x

Tema: Eat & Eat Judul: Jurus Jitu Memerangi Lobha Terhadap Makanan Membawa Kedamaian

“Middhī yadā hoti mahagghaso ca, niddāyitā samparivattasāyī,
mahāvarāhova nivāpapuṭṭho, punappunaṁ gabbhamupeti mando”
Jika seseorang menjadi malas, serakah, rakus akan makanan dan suka merebahkan diri, 
sama seperti babi hutan yang berguling-guling ke sana kemari, orang yang bodoh ini akan 
terus-menerus dilahirkan. (Dhammapada, Nāga Vagga (XXIII, 325)

    DOWNLOAD AUDIO

Kisah Raja ‘Si Penggemar Makan’ dari Kosala
      Dalam Doṇapaka Sutta, Saṁyutta Nikāya (III, 13), mengisahkan Raja Pasenadi Kosala yang memiliki nafsu makan sangat tidak wajar (seporsi nasi dan kari), setiap bertemu Sang Buddha dan mendengarkan Dhamma, Raja tertidur karena terlalu kenyang. Ketika berdiam di Sāvatthī, Sang Buddha kemudian mem-berikan sebuah khotbah singkat kepada Raja, “Ketika seseorang senantiasa penuh perhatian, mengetahui kecukupan makanan yang ia makan, penyakitnya berkurang; ia menua dengan lambat, menjaga kehidupannya.”. Karena Raja masih dengan kebiasaan tidurnya dan tidak bisa mengingat khotbah Sang Buddha, Raja memerintahkan brahmana muda Sudassana untuk mengingatkannya ketika sedang makan seporsi nasi dan kari. Sebagai imbalannya Raja akan menghadiahi seratus kahāpaṇa setiap hari terus-menerus (kahāpaṇa adalah unit mata uang standar pada masa itu. Baca Life in North-Eastern India oleh Singh, pp. 255-57). Setelah Sudassana mengulang apa yang disabdakan Sang Buddha, Raja mengurangi terus-menerus porsi makannya hingga se mangkuk kecil nasi saja.

Dampak makan berlebihan atau tidak wajar
       Dari cerita Raja Pasenadi Kosala, seseorang bisa mengetahui betapa berbahayanya makan dengan taraf tidak wajar atau berlebihan. Dalam Saṁyutta Nikāya (I, 30), dikatakan “Kantuk, kelesuan, kemalasan, tidak puas, ketumpulan setelah makan; karena hal ini, di antara makhluk-makhluk, jalan mulia tidak muncul.”. Secara biologis, apabila seseorang makan tidak wajar atau terlalu banyak ketika pagi atau sebelum siang hari, tubuh sibuk mencerna makanan. Karena tubuh terlalu sibuk mencerna makanan, darah yang mengalir ke otak menjadi lambat sehingga fisik terasa tidak bergairah dan mengantuk. Ketika nafsu berupa kesenangan dan keinginan terhadap makanan muncul dan berkembang, maka ada penurunan batin dan jasmani. Tidak hanya sampai pada tahap penurunan batin dan jasmani yang tertuang dalam Atthi Raga Sutta (SN, 12.64), hal tersebut berdampak terus terhadap kesedihan, penderitaan mendalam, dan keputusasaan.
     Berkaitan dengan pembahasan awal mengenai kesalahan makanan yang berlebihan, keserakahan atau lobha menjadi penyebab utama daripada sumber penyakit (Mon, 2014:442). Untuk menghambat atau mencegah timbulnya penyakit, seseorang harus mengurangi keserakahan atau lobha terhadap makanan sedikit demi sedikit. Tentunya bukan berarti seseorang harus mengurangi hingga tidak ada nafsu ter-hadap makanan, namun hanya mengurangi hingga pada tahap yang wajar dan tidak berlebihan.

