x

Arakkheya Sutta

Dullabho purisājañño, na so sabbattha jāyati,
yattha so jāyatῑ dhiro, taṁ kulaṁ sukhamedhati’ti.
Sukar untuk berjumpa dengan manusia yang mempunyai kebijaksanaan agung. 
Orang seperti itu tidak akan dilahirkan di sembarang tempat. Tetapi di mana pun orang seperti itu dilahirkan, maka keluarganya akan hidup bahagia. (Dhammapada 193)

    DOWNLOAD AUDIO

     Bulan depan adalah Bulan Mei. Bulan Mei dalam agama Buddha kita sebut dengan Visākha atau Vesākha. Saat bulan Vesākha tiba, kita kembali mengenang Tiga Peristiwa Suci yang berhubungan dengan Guru Agung, Sang Buddha Gotama, yaitu Saat Kelahiran, Pencapaian Penerangan Sempurna, dan Mahaparinibbāna Sang Buddha.
    Sering kita mendengar bahwa Buddha hadir untuk memberikan kebahagiaan bagi semua makhluk, memberikan kebahagiaan bagi dunia. Demikianlah yang Beliau lakukan, sejak masih menjadi Bodhisatta, kebajikan parami dalam sepuluh tingkatan Beliau sempurnakan hingga Penerangan Sempurna dicapainya. Sejak menjadi Buddha, selama empat puluh lima tahun tiada lelah mengajarkan Dhamma.

Tiga Tugas Buddha 
Dalam Kitab Komentar disebutkan bahwa Sang Buddha memiliki tiga tugas, yaitu:
1.Lokattha cariyā: tugas yang dilakukan untuk dunia. Setiap pagi Beliau bermeditasi Mahakaruna melihat siapa yang pada hari itu memiliki potensi untuk mencapai kesucian. Setiap orang atau makhluk yang terlihat akan Beliau datangi untuk diberikan bimbingan Dhamma hingga mereka mampu merealisasi tingkatan kesucian.
2.Ñātattha cariyā: tugas yang dilakukan untuk keluarga. Tugas kepada keluarga juga memberikan bimbingan Dhamma, dalam berbagai sutta kita bisa menemukan banyak khotbah yang Beliau sampaikan untuk sanak keluarganya, sehingga mereka yang merupakan kerabatnya pun mencapai tingkat kesucian.
3.Buddhattha cariyā: tugas yang dilakukan sebagai seorang Buddha. Dalam tugasnya sebagai Buddha, Guru bagi para bhikkhu, Buddha memberikan aturan-aturan yang menunjang kemajuan batin para bhikkhu.

Hal Yang Tak Disembunyikan Tathāgata
     Dalam Arakkheya Sutta,  Kitab Suci Aṅguttara Nikāya kelompok Tujuh disebutkan bahwa Sang Buddha memiliki tujuh hal yang istimewa yaitu berupa Empat sifat yang tidak perlu disembunyikan Tathāgata dan Tiga cara di mana Sang Buddha tidak tercela. Apakah hal-hal istimewa tersebut?
Empat Hal yang tak disembunyikan Tathāgata:
1.Perilaku fisik Tathāgata murni (parisuddha kaya samacaro), Sang Tathāgata adalah seorang yang perilaku jasmaniNya murni, tidak ada perbuatan buruk melalui jasmani pada Sang Tathāgata yang perlu Beliau sembunyikan, [dengan berpikir]: ‘Agar tidak ada orang yang mengetahui hal ini sehubungan denganKu.
2.Perilaku ucapan Tathagātha murni (parisuddha vaci samacaro), Sang Tathāgata adalah seorang yang perilaku ucapanNya murni, tidak ada perbuatan buruk melalui ucapan pada Sang Tathāgata yang perlu Beliau sembunyikan, [dengan berpikir]: ‘Agar tidak ada orang yang mengetahui hal ini sehubungan denganKu.
3.Perilaku mental Tathāgata murni (parisuddha mano samacaro), Sang Tathāgata adalah seorang yang perilaku pikiranNya murni, tidak ada perbuatan buruk melalui pikiran pada Sang Tathāgata yang perlu Beliau sembunyikan, [dengan berpikir]: ‘Agar tidak ada orang yang mengetahui hal ini sehubungan denganKu.
4.Tidak ada penghidupan salah pada Tathāgata (Parisuddhajivo), Sang Tathāgata adalah seorang yang penghidupanNya murni, tidak ada penghidupan salah pada Sang Tathāgata yang perlu Beliau sembunyikan, [dengan berpikir]: ‘Agar tidak ada orang yang mengetahui hal ini sehubungan denganKu.’
Ini adalah keempat hal itu yang tidak perlu disembunyikan oleh Sang Tathāgata.

Apakah tiga hal yang karenanya Beliau tidak dapat dicela?
1.“Sang Tathāgata, para bhikkhu, adalah seorang yang Dhammanya dibabarkan dengan baik. Sehubungan dengan hal ini, Aku tidak melihat ada dasar yang karenanya seorang petapa, brahmana, deva, māra, brahmā, atau siapa pun di dunia dapat dengan logis mencelaKu: ‘Karena alasan ini dan itu, DhammaMu tidak dibabarkan dengan baik.’ Karena Aku tidak melihat dasar demikian, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa takut, dan percaya diri. 
2.“Aku telah dengan baik menyatakan kepada para siswaKu praktik yang mengarah menuju Nibbāna sedemikian, sehingga dengan mempraktikkan sesuai dengan ajaran itu [dan mencapai] hancurnya noda-noda, mereka merealisasikan untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, mereka berdiam di dalamnya. Sehubungan dengan hal ini, Aku tidak melihat ada dasar yang karenanya seorang petapa, brahmana, deva, māra, brahmā, atau siapa pun di dunia dapat dengan logis mencelaKu: ‘Karena alasan ini dan itu, Engkau tidak menyatakan dengan baik kepada para siswaMu praktik yang mengarah menuju Nibbāna sedemikian, sehingga dengan mempraktikkan sesuai dengan ajaran itu [dan mencapai] hancurnya noda-noda, mereka merealisasikan untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, mereka berdiam di dalamnya.’ Karena Aku tidak melihat dasar demikian, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa takut, dan percaya diri.
3.“KumpulanKu, para bhikkhu, terdiri dari ratusan siswa yang, dengan hancurnya noda-noda, telah merealisasikan untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, mereka berdiam di dalamnya. Sehubungan dengan hal ini, Aku tidak melihat ada dasar yang karenanya seorang petapa, brahmana, deva, māra, brahmā, atau siapa pun di dunia dapat dengan logis mencelaKu: ‘Karena alasan ini dan itu, kumpulanMu tidak terdiri dari ratusan siswa yang, dengan hancurnya noda-noda, telah merealisasikan untuk diri mereka sendiri dengan pengetahuan langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, mereka berdiam di dalamnya.’ Karena Aku tidak melihat dasar demikian, maka Aku berdiam dengan aman, tanpa takut, dan percaya diri. “Ini adalah ketiga hal itu yang karenanya Sang Tathāgata tidak dapat dicela. “Ini, para bhikkhu, keempat hal itu yang tidak perlu disembunyikan oleh Sang Tathāgata dan ketiga hal itu yang karenanya Sang Tathāgata tidak dapat dicela.”

Kesimpulan 
Marilah kita sambut datangnya Trisuci Waisak dengan belajar dan praktik Dhamma, agar kita senantiasa selalu berbahagia dalam Dhamma.

Sumber:
-Kamus Umum Buddha Dhamma, Trisattva Buddhist Center
-Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Dhammacitta Press



Dibaca : 789 kali