x

Berkomunikasi Di Media Sosial Melalui Usaha Benar

Bālasaṅgatacārī hi, dīghamaddhāna socati
Dukkho bālehi saṁvāso, amitteneva sabbadā
Dhiro ca sukhasaṁvaso, ñātīnaṁva samāgamo’ti
Seseorang yang sering bergaul dengan orang dungu pasti mendatangkan kesedihan 
dalam waktu lama. Karena bergaul dengan orang dungu merupakan penderitaan seperti tinggal bersama musuh. Tetapi, siapa yang tinggal bersama orang bijaksana akan berbahagia, 
sama seperti sanak keluarga yang kumpul bersama.
(Sukhavaggo Bab XV, Syair Dhammapada 207)

    DOWNLOAD AUDIO

Setiap momen atau keseharian di masyarakat, semua manusia membutuhkan satu hubungan timbal balik yang dikatakan sebagai komunikasi. Baik dari berinteraksi atau berbicara secara langsung, melalui telepon, menulis surat, bahasa isyarat ataupun berkomunikasi dalam bentuk lainnya. Secara harfiah, komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communicatio yang berarti “pemberitahuan atau pertukaran”. Kata sifat communis, yang bermakna umum atau bersama.

Komunikasi secara umum diartikan suatu proses penyampaian informasi berupa pesan, ide, maupun gagasan dari satu pihak kepada pihak lainnya. Umumnya komunikasi dapat dilakukan secara lisan maupun verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak terdapat bahasa verbal, dapat menggunakan bahasa isyarat seperti tersenyum, gesture tubuh, menggelengkan kepala, dan lain-lainnya. 

Berdasarkan pengertian tersebut, satu pendapat yang sangat menarik dari Ahli Komunikator bernama Raymond S. Ross mengatakan, “Komunikasi merupakan suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan dimaksudkan sebagai komunikator”. 

Secara pengertian, dapat disimpulkan setiap manusia berkomunikasi bertujuan supaya orang lain bisa memahami individu lainnya dengan kemampuan mendengarkan suatu hal yang sedang dibicarakan orang lain ataupun diterima orang lain sebagai cara agar sebuah gagasan mudah diterima orang lain (pendekatan persuasif).

Bagaimanakah hasil riset pengguna berinteraksi ataupun berkomunikasi di media sosial Indonesia? Berdasarkan hasil riset pengguna media sosial di Indonesia, hasil riset yang diterbitkan 31 Januari 2019 memiliki durasi penelitian dari Januari 2018 hingga Januari 2019. Terjadi peningkatan 20 juta pengguna media sosial di Indonesia dibanding tahun lalu. Peningkatan serta pengaruh perangkat mobile seperti smartphone atau telepon pintar dan tablet terjadi peningkatan sekitar 48 persen dari jumlah perangkat favorite yang digunakan oleh 130 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia.

Jika ditelusuri lebih meluas, hampir seluruh pengguna media sosial di Indonesia menggunakan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp atau Line. Generasi Milenial seperti dilansir Info Komputer, yang umumnya disebut generasi Y serta generasi Z mendominasi penggunaan media sosial. Penggunaan media sosial di Indonesia paling banyak berada pada rentang usia 18-34 tahun. Pengguna Pria lebih mendominasi, di mana pada rentang usia 18-24 tahun, jumlahnya mencapai 18 persen, lebih unggul dari pengguna wanita dengan persentase 15 persen. Sementara pada rentang usia 25-34 tahun, persentase pengguna pria 19 persen, lebih besar dibanding pengguna wanita yang 14 persen.

Sebagai Penetrasi pengguna aplikasi pesan instan sebesar 100 persen, sementara aplikasi media sosial berkontribusi engagement mencapai 92 persen. Sementara orang-orang Indonesia banyak menghabiskan waktu 3 jam 26 menit untuk menggunakan media sosial dengan segala tujuan. Angka tersebut meningkat tiga menit dari tahun lalu, sebanyak 37 persen pengguna internet memanfaatkan media sosial untuk bekerja. Rata-rata setiap satu pengguna internet di Indonesia memiliki setidaknya 11 akun berbagai media sosial.