Tiga jurus ‘Buddhis’ jitu atasi lobha terhadap makanan
      Karena dampak daripada makan yang tidak wajar atau berlebihan sangat mengerikan, terdapat tiga jurus jitu untuk mengatasi keserakahan atau lobha terhadap makanan menurut Metode Buddhis, yaitu:
1.Taṅkhaṇikapaccavekkhaṇa (Perenungan terhadap tujuan mengkonsumsi makanan)
Setiap sebelum makan, para Bhikkhu, Sāmanera, dan Atthasilani membaca perenungan makan, biasanya dilakukan sambil menatap makanan sebagai bahan perenungannya.
“Paṭisaṅkhā yoniso piṇḍapātaṁ
paṭisevāmi. Neva davāya na madāya na 
maṇdanāya na vibhūsanāya. Yāvadeva 
imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya 
vihiṁsuparatiyā brahmacariyānuggahāya. 
Iti purāṇañca vedanaṁ pațihaṅkhāmi 
navañca vedanaṁ na uppādessāmi.
Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca
phāsuvihāro cāti.”
“Saya, setelah merenung dengan saksama, menyantap makanan, sesungguhnya, bersantap bukan untuk bermain, bukan untuk bermabukan, bukan untuk berdandan, bukan untuk berhias, sekadar untuk beradanya dan berlangsungnya tubuh ini; untuk menghindari gangguan; demi menunjang pelaksanaan hidup luhur; dengan berpikiran, ‘Aku akan menghilangkan perasaan (sakit) yang lampau dan akan tidak menyebabkan timbulnya perasaan (sakit) yang baru.’. Dengan demikian, kelangsungan hidup, ketidaktercelaan, dan kehidupan nyaman akan dapat kuperoleh.” 
(Taṅkhaṇikapaccavekkhaṇa pāțha 
bait kedua)
      Sangatlah jelas, tujuan makan yang sesungguhnya hanya sebagai obat untuk mempertahankan tubuh (Khantipalo, 2008:12). Ini merupakan hal yang baik dilakukan sebelum makan, untuk mengingatkan seseorang apa tujuan makan yang sesungguhnya. Dengan memahami tujuan sebenarnya, rasa keinginan yang berlebihan terhadap makanan dapat berkurang, atau makan sewajarnya dalam taraf normal (tidak berlebihan dan kekurangan). Sesungguhnya hal ini tidak hanya untuk para Pabbajitā saja, para perumah tangga juga bisa mempraktikkannya. Tentunya, makan dengan taraf normal atau sewajarnya tidak membuat fisik terbebani (overload). Menurut penelitian di Jepang, para ilmuwan di Osaka University mengungkapkan bahwa kebiasaan tidak mengisi perut di pagi hari bisa meningkatkan risiko stroke sebesar 30% (Pramudiarja dalam Detikhealth.com 23/02/2016, 10:39 WIB).
Signifikansi lainnya bagi tubuh tertuliskan dalam suatu Majalah Buddhis Dhammayana, memuat beberapa hal mengenai jadwal kinerja tubuh, antara lain:
a.Lambung bekerja ketika pukul 07.00-09.00. Pada waktu ini, seseorang seharusnya sarapan secukupnya. Karena sarapan yang berlebihan dapat memberatkan kerja jantung
b.Limpa bekerja ketika pukul 09.00-11.00.
      Pada waktu ini, fungsi limpa yang lemah ditandai melalui kantuk yang melanda. Untuk mengatasinya, seseorang harus melakukan beberapa aktivitas yang cukup membutuhkan energi untuk memperlancar kinerja tubuh.
     Sesungguhnya, makan dengan tidak wajar dan tidak teratur bukan hanya menyebabkan stroke, berbagai penyakit akan timbul misalnya kolestrol, diabetes, dan penyakit jantung koroner (Prodia, 2012: 16-21). Hal tersebut tentu saja bisa diminimalisir peluang dampaknya, di mana Nirmala (2015) dalam Uttamo (2007: 144) menyarankan agar seseorang sepatutnya makan dengan jalan tengah (middle way) yaitu dengan makan tidak berlebihan maupun tidak kekurangan. Di samping itu, metode ini dapat membantu seseorang mengurangi keserakahan atau lobha terhadap makanan yang tidak wajar (Prodia, 2012: 56).
2.Āhāre Paṭikūla Saññā (Perenungan terhadap makanan yang menjijikkan)
     Perenungan terhadap makanan yang menjijikkan merupakan salah satu dari empat puluh objek meditasi ketenangan batin (Samatha Bhavana) (Mon, 2014: 441). Metode ini sangat relevan dipraktikkan bagi siapa pun untuk mengurangi rasa keserakahan atau lobha terhadap makan. Makanan yang awalnya indah diproses sedemikian rupa oleh organ tubuh secara alami menjadi tidak indah. Mon (2014: 441) menekankan untuk memperhatikan segala aktivitas dan suasana yang terjadi ketika makanan berada di dalam rongga mulut, bagaimana mengunyah, air liur, enzim, lendir, dan enzim pencernaan memproses makanan hingga masuk ke tubuh. Tidak berhenti sampai di tahap tersebut, ketika makanan masuk melalui satu lubang yaitu mulut, semua organ yang ada di dalam perut memprosesnya sedemikian kompleks hingga keluar melalui ‘Sembilan Lubang’ yang ada pada tubuh kita, yaitu mata, hidung, telinga, mulut, kemaluan, anus bahkan keringat dari pori-pori kulit (Khantipalo, 2008:12), Tentunya, hal ini sangat tidak menyenangkan. Bhante Khantipalo menambahkan bahwa dengan memahami proses pencernaan makanan dalam tubuh yang begitu menjijikkan dan tidak memuaskan, membuat seseorang cenderung jenuh terhadap makan yang berlebihan, serta mengurangi keserakahan. Dengan kejenuhan itu, seseorang akan mengurangi sedikit demi sedikit makanan yang akan dikonsumsinya, sehingga pada suatu ketika taraf makanan yang dikonsumsinya dalam batasan normal.
3.Catu Dhātu Vavatthāna (Analisis empat unsur pokok dalam makanan
     Mon (2014: 442) memberikan uraian metode ini sebagai pengurang nafsu keserakahan (lobha) terhadap makanan yang berlebihan. Dalam uraian awalnya disebutkan bahwa dalam makanan terdapat empat unsur materi yang pokok, yaitu:
a.Pathavī-dhātu (unsur tanah atau unsur padat), ialah segala sesuatu yang bersifat keras atau padat.
b.Āpo-dhātu (unsur air atau unsur cair), ialah segala sesuatu yang bersifat berhubungan yang satu dengan yang lain atau melekat.
c.Tejo-dhātu (unsur api atau unsur panas) ialah segala sesuatu yang bersifat panas dan dingin.
d.Vāyo-dhātu (unsur angin atau unsur gerak) ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak.
      Meskipun ini merupakan objek meditasi, metode ini tetap bisa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika memakan nasi, beserta sayur berkuah dan dilanjutkan dengan makan es krim, seseorang bisa merenungkan perubahan yang terjadi pada makanan tersebut. Dengan merenungkan secara mendalam, seseorang dapat memahami bahwa nasi hanyalah unsur padat yang berubah terus-menerus menjadi semakin halus, dan sayur berkuah juga demikian hanya merupakan unsur padatan dari sayur dan unsur cair dari kuah tersebut. Begitu juga dengan es krim, perhatian yang mendalam membuat seseorang merasakan es krim dingin dan padat di awal, kemudian dingin tersebut memudar dan menjadi cair, tidak bertahan lama (Uttamo, 2007: 80).
Apabila seseorang mau memperhatikan dan merenungkan lebih jelas dan mendalam tentang unsur-unsur dalam makan, pemahamannya akan segera mengerti bahwa hanya ada empat unsur pokok dalam makanan. Dengan seseorang memahami hal ini, kejenuhan terhadap makan berlebihan akan muncul karena sifatnya yang tidak memuaskan, di mana rasa enak yang dirasakan di awal tidak sama ketika makanan masuk ke tubuh.
      Tiga metode ini membuat keserakahan menjadi lebih berkurang terhadap makanan dan seseorang bisa mendapatkan kenyamanan fisik dan kedamaian batin setelah mempraktikkannya.

