x

MENGHORMAT ORANGTUA

Tāya naṁ dhammacariyāya, mātāpitūsu paṇḍitā,
Idheva naṁ pasaṁsanti, pecca sagge pamodatī ti. 
“Karena perilaku yang baik itu terhadap ibu dan ayahnya, para bijaksana memujinya 
di sini dalam kehidupan ini dan setelah kematian ia bergembira di alam surga.”
(Aṅguttara Nikāya, Catukka Nipāta, Dutiyakhata Sutta 4.4)

    DOWNLOAD AUDIO

Tertuang di dalam Maṅgala Sutta terdapat 38 berkah salah satunya adalah Garavo yang artinya rasa hormat, yang merupakan berkah apabila mampu diterapkan dalam kehidupan sosial. Rasa hormat atau menghargai di sini berarti kepada mereka yang patut dihargai dan dihormati seperti orang-orang atau obyek-obyek penghormatan seperti halnya tiga permata Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Aṅguttara Nikāya, Dutiyakhata Sutta 4.4 menyebutkan, “mātari pitari cāpi, yo sammā paṭipajjati, tathāgate vā sambuddhe, atha vā tassa sāvake, bahuñca so pasavati, puññaṁ etādiso naro” yang berarti “seorang yang berperilaku baik terhadap ibu dan ayahnya, terhadap Sang Tathāgata yang tercerahkan, atau terhadap siswa-Nya, menghasilkan banyak jasa”. Kita harus menghormat dan berperilaku baik terhadap tiga permata dan orangtua, dikarenakan Tiratana memiliki kualitas sifat luhur yang luar biasa, orangtua pun demikian memiliki kebajikan atau jasa baik yang tak terbatas. Atas alasan inilah maka kita patut memberikan penghormatan terhadap mereka.

Sifat luhur yang terdapat pada Buddha dirumuskan ada sembilan (9) sifat luhur yaitu, yang mahasuci, yang telah mencapai penerangan sempurna, sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya, sempurna menempuh jalan ke Nibbāna, pengetahu segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya, guru para dewa dan manusia, yang sadar, yang patut dimuliakan. Sembilan sifat luhur inilah yang membuat Buddha patut menerima persembahan dan penghormatan bagi umat manusia yang mempunyai keyakinan terhadap Beliau. Sifat luhur yang terdapat pada Dhamma atau ajaran Sang Buddha ada enam (6) yaitu, Dhamma telah sempurna dibabarkan oleh Sang Bhagavā, terlihat amat jelas, tak bersela waktu, mengundang untuk dibuktikan, patut diarahkan ke dalam batin, dapat dihayati oleh para bijaksana dalam batin masing-masing. Enam sifat luhur inilah yang menjadikan Dhamma ajaran Buddha patut untuk dihormati dengan laku praktik dalam kehidupan sehari-hari. Sifat luhur yang terdapat pada Saṅgha atau siswa dari Sang Buddha terdapat sembilan (9) kebajikan utama yaitu, Saṅgha siswa Sang Bhagavā telah bertindak baik, telah bertindak lurus, telah bertindak benar, telah bertindak patut, patut menerima pujaan, patut menerima tempat bernaung, patut menerima persembahan, patut menerima penghormatan, ladang menanam jasa yang tiada taranya bagi makhluk dunia.

Tiratana (tiga permata) permata Buddha, Dhamma, dan Saṅgha merupakan pedoman dalam hidup, sehingga rasa hormat yang mendalam patut kita berikan dan kembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Rasa hormat ini juga sepatutnya kita implementasikan terhadap orangtua kita, karena dengan memiliki rasa hormat atau menghormati mereka termasuk dalam mempraktikkan Dhamma ajaran dari Sang Buddha. Orangtua memiliki jasa yang tak terbalaskan terhadap anaknya, karena orangtua mempunyai kebajikan yang tak terbatas semasa hidup terhadap anaknya sehingga kita patut menghormati mereka. Orangtua bagaikan brahma salah satu makhluk yang berdiam di 31 alam kehidupan, brahma adalah mereka yang bersinar cemerlang. Makhluk brahma dikatakan cemerlang karena mempunyai empat keadaan batin luhur atau dikenal sebagai brahma vihara yaitu, Mettā (cinta kasih), Karuṇā (belas kasih), Muditā (simpati) dan Upekkhā (keseimbangan).