Dari hasil riset penelitian tersebut, sebagai manusia tentu kita harus mempunyai usaha benar untuk tetap menjalin komunikasi ataupun berinteraksi yang baik dan benar. Berbagai cara yang telah Sang Buddha katakan dalam Vibhaṅga Sutta, 

“Usaha benar dapat dilakukan dengan memunculkan keinginan untuk tidak memunculkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang belum muncul. Seseorang berusaha membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ia memunculkan keinginan untuk meninggalkan kondisi-kondisi tidak bermanfaat yang telah muncul. Ia memunculkan keinginan untuk memunculkan kondisi-kondisi bermanfaat yang belum muncul. Ia memunculkan keinginan untuk mempertahankan kondisi-kondisi bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidakmundurannya, untuk meningkatkan, untuk memperluasnya, dan memenuhinya melalui pengembangan. Ia berusaha membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut usaha benar.” (SN V: 1653-1654 atau SN 45:8 Vibhaṅga Sutta). 

Makna dari “Kondisi-kondisi tidak bermanfaat” ucapan Buddha merujuk pada kondisi batin yang tidak bajik, batinnya yang tidak bermanfaat, batin yang tidak membawa pada pengertian benar. Ada dua hal penting dalam menjaga usaha benar saat berkomunikasi di media sosial. Pertama, berkaitan dengan keadaan yang tidak bajik saat berkomunikasi, ada usaha untuk mencegah dan meninggalkannya. Selanjutnya, berkaitan dengan keadaan yang bajik, ada usaha untuk membangkitkan dan memelihara satu komunikasi yang baik sehingga saling mencapai satu kesepakatan ataupun solusi yang memberikan kesempurnaan dari para pendengarnya.

Dengan adanya komunikasi dalam praktis kehidupan sehari-hari, dalam Mahācattarisaka Sutta, Sang Buddha berkata:
 “Setiap orang berusaha untuk meninggalkan pandangan salah dan memasuki pandangan benar. Ini adalah usaha benar seseorang. (MN 117.15)
“Seseorang berusaha untuk meninggalkan kehendak salah dan memasuki kehendak (Pikiran) benar  Ini adalah usaha benar seseorang. (MN 117.15)
“Seseorang berusaha untuk meninggalkan ucapan salah dan memasuki ucapan benar. Ini adalah usaha benar seseorang. (MN 117.21)
“Seseorang berusaha untuk meninggalkan perbuatan salah dan memasuki perbuatan benar. Ini adalah usaha benar seseorang. (MN 117. 27)
“Seseorang berusaha untuk meninggalkan penghidupan salah dan memasuki penghidupan benar. Ini adalah usaha benar seseorang. (MN 117. 33)

Secara hubungan (korelasi) antara komunikasi dengan usaha benar saat berinteraksi bagaikan energi mengembangkan jalan mulia beruas delapan. Atau, ibarat bensin yang dibutuhkan mobil agar dapat berjalan. Maka dari itu, melatih ataupun mengaplikasikan kondisi berusaha benar harus didukung dari Pandangan Benar dan Pikiran Benar. Mengembangkan kedua unsur ini, jika tidak adanya kehati-hatian, akan salah jalan. Upaya yang tidak tepat akan membawa keseharian berkomunikasi yang tidak bermanfaat, kesia-siaan bahkan penderitaan.

Sebagai kesimpulan, cara berkomunikasi yang benar melalui usaha bajik apabila kita sebagai umat Buddha mengingat pesan Sang Buddha sebagai berikut: “Ketika ia menyadari suatu bentuk dengan mata, suatu suara dengan telinga, suatu bau dengan hidung, suatu rasa dengan lidah, suatu kesan dengan tubuh, atau suatu objek dengan pikiran, ia mempersepsikan tidak berdasarkan tanda atau detailnya. Sehingga, ia akan berjuang untuk menghindarinya, yang mana dari keadaan-keadaan jahat dan tidak bajik, ketidakpuasan akan persepsi, kemarahan atau amarah, serta kesedihan karena kesalahan sikap akan muncul karena indera yang tidak terjaga, sehingga ia akan mengawasi serta mengendalikan indera-inderanya.” 

Sebagai penutup, Jan Koum pendiri WhatsApp mengatakan “Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita, itulah yang menjadikan kita Manusia. Seringkali, orang mulai dengan banyak ide bagus, tetapi kemudian mereka tidak bisa mengeksekusi. Sehingga, mereka kehilangan kemurnian visi mereka dan anda akan berputar-putar.” Maka dari itu marilah kita sebagai umat Buddha yang baik, aplikasikanlah kemurnian ide serta keterampilan anda dalam berkomunikasi yang benar di media sosial.

Dibaca : 7843 kali