormatan pada diri, harta dan hak-hak orang lain, serta menciptakan suatu masyarakat yang bersatu dan damai.

Cāga (Kedermawanan):
Melepaskan, meninggalkan, dan membagi barang-barang kepada orang-orang yang membutuhkan. Memiliki kemurahan hati, dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain, suka menolong, bergembira dalam berdana, senang beramal, pikirannya bersih dari noda kekikiran. Memberikan bagian dari apa yang dimiliki untuk meringankan penderitaan orang lain atau makhluk lain. Untuk menumbuhkan kedermawanan tentunya dengan melakukan berdana secara rutin, dalam berdana banyak sekali macamnya, ada yang berbentuk materi seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, obat-obatan dan lain-lain yang sifatnya berbentuk materi atau barang. Ada juga dana yang tidak berbentuk barang seperti ceramah-ceramah Dhamma, nesehat-nasehat untuk melakukan perbuatan baik, mencegah seseorang yang akan melakukan perbutan jahat, memaafkan kesalahan orang ini adalah termasuk dana juga. Jadi berdana bukan saja berbentuk materi atau barang, kalau kita tidak memiliki uang, kita bisa berdana berbentuk tenaga, pikiran-pikiran yang baik/ide-ide yang baik dan lain-lain.

Kemurahan hati/kedermawanan ini ada tiga tingkat yaitu:
  1. Tingkat permulaan: pemberian barang-barang yang sederhana seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan sebagainya kepada para bhikkhu, kepada orang-orang yang tidak mampu atau orang-orang yang membutuhkan.
  2. Tingkat menengah: pemberian donor darah, donor mata, donor ginjal, atau bagian-bagian tubuh yang lain yang dibutuhkan oleh orang lain.
  3. Tingkat yang paling tinggi: adalah mengorbankan diri sendiri demi keselamatan orang lain atau makhluk lain.

Paññā (Kebijaksaanan):
Memiliki kebijaksanaan, mengetahui hal-hal yang buruk dan hal-hal yang baik, apa yang benar dan apa yang salah, apa yang berguna dan apa yang tidak berguna. Hal ini dapat dikembangkan melalui tiga cara, yaitu :
  1. Sutamaya Paññā: kebijaksanaan yang diperoleh melalui mendengarkan Dhamma, membaca buku-buku, sering berdiskusi dan berhubungan dengan teman-teman yang baik dan bijaksana, bergaul dengan orang bijaksana bila kita mencontohnya maka kitapun akan menjadi bijaksana.
  2. Cintāmaya Paññā: kebijaksanaan yang diperoleh karena sering berpikir tentang segala sesuatu yang ia hadapi, dan mencari penyelesaian permasalahan melalui kekuatan daya pikirnya.
  3. Bhāvanāmaya Paññā: kebijaksanaan yang diperoleh melalui meditasi.
Inilah resep untuk mencapai alam surga, yang intinya adalah tidak melakukan hal-hal yang buruk, senantiasa melakukan hal-hal yang baik. Karena bila kita melakukan yang buruk maka akan menyesal sebagai akibatnya, bila kita melakukan yang baik maka tiada sesal yang kita dapati yakni kebahagiaan.

Dibaca : 4977 kali