x

Manusia Paling Beruntung

Kicco Manussapaṭilābho, Kicchaṁ Maccāna Jīvitaṁ, 
Kicchaṁ Saddhammassavanaṁ, Kiccho Buddhānamuppādo
“Sungguh sulit untuk dapat dilahirkan sebagai manusia,  
sungguh sulit kehidupan manusia, 
sungguh sulit untuk dapat mendengarkan Ajaran Benar,
begitupula,sungguh sulit munculnya seorang Buddha”.

(Dp.Buddha Vagga, 182)

    DOWNLOAD AUDIO

Terlahir menjadi manusia merupakan suatu keberuntungan bagi setiap orang. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang memiliki akal dan pikiran. Berbeda halnya dengan binatang, tidak mempunyai akal dan pikiran. Dengan memiliki akal dan pikiran, manusia mampu melakukan suatu tindakan. Tindakan tersebut bisa saja tindakan baik dan tindakan buruk. Semua itu tergantung apa yang hendak dilakukan, baik atau buruk itu tergantung diri pribadi masing-masing.

Secara etimologi, manusia atau manussa berasal dari kata “mano” dan “usa”. Mano yang berarti pikiran atau batin, sedangkan usa yang berarti luhur, agung, mulia. Jadi secara harfiah manusia atau manussa adalah makhluk yang memiliki pikiran atau batin yang luhur, agung, dan mulia. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya manusia masih bisa menentukan mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Sebagai umat Buddha kita memahami bahwa kehidupan tidak hanya satu kali. Sang Buddha menyatakan bahwa kehidupan kita tidak hanya pada kehidupan saat ini saja, melainkan juga kehidupan pada masa lampau. Hal ini sesuai apa yang Buddha sampaikan ketika baru saja mencapai pencerahan “Anekajāti saṁsaraṁ, sandhāvissaṁ anibbisaṁ, Gahakāraṁ gavesanto, dukkhā jāti punappunaṁ”. “Melalui banyak kelahiran aku lalui, untuk mencari, namun tidak Ku-temukan si pembuat rumah ini. Sungguh menyedihkan terlahir berulang kali”. 

Jika kita bisa memahami dan merenungkan, terlahir menjadi manusia adalah hal yang paling beruntung. Dengan terlahir sebagai manusia, kita dapat melakukan kebajikan sebanyak mungkin. Akan tetapi, masih saja di antara kita sering melakukan tindakan keburukan. Kita cenderung lebih berbakat berbuat kejahatan daripada kebajikan, sehingga dengan perbuatan jahat tersebut akan membawa kita terlahir di alam menderita.

