x

Melihat Perayaan Kathina Dana Umat Buddha Pulau Dewata

Hari Jumat, (18/10) pada pukul 15.00 WIT, di Vihara Dhammadana Jl. Baturiti Bedugul, Kecamatan Baturiti, Kab. Tabanan, Bali, mulai dipadati oleh ratusan orang. Mereka adalah umat Buddha Bali yang hendak mengikuti Sanghadana, perayaan Kathina 2019.

Sebelum itu, para umat yang hadir bercengkerama menikmati berbagai hidangan makanan yang sudah disediakan oleh panitia. Senyum terpancar dari wajah setiap orang, suasana terlihat begitu hangat, setiap orang menikmati perjumpaan dengan kawan sedhammanya.

“Memang kalau di Bali, hari raya umat Buddha yang paling disambut antusias adalah Kathina. Kita seperti muter terus ke vihara-vihara secara bergantian. Menjalin silaturahmi dengan umat Buddha dari daerah lain,” kata Pak Eddy Kencana, salah satu umat Buddha Bali memberikan keterangan.

Sebelum sore, umat sudah mulai memasuki ruang dharmasala, mereka duduk berbaris rapi dengan penuh keheningan. Ruang dharmasala berukuran besar dan tenda penuh oleh umat Buddha yang hadir. Puluhan umat bahkan harus duduk tanpa tenda peneduh.

Sanghadana dihadiri oleh lima orang bhikkhu perwakilan Sangha; Bhante Sucirano, Bhante Saccadhammo, Bhante Jayadhammo, Bhante Upasilo, dan Bhante Dhammaratano. Mereka adalah para bhikkhu pembina umat Buddha Pulau Bali dan Lombok yang melakukan masa vassa di dua pulau tersebut.

Masa vassa adalah masa berdiam di musim hujan bagi para bhikkhu. Di India dimana agama Buddha berasal, musim hujan biasanya jatuh sekitar Agustus – Oktober. Di zaman awal berkembangnya agama Buddha, bepergian di musim hujan bisa membuat kita menginjak hewan-hewan kecil dan tunas-tunas tumbuhan, juga tidak baik bagi kesehatan karena dahulu para bhikkhu berjalan kaki di hutan.

Atas dasar pertimbangan tersebut, akhirnya selama tiga bulan musim hujan para biksu berdiam menetap di suatu tempat sekaligus digunakan sebagai kesempatan untuk melatih diri secara intensif. Keberhasilan para bhikkhu dalam menjalankan masa vassa ini kemudian disambut gembira oleh umat Buddha, dengan melakukan Sanghadana, memberikan persembahan kebutuhan pokok para bhikkhu.

“Sore ini, formasi bhikkhu lengkap. Bhante Sucirano bisa hadir di tengah-tengah kita, kesehatan beliau mulai membaik, semoga terus membaik. Ada budaya yang coba kita jaga dan lestarikan, yaitu berkumpulnya semua umat Buddha dari seluruh Bali, minimal perwakilan dari vihara-vihara. Sayang tahun ini dari Lombok tidak bisa hadir, hanya diwakili oleh para bhikkhu saja, karena kami habis terkena bencana gempa,” terang Bhante Saccadhammo, mengawali pesan Dhamma.

Senada dengan yang dituturkan oleh Eddy Kencana, bhante juga mengatakan bahwa perayaan Kathina Dana bagi umat Buddha Bali menjadi momentum reuni setahun sekali. “Ini adalah reuni tahunan, ini melebihi momentum hari raya lain dalam agama Buddha. Kita tidak meragukan hari Waisak yang menjadi perayaan umat Buddha di seluruh dunia. Tetapi khusus kita di Bali ini, saat Waisak, Asadha, Maghapuja belum tentu semua bhikkhu hadir selengkap ini. Karena saat Waisak, setiap vihara melakukan perayaan sendiri-sendiri. Tetapi Sanghadana, diusahakan dihadiri oleh para bhikkhu,” lanjut bhante.

Selain sebagai ajang berkumpul umat Buddha, Sanghadana juga menjadi kesempatan untuk berbuat kebajikan. Seperti pada masa sekarang, yang mana situasi bangsa Indonesia sedang panas jelang pelantikan presiden, bhante berharap umat Buddha juga peduli terkait situasi tersebut. “Saya juga mendapat pesan dari pembimas Buddha Provinsi Bali, beliau meminta kita semua untuk ikut mendoakan bangsa. Karena kalau kita membaca dan melihat di media-media suasana masih panas.

“Tetapi doa dalam agama Buddha ini tidak semata-mata meminta kepada para brahma, para dewa, bodhisattwa maupun kepada Buddha tetapi doa dalam agama Buddha harus hadir dari hati, serta dilaksankan dalam tindak-tanduk sehari-hari. Saya kira momen Sanghadana ini adalah momen kebajikan. Saya percaya bapak ibu ini sudah memahami bahwa kebajikan (dana) tidak hanya materi.”

Bhante juga menjelaskan tentang lima pihak yang layak menerima dana atau persembahan. Mereka adalah; Pertama, orang yang datang (tamu). Kedua, kepada orang yang bepergian. Ketiga, orang yang terkena musibah, gempa, banjir, kebakaran, kecelakaan. Kita memberi kepada mereka, karena kita tahu mereka membutuhkan dan layak untuk dibantu. Keempat, kepada orang sakit. Kelima, kepada orang-orang yang melakukan latihan moral, menjalankan sila,” pungkasnya.

Selesai mendengarkan ceramah Dhamma, para umat memberi persembahkan dana kepada bhikkhu Sangha.


Sumber: Buddhazine.com

Dibaca : 1032 kali