x

Membangun Budaya Positif Dengan Dhamma

Pare ca na vijānaṇti, mayamettha yamāmase, ye ca tattha vijānanti, tato sammanti medhagā
Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa; tetapi mereka yang menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran (Dhp. 6).

    DOWNLOAD AUDIO

Hari Trisuci Waisak memiliki arti penting bagi umat Buddha yang tinggal di banyak negara di dunia, yaitu memperingati tiga peristiwa agung Kelahiran Siddhattha Gotama, calon Buddha pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, Kapilavatthu, Nepal, Pencerahan Sempurna Siddhattha Gotama menjadi Buddha tahun 588 SM di bawah Pohon Bodhi, Bodhgaya, India, dan Sang Buddha mangkat (parinibbāna) pada usia 80 tahun di bawah Pohon Sala kembar, pada tahun 543 SM di Kusinara, India. Tiga peristiwa agung ini terjadi di alam terbuka, seolah memberikan pesan penting untuk kita teladani, yaitu kesederhanaan, kesabaran (khanti), puas terhadap apa yang dimiliki (santuṭṭhi)), damai (santa), penuh dengan cinta kasih (mettā), dan kasih sayang (karuṇā), sehingga mampu bersahabat dengan alam.

Mencintai Kehidupan Berbudaya

Mencintai berarti menaruh kasih sayang kepada; menyukai. Budaya bisa diartikan sebagai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Berbudaya adalah mempunyai budaya; mempunyai pikiran dan akal yang sudah maju (KBBI V. 2016). Mencintai kehidupan berbudaya merupakan satu sikap mental positif dalam menaruh kasih sayang terhadap kehidupan atau cara hidup yang berakal dan memiliki pola pikir maju. Budaya di masyarakat telah ada sejak lama, terus berkembang dari masa ke masa. Di zaman modern saat ini, banyaknya budaya mudah sekali menjadi satu sebab munculnya banyak persoalan yang kerap diawali dari sulitnya menerima keragaman budaya yang ada hingga keinginan untuk menghilangkan budaya-budaya baik pihak lain, maka konflik pun terjadi. Konflik adalah percekcokan, perselisihan, pertentangan, ketegangan. Orang menjadi suka bertengkar, berselisih, memunculkan satu konflik, cekcok berkepanjangan yang bermula dari kuatnya melekati keinginan-keinginan indrianya, sehingga tidak dapat menerima perbedaan, justru hendaknya kita memandang perbedaan adalah suatu kewajaran, bukan sebagai alat untuk memicu pertengkaran dan permusuhan. Orang tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap orang lain.

Pertengkaran terjadi karena setidaknya ada dua faktor, pertama adalah adanya keterikatan yang kuat terhadap kesenangan-kesenangan indria, kedua karena keterikatan pada pandangan-pandangan. Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa, tetapi mereka yang menyadari kebenaran ini akan segera mengakhiri semua pertengkaran (Dhp. 6). Harus ada upaya untuk menghentikan pertengkaran. Dengan memancarkan pikiran cinta kasih (mettā) dimulai dari hal yang mudah dilakukan, misalnya mengucapkan semoga semua makhluk berbahagia, diulang-ulang hingga kekuatan pikiran kebencian kian lama mereda dan lenyap berganti dengan pikiran cinta kasih. Pikiran cinta kasih adalah pikiran positif yang bersifat membangun. Berbeda sekali dengan pikiran kebencian yang bersifat merusak, menghancurkan. Pikiran positif sangat perlu kita kembangkan karena dapat meredakan ketegangan, pertentangan, atau konflik, sebagai wujud tindak nyata memerangi nafsu ketamakan yang berkembang dalam batin menjadi keterikatan, kemelekatan pada kesenangan-kesenangan indria serta pandangan-pandangan keliru.