Apa yang Buddha ajarkan kepada kita adalah bagaimana cara kita mensyukuri dalam menjalani kehidupan sebagai manusia. Oleh karena itu, seperti yang tertulis dalam Dhammapada Buddha Vagga 182, ada 4 hal yang harus kita renungkan, kita pahami, kita syukuri ketika kita terlahir menjadi manusia. Apakah keempat itu?
1.Sungguh sulit terlahir menjadi manusia (Kicco Manussapaṭilābho)
Terlahir menjadi manusia adalah hal yang paling menguntungkan. Sang Buddha menyatakan di dalam Saṁyutta Nikāya IV bahwa sulit terlahir menjadi manusia ibarat seperti tanah yang ada di kuku Sang Buddha lebih sedikit dibandingkan dengan tanah yang ada di bumi. Begitu pula seseorang yang terlahir menjadi manusia sangat sedikit jika dibandingkan dengan makhluk lain. Hal ini jelas bahwa makhluk yang ada di 31 alam kehidupan sangat banyak dan beragam. Kategorinya pun terbagi men-jadi dua alam yaitu alam menderita dan alam bahagia. Makhluk yang terlahir di alam menderita meliputi alam binatang, peta, asura, dan neraka, dan makhluk yang terlahir di alam bahagia seperti alam dewa dan alam brahma. Sedangkan alam manusia adalah alam di mana terdapat dua kemungkinan yaitu alam bahagia dan alam menderita.
Seseorang yang hendak terlahir menjadi manusia tidaklah gampang. Ia harus gemar mempraktikkan Dhamma. Ia harus banyak melakukan kebajikan (pāramī). Walaupun seseorang terlahir menjadi manusia, ia juga harus sehat fisik maupun mental. Mengapa demikian? Karena jika seseorang sehat fisik dan sehat mental maka mampu melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya. Berbeda halnya jika seseorang terlahir menjadi manusia kemudian cacat mental dan cacat fisik, maka sangat kecil bisa melakukan kebajikan. Contohnya orang cacat fisik seperti tidak punya kaki atau tangan sangat sulit melakukan kebajikan, sulit melakukan aktivitas seperti bekerja mencari materi dan sebagainya. Kemudian orang yang cacat mental juga sangat sulit, contohnya orang stres atau gila. Jadi, terlahir menjadi manusia sangatlah sulit, ia harus banyak melakukan timbunan kebajikan dan mempraktikkan Dhamma.
2.Sungguh sulit kehidupan manusia (Kicchaṁ Maccāna Jīvitaṁ)
Berbagai macam masalah dalam kehidupan ini membuat seseorang diliputi oleh gejolak batin. Mereka yang terlahir menjadi manusia harus bertahan hidup dengan diliputi oleh tuntutan hidup yang tidak berkesudahan. Mereka setiap hari harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerja dari pagi hingga malam hari adalah salah satu bentuk kebiasaan yang lumrah. Mereka selalu mencari dan terus mencari demi terpenuhi kehidupannya. Mereka bersaing berkompetisi dalam mempertahankan hidup. Dari persaingan tersebut terkadang gagal terkadang bisa bertahan. Hanya demi itulah manusia harus berjuang mempertahankan hidup.
Dalam mempertahankan hidup, seseorang terkadang dibutakan oleh keserakahan. Keserakahan tersebut terus menyelimuti, mengotori batin sehingga muncul ketidakpuasan dan akan menimbulkan penderitaan. Perasaan-perasaan yang muncul tidak senang selalu menyelimutinya. Manusia bertahan dengan mencari kebutuhan hidup seperti rumah, makanan, minuman, pakaian, dan lain-lain. Sementara itu makhluk yang terlahir menjadi binatang banyak mengalami kesulitan. Mereka hidup dengan melakukan persaingan pula. Siapa yang kuat maka ia akan bertahan. Kemudian di sisi lain, makhluk yang terlahir di alam peta sangatlah menyedihkan. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sangatlah sulit, ia makan dari kotoran, dari nanah, ingus, bahkan tidak bisa makan dan minum. Jadi, kehidupan semua makhluk hidup sangatlah sulit. Kehidupan manusia pun juga sulit. Oleh karena itu, dengan memahami kesulitan terlahir menjadi makhluk hidup termasuk manusia hendaknya kita jangan lengah. Kita harus berjuang dalam melakukan kebajikan dan berjuang supaya bisa memutuskan rantai kelahiran. Dengan demikian maka tidak akan ada kesulitan bagi siapapun tanpa terkecuali.
3.Sungguh sulit dapat mendengarkan Dhamma (Kicchaṁ Saddhammassavanaṁ)
Dari berbagai kehidupan dapat mendengarkan Dhamma adalah hal yang sangat langka dan sulit. Dari ribuan bahkan jutaan manusia hanya sedikit yang bisa mengenal Dhamma. Seseorang yang hidup saat ini dapat mendengarkan Dhamma adalah orang-orang pilihan. Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada kita adalah bagaimana cara kita agar hidup bahagia tanpa membenci. Tidak sampai di situ, sang Buddha juga menunjukkan jalan bagi siapapun yang mau praktik Dhamma supaya bebas dari segala penderitaan, bebas dari pengotor batin, dan bebas dari lingkaran saṁsara. Jadi kita sangat beruntung bisa mengenal Dhamma, bisa mendengarkan Dhamma. Kita adalah orang-orang pilihan, diibaratkan seperti banyak tumpukan pasir hanya sedikit kemungkinan muncul berlian di antara tumpukan pasir tersebut.
4.Sungguh sulit munculnya seorang Buddha (Kiccho Buddhānamuppādo)
Di dalam Aṅguttara Nikāya 2:135, terlahir menjadi seorang Buddha adalah hal yang sangat sulit dan langka. Seseorang yang ingin menjadi Buddha haruslah memenuhi pāramī yang banyak. Selain itu, untuk menjadi Buddha juga harus melalui banyak kelahiran yang tak terhingga. Dengan demikian pencapaian kebuddhaan bisa tercapai dan bisa terwujud.

Kesimpulan:
Terlahir menjadi manusia adalah kesempatan yang paling beruntung. Dengan terlahir menjadi manusia kita bisa banyak melakukan kebajikan. Tidak hanya itu, dengan terlahir menjadi manusia kita mampu untuk mempraktikkan Dhamma dan mampu memutus rantai kelahiran kembali. Dengan memahami sulit terlahir menjadi manusia, sulit kehidupan manusia, sulit mendengarkan Dhamma, dan sulit munculnya seorang Buddha, kita harus mensyukuri kehidupan saat ini bisa terlahir menjadi manusia dan mengenal Buddha Dhamma. Oleh karena itu, kita patut disebut manusia yang paling ber-untung di antara manusia yang lainnya.

Referensi:
Kitab Suci Dhammapada (The Buddha’s Path of Wisdom). Singkawang: Bahussuta Society.
Pālivacana Pencerahan Sempurna. Batu: Padepokan Dhammadīpa Ārama
Saṁyutta Nikāya IV, Dhammacitta Press
Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, Dhammacitta Press

Dibaca : 5694 kali