x

“Untung” Ada Wabah Corona…

Masyarakat kita senang menghibur diri dengan menyebut “untung”, terutama ketika harus mengalami situasi yang buruk. Misal, kalau ada seseorang yang jatuh dari motor, kerabat atau teman yang datang membesuk mungkin ada yang berkata, “Untung ada yang menolong dan hanya lecet-lecet sedikit, coba kalau lebih buruk, kamu tentu bisa celaka.”

Kemudian, jika ternyata luka yang diderita orang tersebut cukup parah, katakanlah sampai harus naik meja operasi, itu pun masih “untung”, sebab mungkin saja ada yang berpendapat, “Untung masih bisa dioperasi, sehingga setelah sembuh, kamu akan baik-baik.”

Demikian seterusnya, dalam situasi yang lebih parah lagi, yang muncul selalu “untung”, “untung”, dan “untung”, sehingga seberat apapun kondisi yang dialami, kita terkesan senantiasa “beruntung”.

Namun, di tengah-tengah “gempuran” wabah Virus Corona, apakah kata “untung” tadi masih bisa dipakai? Apakah ada “untung” yang bisa disebut ketika dunia sedang mengalami kesulitan seperti sekarang?

Ternyata ada.

“Untung ada wabah Virus Corona, sehingga saya bisa melakukan introspeksi diri sendiri, sekaligus mempelajari Ajaran Buddha dengan saksama.”

Setidaknya itulah yang terpikir oleh saya ketika saya mesti menjalani imbauan #dirumahaja yang digaungkan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona.

Sejak beberapa minggu terakhir, kegiatan yang biasa saya lakukan memang jauh berkurang, seiring dengan wabah Virus Corona yang terus meningkat signifikan.

Awalnya, hal ini terasa biasa-biasa saja. Satu-dua hari masih oke. Saya masih bisa bertahan.

Namun, begitu memasuki minggu kedua, rasa stres mulai muncul, apalagi setelah mayoritas mall, restoran, dan bioskop di sekitar rumah saya terpaksa ditutup untuk sementara waktu.

Dalam kondisi demikian, walaupun masih bisa bepergian, saya seperti “dikarantina” karena tidak ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan, kecuali menunggu, menunggu, dan menunggu wabah ini berlalu.

Alhasil, rasa stres yang saya alami semakin menjadi-jadi dari hari ke hari.

Namun, di tengah situasi tersebut, kemudian saya teringat Ajaran Buddha tentang Empat Kebenaran Mulia. Saya agak heran mengapa yang terpikir malah ajaran ini, bukan ajaran lainnya, mengingat banyak sekali uraian yang disampaikan Buddha dalam sutta-sutta.

Barangkali pikiran bawah sadar saya memunculkan ajaran ini karena isinya relevan dengan situasi yang terjadi sekarang. Bagaimanapun, kondisi saat ini adalah wujud yang nyata dari Empat Kebenaran Mulia.

Buddha mengajarkan bahwa segala yang terkondisi adalah dukkha.

Dalam sutta disebutkan rincian dari dukkha, yaitu berpisah dari yang disukai, berkumpul dengan yang dibenci, gagal mewujudkan tujuan, kesedihan, ratapan, keputusasaan, dan seterusnya.

Jika becermin dari rincian tadi, saya sadar bahwa perasaan yang saya alami ternyata adalah dukkha.

Walaupun pada awalnya terhanyut oleh perasaan tadi, namun, setelah menyadari hal itu, saya jadi bisa mengendalikan diri saya dengan baik, sehingga intensitas kemunculannya sekarang jauh berkurang.

Apalagi setelah tahu bahwa kondisi batin tadi bisa timbul karena saya masih dikuasai oleh tanha atau nafsu.

Sebagaimana disampaikan Buddha tentang Sebab Dukkha, nafsu inilah yang kemudian membikin batin saya bergolak. Nafsu inilah yang memantik keinginan untuk mencari kenikmatan inderawi dan menghindari sengsara, sehingga kalau tidak terpenuhi, saya bisa menderita.

Makanya, menyadari hal itu sangat penting. Tanpa mengetahui muasal dari dukkha yang dimuncul, mustahil kita bisa membebaskan diri dari cengkraman dukkha.

Oleh sebab itu, begitu sadar bahwa kondisi batin yang saya alami ternyata berasal dari keinginan untuk mencari kesenangan inderawi, saya berusaha melepaskannya.

Ini tentu bukan hal yang mudah, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil dilakukan. Asalkan kita mempunyai suatu kemauan, pasti ada jalan.

Seperti ajaran Buddha tentang Lenyapnya Dukkha, melepaskan tanha berarti menghilangkan dukkha.

Untuk itu, kita mesti melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan, sebab hanya inilah satu-satunya cara agar terbebas dari dukkha. Tak ada cara lain.

Jalan ini diawali dengan Pandangan Benar. Sebelum menyusuri ruas lainnya, kita mesti mempunyai Pandangan yang Benar terlebih dahulu.

Pandangan benar inilah yang menjadi “titik pangkal” dari Jalan Mulia. Sebab, Pandangan Benar nantinya akan memunculkan Pikiran Benar; Pikiran Benar akan menimbulkan Perkataan Benar; Perkataan Benar akan mendorong terlaksananya Perbuatan Benar; demikian seterusnya.

Dalam sutta disebutkan Pandangan Benar meliputi pemahaman yang mendalam tentang Empat Kebenaran Mulia. Jika seseorang sudah mengerti Empat Kebenaran Mulia dengan baik, maka ia bisa melaksanakan Jalan Mulia dengan taat.

Apalagi kalau sampai bisa menembusi Empat Kebenaran Mulia, orang tersebut dapat mencapai Sotapanna, yang ditandai dengan hilangnya pandangan tentang diri yang kekal, lenyapnya keragu-raguan atas ajaran Buddha, dan ditinggalkannya praktik upacara yang sebelumnya diyakini bisa membawa diri pada pembebasan.

Demikianlah awal dari munculnya ruas lain dari Jalan Mulia, yang kalau dikembangkan dengan tekun, akan membebaskan seseorang dari dukkha.

Makanya, alih-alih sebagai sebuah bencana, munculnya pandemi Corona bisa dilihat sebagai sebuah “keberuntungan” karena kita jadi mempunyai kesempatan untuk mempelajari, menyelami, dan mengamalkan ajaran Buddha tentang Empat Kebenaran Mulia.

Bagaimanapun, ini adalah ajaran yang penting karena isinya selalu relevan sampai kapanpun. Tak hanya Buddha Gotama, para Buddha terdahulu pun sering menyampaikan ajaran ini dalam sejumlah kesempatan karena persoalan tentang dukkha terjadi pada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.

Dengan demikian, sesulit apapun situasi yang sedang kita alami, ajaran ini bisa menjadi penawar bagi perasaan gelisah, peneduh bagi perasaan takut, penenang bagi perasaan panik, sehingga beruntunglah kita yang bisa memahami dan menembusinya.

Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 1341 kali