x

TERCENGKRAM DENGAN KEMALASAN

Yo ca vassasataṁ jīve, kusīto hīnavīriyo
ekāhaṁ jīvitaṁ seyyo, viriyaṁ ārabhato daḷhaṁ.
Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi malas dan
 tidak bersemangat, maka sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari
 dari orang yang berjuang dengan penuh semangat. 
(Dhammapada syair 112)

    DOWNLOAD AUDIO

Kemalasan merupakan salah satu musuh utama manusia dalam memulai aktivitas, baik dalam bekerja maupun dalam melakukan kebaikan. Rasa malas ini seringkali datang dengan tiba-tiba, kadang kala kegiatan ataupun aktivitas yang sudah disiapkan dengan jauh-jauh hari bisa jadi tertunda, bisa jadi tidak terlaksana karena dihalangi dengan yang namanya rasa malas, sehingga apa yang sudah diharapkan dan apa saja yang sudah dicita-citakan tidak bisa dicapai ataupun tidak bisa diperoleh.  Oleh karena itu berhati-hatilah ketika memiliki benih kemalasan ini.

Adapun ciri-ciri orang malas misalnya saja banyak alasan. Ketika disuruh untuk bekerja melakukan hal-hal yang baik, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain selalu menunda-nunda dan memiliki seribu alasan agar bisa terlepas dari pekerjaan tersebut. Misalnya terlalu panas dia tidak mau bekerja dan berbuat baik, terlalu dingin dia tidak mau bekerja dan berbuat baik, terlalu lapar dia tidak mau bekerja dan berbuat baik, terlalu kenyang dia tidak mau bekerja dan berbuat baik. Jika seseorang sering mengucapkan kata-kata tersebut ketika disuruh, ketika diminta, bagimana dia bisa menjadi orang berhasil dan menjadi orang sukses, sebab, orang yang berhasil dan orang yang sukses adalah orang yang rajin dan orang yang tidak memiliki berbagai macam alasan. Jadi, ketika menginginkan kesuksesan dan keberhasilan jangan sekali-sekali menjadi orang yang malas, jadilah orang rajin dan jangan banyak alasan, dengan demikian akan menjadi orang yang berhasil dan sukses. Dalam Sigālaka Sutta, Sang Buddha bersabda memberikan penjelasan bahwa kemalasan merupakan salah satu sebab dari keruntuhan bagi seseorang. Adapun sebab-sebab keruntuhan itu  antara lain adalah sering berkerliaran pada waktu yang salah atau di waktu yang tidak sesuai, berteman dengan orang jahat, sering berjudi,  bermabuk-mabukan, serta main perempuan (pergi ke empat hiburan). 

Dalam bekerja dan berbuat baik, ketika kemalasan muncul maka akan menjadikan gangguan, menjadi hambatan untuk meraih keberhasilan dan kesuksesan, di samping itu juga tidak mendapatkan keuntungan dan hancurnya harapannya sehingga keinginan untuk menjadi orang kaya tidak akan tercapai dan tidak bisa terwujud. Jadi jangan bermalas-malasan ketika ingin menjadi orang kaya. Kadang kala ada orang yang menginginkan sebuah kekayaan, namun tidak bersungguh-sungguh dalam mengejar apa yang diinginkan, kebanyakan disebabkan dengan kemalasan. Keinginan untuk menjadi orang kaya itu memang sangat baik sekali namun butuh perjuangan, harus bekerja keras, bertanggung jawab dan lain sebagainya. Karena memang demikian faktanya. Orang-orang kaya pada saat ini yang ada, pasti yang dulunya bekerja keras agar bisa menjadi orang kaya. Tidak semestinya kekayaan tersebut datang dengan cara tiba-tiba. Ketika orang melakukan kebaikan, jika muncul kemalasan, maka niat baiknya akan tertunda dan tidak akan mendapatkan berkah. Contohnya saja malas untuk datang ke vihāra untuk mengikuti kegiatan pujabakti, alasannya karena tidak memiliki kendaraan jadi malas untuk berjalan kaki karena memiliki tempat tinggal yang jauh dari vihāra, serta alasan-alasan lainnya. Itu sudah menandakan orang yang malas. Dalam Dhammapada syair  116 Sang Buddha bersabda sebagai berikut:
“Bergegaslah melakukan perbuatan baik, dan bersihkan batin dari kejahatan. Seseorang yang lambat melakukan perbuatan baik, batinnya akan bergembira di dalam   kejahatan.”

Oleh sebab itu, hal yang paling penting untuk mengatasi kemalasan adalah dengan meningkatkan semangat (vīriya), karena dengan mengembangkan semangat secara perlahan kemalasan tersebut akan menjadi hilang. Jangan sampai kemalasan muncul dan menguasai batin, sehingga apa yang dikerjakan dapat berhasil dan memuaskan serta menjadi berkah. Ketika ada waktu untuk berbuat baik lakukanlah perbuatan baik tersebut dengan sepenuh hati dan jangan menunda perbuatan baik tersebut selama masih ada kesempatan, dan jangan sia-siakan kehidupan yang dimiliki ini.
“Seperti dari kumpulan bunga-bunga dapat dirangkai banyak karangan bunga, demikian pula dalam suatu kelahiran seorang manusia dapat melakukan banyak perbuatan baik.” (Dhammapada syair 53)
“Apabila seseorang telah melakukan perbuatan baik, ia hendaknya mengulangi perbuatan baik tersebut. Ia merasa berbahagia dengan perbuatan baik, karena kebaikan akan membawa kebahagiaan.” (Dhammapada syair 118)

Kebaikan merupakan sumber kebahagiaan, sedangkan keburukan merupakan sumber dari penderitaan. Mari jalani hari-hari dengan kebaikan serta semangat, rajin, dan tanggung jawab agar tidak muncul kemalasan di dalam batin. Kemalasan merupakan salah satu hambatan dan rintangan menuju kesuksesan dan keberhasilan serta untuk mendapatkan berkah bisa terlewatkan, sehingga apa yang dicita-citakan tidak bisa didapatkan. Oleh sebab itu kembangkan semangat setiap saat.

Sumber:
-Dīgha Nikāya: Kitab Suci Agama Buddha, Sigālaka Sutta, Sutta ke-31 Dhammacitta press. 2009
-Dhammapada: The Buddha’s Path of Wisdom. Bahussuta Society.2013

 

Dibaca : 766 kali