Terdapat pertanyaan yang disampaikan kepada Sang Buddha dan Beliau pun menjawab dalam Kitab Suci Sutta Nipāta, Khotbah Pendek Tentang Pertengkaran:

Pertanyaan

Masing-masing melekati pandangannya masing-masing, mereka berselisih, dan para ahli mengatakan, “Siapapun yang mengetahui ini tentang memahami Dhamma, siapapun yang menolaknya adalah tidak sempurna.” Berdebat seperti ini, mereka tidak membantah, dengan mengatakan “Lawanku adalah seorang yang dungu, dan tidak ahli” Doktrin mencari yang benar, karena mereka semua mengatakan bahwa mereka  adalah ahli?

Buddha

Jika dengan tidak menerima ajaran orang lain maka seseorang menjadi dungu dengan rendah maka, sejujurnya, semuanya adalah dungu dengan mudah, karena semuanya sesuai dengan pandangan-pandangan. Namun jika orang-orang tercuci  oleh pandangan mereka masing-masing, dengan pendapat murni, ahli, arif, maka tidak ada  di antara mereka yang memiliki kebebasan rendah, karena pandangan mereka sempurna.  Aku tidak mengatakan, “Demikianlah  hal ini”, Bagaikan orang dungu yang membantah satu sama lain. Masing-masing dari mereka yang membantah pandangan mereka adalah kebenaran, memahami mereka menentang lawan mereka sebagai dungu. Kemudian di akhir sutta Sang Buddha menjelaskan “Hanya di sini yang murni,” demikianlah ia berkata, “Tidak ada kemurnian dalam ajaran lain.” Ini adalah apa yang ditegaskan oleh para pengikut jalan lain, masing-masing membentengi jalan mereka masing-masing. Dengan tegas menyatakan jalan mereka, lawan manakah yang akan mereka anggap sebagai dungu? Mereka hanya akan menimbulkan kesulitan bagi mereka sendiri dengan menyebut lawannya sebagai dungu dengan ajaran tidak murni. Meyakini teori mereka sendiri, membandingkan  orang lain dengan diri sendiri, Mereka masuk ke dalam lebih banyak perselisihan dengan dunia. Tetapi dengan meninggalkan segala teori, Mereka tidak bermasalah dengan dunia, vinicchaye ṭhatvā sayaṃ pamāya, uddhaṃsa lokasmiṃ vivādameti; hitvāna sabbāni vinicchayāni, na medhagaṃ kubbati jantu loke’’ti (Sutta Nipāta 4.12. Cῡḷabyῡhasutta, Khotbah Pendek Tentang Pertengkaran).

Mempraktikkan ajaran benar (Dhamma) dalam hidup sehari-hari dengan membiasakan melakukan perbuatan disertai cinta kasih. Memiliki ucapan yang disertai dengan pikiran cinta kasih. Memiliki pikiran yang disertai cinta kasih. Mengikis kekikiran (macariya) dengan sering berlatih  berdana, melepas dengan rela apa yang dimiliki, yang diperoleh dengan cara yang pantas untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan, pertolongan. Memiliki moralitas yang baik, yang tidak terputus-putus, yang, tidak berlobang, yang tidak belang, yang dilaksanakan demi pengembangan samādhi (A.N. Chakkanipāta, Sārāṇīyadhamma Sutta). Memiliki pandangan benar (sammādiṭṭhi). Setelah mengetahui penyebab dari terjadinya pertengkaran, maka tiap-tiap orang perlu mengembangkan cinta kasih mettā, dan kesabaran agar pikiran kebencian dapat diredakan, dikurangi terus hingga benar-benar tanpa kebencian dalam batin supaya ketenangan dan kedamaian dapat dirasakan bersama. Dengan membudayakan, membiasakan cara hidup sederhana, tanpa pertentangan, tanpa percekcokan (avivāda) dapat diwujudkan, hidup menjadi damai dan harmoni baik dalam keluarga dan juga dalam kehidupan bermasyarakat.

Referensi
- Sutta Nipāta 4.12. Cῡḷabyῡhasutta
- Dhammapada syair 6
- A.N. Chakkanipāta, Sārāṇīyadhamma Sutta).
- Kbbi edisi ke V 2016

Dibaca : 4452 kali