Bagaimana keempat sifat luhur ini dikembangkan dan dimiliki orangtua kita, orangtua terutama ibu memancarkan cinta kasih sejak kita berada dalam kandungan, ia mengharapkan keselamatan dan kesehatan anaknya. Mengharapkan agar anaknya dapat lahir dengan kondisi yang baik, tidak cacat fisik maupun mental. Ibu rela mengedepankan kesehatan anaknya, dengan menahan memakan makanan dan melakukan aktivitas yang dapat membahayakan kandungannya, sehingga banyak kesenangan-kesenangan yang harus dilewatkan ketika dalam keadaan mengandung. Hal ini dilakukan karena wujud cinta kasih yang dimiliki seseorang ibu atau orangtua kita agar anaknya selamat. Setelah lahir anak tidak bisa berbuat apa-apa, anak akan menangis apabila mendapatkan kondisi yang tidak nyaman seperti lapar, kedinginan dan keadaan yang tidak menyenangkan lainnya. Dengan melihat kondisi seperti ini, seorang ibu dengan belas kasihannya memenuhi dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan anak-anaknya agar mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan. Kemudian ketika anak mulai tumbuh, sehingga belajar berbicara, berjalan, makan, mandi mengenal lingkungan, orangtua melatihnya dengan baik dan sabar serta ketika mulai bersekolah orangtua mengantarkan ke sekolah agar anaknya mendapatkan pendidikan dengan baik sehingga akan mampu menjadi bekal kelak ketika dewasa untuk menjadikan anaknya mandiri, ini merupakan wujud simpati orangtua terhadap anak-anaknya. Ketika anak dewasa orangtua mulai mendidik dengan pengetahuan duniawi dan spiritual kemudian setelah bisa mencari nafkah, anak menjadi mandiri dan berkecukupan sehingga sukses dalam hidup. Orangtua menjadi bahagia dan tenang karena melihat anaknya sudah berhasil, saat kondisi seperti ini sebenarnya orangtua mengembangkan keadaan keseimbangan batin.

Orangtua bagaikan brahma dan juga dikatakan sebagai guru utama bagi anak-anaknya, guru utama (pubbacariyā). Tepat jika dikatakan orangtua adalah guru pertama atau utama bagi anaknya, karena sebelum anak-anak belajar formal di sekolah orangtua sudah melatih dan mengajarkan anaknya berbicara, berjalan, berinteraksi dengan orang lain, memilih teman baik dan menghindari teman yang buruk, mendidik anaknya agar tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat sehingga anak mempunyai sopan santun bertutur kata baik, bertindak baik serta mampu menghormati kepada orang yang lebih tua, menghargai orang yang lebih muda dan memiliki sikap toleran terhadap teman sejawatnya. Inilah bukti-bukti pendidikan yang diberikan oleh orangtua, selain itu ketika beranjak dewasa anak-anak dikirim untuk belajar formal di sekolah-sekolah demi mendapatkan pendidikan yang baik, diantar ke vihara-vihara untuk mengikuti kelas Dhamma agar memiliki pengetahuan spiritual guna untuk mendapatkan kesehatan batin. Semua ini merupakan alasan orangtua dikatakan sebagai pubbacariyā.

Kedua alasan yaitu, orangtua bagaikan brahma dan merupakan guru pertama bagi anak-anaknya cukup untuk kita sebagai anak, sudah sepatutnya mempunyai sikap hormat terhadap orangtua kita serta patut membalas jasa terhadap mereka ibu dan ayah. Sigalovada Sutta diuraikan mengenai 5 macam kewajiban anak kepada orangtuanya, yaitu: (1) Merawat dan menunjang kehidupan orangtuanya terutama di hari tua mereka, (2) Membantu menyelesaikan urusan-urusan orangtuanya, (3) Menjaga nama baik dan kehormatan keluarganya, (4) Mempertahankan kekayaan keluarga, tidak menghambur-hamburkan harta orangtua dengan sia-sia, (5) Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orangtuanya yang telah meninggal dunia dengan cara melakukan pattidana. Itulah kewajiban yang seharusnya dilakukan oleh anak kepada orangtuanya. Anak-anak seharusnya berbakti kepada orangtua ketika masih hidup, karena itu akan lebih besar manfaatnya jika dibandingkan setelah orangtua sudah meninggal dunia. 

Dhammapada, Nāga-Vagga syair 332 menyebutkan, “sukhā matteyyatā loke, atho petteyyathā sukhā, sukhā sāmaññatā loke, atho brahmaññatā sukhā” yang mempunyai arti “berlaku baik terhadap ibu merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini, berlaku baik terhadap ayah juga merupakan kebahagiaan, berlaku baik terhadap petapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini, berlaku baik terhadap para Arya juga merupakan kebahagiaan”. Sangat tepat jika kita mampu berlaku baik, memiliki rasa hormat terhadap orang yang patut kita hormati seperti Tiga Permata, orangtua, guru-guru atau kerabat yang lebih tua, maka akan memperoleh empat hadiah yang sangat berharga yaitu, āyu (panjang usia), vaṇṇo (paras yang rupawan), sukha (kebahagiaan), dan bala (kekuatan). 

Referensi:
- Vijano, Win.2013. Kitab Suci Dhammapada. Singkawang Selatan: Bahussuta Society.
- Dr. Sunanda, Sayādaw. 2018. Tanya Jawab Dhamma bersama Sayādaw Dr. Sunanda. Jakarta Barat: Yayasan Satipaṭṭhāna Indonesia.
- Dhammadhīro, Bhikkhu. 2005. Paritta Suci. Jakarta Utara: Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia.
- https://legacy.suttacentral.net/id/an4.4 diakses 22 Mei 2019.
- https://legacy.suttacentral.net/id/snp2.4 diakses 22 Mei 2019.
- https://legacy.suttacentral.net/id/dn31 diakses 23 Mei 2019.

Dibaca : 5602 kali