KESIMPULAN
     Makan merupakan salah satu kebutuhan semua makhluk untuk mempertahankan kehidupannya. Makan yang disertai keserakahan atau lobha membuat pola makan menjadi tidak wajar dan berlebihan. Makan yang berlebihan membuat kinerja tubuh menjadi tidak stabil atau lemah (mengantuk) serta dapat me-nimbulkan berbagai macam penyakit. Mengetahui bahayanya makan dengan keserakahan, terdapat tiga jurus untuk mengatasi keserakahan, yaitu dengan Perenungan terhadap tujuan mengkonsumsi makanan (Taṅkhaṇikapacca-vekkhaṇa), Perenungan terhadap makanan yang menjijikkan (Āhāre Paṭikūla Saññā), Analisis empat unsur pokok dalam makanan (Catu Dhātu vavatthāna). Dengan mempraktikkan ketiga metode ini, keserakahan terhadap makanan akan menjadi berkurang dan terus berkurang hingga taraf normal. Oleh karena itu, seseorang dapat merasakan kedamaian dari makan dengan kuantitas dan jenis makanan yang wajar.

SARAN
      Seseorang sudah seharusnya menaklukkan keserakahannya dengan tiga Metode Buddhis ini, agar dampak buruk dapat terminimalisir pada fisik (rūpa) dan batinnya (nāma) akibat keserakahan.





Oleh: Bhikkhu Abhiseno
Minggu, 16 Juni 2019
 

Dibaca : 8378 kali