x

Bhikkhu Adalah Seorang Pertapa Yang Menjalani Hidup Sederhana

“Ibu, Bapak dan Saudara, apa pun fungsi sosial di masyarakat, dengan kalimat yang lain, apa pun jabatan yang akan atau yang sedang ditunaikan, para bhikkhu tetaplah seorang pertapa, para bhikkhu tetaplah seorang samana” terang Bhante Sri Pannyavaro kepada ribuan umat Buddha yang hadir dalam perayaan Kathina 2563 TB/2019 di Vihara Mendut, Kota Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (20/10).

Bhante Pannyavaro menambahkan, bhikkhu adalah orang yang menjalankan hidup sederhana ingin membersihkan kotoran batin untuk menyelesaikan penderitaan. Seorang bhikkhu hanya memiliki satu setel jubah dan dua setel jubah pengganti milik bersama. Seorang bhikkhu makan sehari hanya dua kali pagi dan sebelum tengah hari, kadang-kadang bahkan hanya satu kali.

Siapa pun seorang bhikkhu itu, seorang Bhikkhu memerlukan tempat berteduh tetapi bukan memiliki aset dan sekadar obat-obatan pada waktu sedang sakit. “Ini adalah kesempatan bagi kami yang paling baik untuk memperbaharui pengertian Ibu, Bapak, dan Saudara utamanya umat Buddha tentang Sangha, tentang para bhikkhu,” tutur Bhante.

“Kathina Dana adalah perayaan mempersembahkan jubah utamanya, dan kebutuhan-kebutuhan lain untuk Sangha bukan untuk pribadi bhikkhu. Siapa pun yang menerima, apakah saudara mempersembahkan di dalam, di depan atau di belakang. Kepada bhikkhu siapa pun di vihara manapun, Ibu, Bapak dan Saudara harus berpikir, persembahanku ini untuk Sangha bukan untuk bhikkhu-bhikkhu tertentu,” jelas bhante.

“Ibu, Bapak, dan Saudara, beberapa waktu yang lalu ada seorang umat Buddha mungkin baru mengenal Dhamma. Umat Buddha yang baru mengenal Dhamma ini bertanya pada temannya yang sudah lama menjadi umat Buddha. Pertanyaannya agak aneh bagi kami, mungkin tidak aneh bagi yang lain. Umat ini bertanya, ‘Apakah bisa mengundang para bhante, para bhikkhu, untuk pemberkahan di rumah juga untuk mengajar Dhamma, memberikan wejangan, memberikan bimbingan?’

“Oh iya, mengapa tidak! Karena selain membersihkan kotoran batin, kami mempunyai tugas moral spiritual untuk memberikan pendidikan kepada umat Buddha dan kepada siapa saja yang mau mendengar untuk meningkatkan kualitas batin menjadi lebih baik. Itu tugas moral kami.

“Kemudian orang ini bertanya,” lanjut bhante. ‘Kalau misalnya mengundang untuk ceramah, Bhante Jothidhammo, Bhante Santacitto, itu kira-kira tarifnya berapa? Sampai puluhan juta? Apalagi kalau mengundang Bhante Pannyavaro, itu sampai berapa ratus juta?’

“Pertanyaan ini amat janggal bagi kami Ibu, Bapak, dan Saudara. Karena para bhikkhu tidak boleh berjualan, apalagi menjual Dhamma. Dhamma itu tidak ternilai harganya, ratusan juta sekalipun tidak mungkin bisa digunakan untuk membeli Dhamma. Saya, Bhante Jotidhammo, Bhante Santacitto dan para bhikkhu semuanya mengajarkan, memberikan pendidikan Dhamma dengan ketulusan, tidak ada tarif.

“Apakah Bhante Pannyavaro tidak mempunyai sekretaris yang mengurusi itu tarif-tarif? Tidak saudara! Para bhikkhu adalah pertapa yang mempunyai tugas moral untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat, mendorong keluhuran moral mereka hingga mencapai kebebasan dari penderitaan, yang kami perlu adalah, hanya kalau mengundang para bhikkhu siapkanlah transportasi.”

Bhante bercerita selama 35 tahun beliau telah pergi ke berbagai daerah, ke pelosok-pelosok desa untuk mengajar Dhamma. “Sampai suatu saat kami pergi ke desa ke daerah Jepara, yang namanya Blingoh, kemudian desanya Bhante Sujano namanya Jugo dan naik lagi sampai Guwo. Guwo itu desa yang paling ujung, sudah tidak ada desa lagi Saudara. Di Gunung Pandawa. Mungkin Desa Guwo itu sudah mendekati Surga Tusita. Di sini ada seorang samanera dari Guwo yang mendekati Surga Tusita itu belajar di Vihara Mendut,” gurau Bhante.

“Apakah Bhante Pannyavaro pergi ke tempat itu? Iya saudara. Saya datang ke Guwo itu. Lalu bagaimana Bhante transportasinya? Ibu Silamurti dari Muntilan memberikan dana kendaraan kepada kami kurang lebih 35 tahun. Kendaraan yang beliau danakan, kendaraan yang beliau bantukan kepada kami sebenarnya seperti kendaraan vihara ini. Hampir kadang-kadang setiap hari saya menggunakan kendaraan Ibu Silamurti itu dengan sopirnya Mas Budi. Mungkin Budi mendengarkan kotbah saya paling banyak selama puluhan tahun. Saya menyampaikan penghargaan kepada Ibu Silamurti.

“Tetapi bagaimana Bhante kalau tempatnya jauh? Umat memberikan transportasi, hanya kadang-kadang ada juga yang kurang. Lalu bagaimana Bhante? Pak Ayung memberikan tawarannya. Selama singa terbang, Bhante boleh menggunakan untuk kepentingan Dhamma. Saya menyampaikan penghargaan juga atas tawarannya Pak Ayung ini.

“Apakah ada bhante umat-umat yang ingin berdana mobil kepada Bhante? Oh iya, tidak hanya ada, sering. Tetapi saya berpikir untuk apa? Karena dana dari Ibu Silamurti ini tidak perlu garasi, tidak perlu sopir, tidak perlu mengurus STNK, kalau rusak saya tidak perlu membawa ke bengkel, itu meringankan kami sebagai pertapa. Kalau ada umat ingin memberikan mobil kepada kami untuk apa? Itu beban. Meskipun dibutuhkan,” bhante Menegaskan.

Begitulah seharusnya kehidupan seorang bhikkhu seperti yang dijelaskan Bhante Sri Pannyavaro. Hidup sederhana, tidak mempunyai warisan, membersihkan kotoran batin hingga mencapai kesucian dan memberikan pendidikan moral, meningkatkan keluhuran akhlak budi pekerti kepada masyarakat.

Sumber: Buddhazine.com

Dibaca : 455 kali