x

Makna Dan Kesempatan Baik Menyambut Imlek

Imlek adalah tradisi orang Tionghoa menyambut tahun baru. Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Tiongkok yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru Lunar (calendar China). Perayaan ini berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Tahun Baru Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.


Saya melihat banyak sekali kesempatan baik yang dapat kita sharing dan lakukan  sehubungan tradisi perayaan Hari Raya Imlek dengan Buddha dharma. Dalam Dhammadayada-Sutta, Buddha bersabda “Jadilah ahli waris-Ku dalam dharma, bukan ahli waris benda-benda materiil” (M.I.12). Maksudnya, kebaikan tidak diukur dalam nilai-nilai materiil saja, tetapi diukur dalam nilai-nilai moral, misalnya keluhuran budi pekerti, kebijaksanaan, kesederhanaan.

Kita dapat memberitahu kepada generasi muda atau keturunan kita tentang asal usul – makna – dan tujuan perayaan hari raya Imlek serta hal-hal baik yang dapat dilakukan sehubungan menyambut perayaan Tahun Baru Imlek. Kita tentunya tidak berharap bahwa mereka hanya mengerti perayaan Imlek adalah identik dengan memakai baju baru, sepatu baru, makan enak, pesta enak dan dapat ang pao. Tapi lebih dari itu, kita sharing tentang kesempatan baik untuk dapat melakukan sila yang baik termasuk Sud Paramita (10 Sempurna) dalam menyambut perayaan Tahun Baru Imlek, baik kepada leluhur, kepada orang tua, orang yang dituakan, sanak saudara dan famili.

(1)   Metta Parami (Cinta Kasih). Bagi keluarga yang masih menjalankan adat istiadat dengan sembahyang dan mempersembahkan buah-buahan, kue atau permen di meja dengan foto leluhur, kita perlu menjelaskan kepada generasi muda bahwa hal tersebut adalah untuk mengingat jasa baik leluhur dan memberi penghormatan kepada mereka. Kita patut memanjatkan doa Karaniyametta Sutta dan Ettavata tentang cinta kasih dan pelimpahan jasa. Hal ini adalah untuk mengenang jasa-jasa Buddha, jasa-jasa leluhur dan kebaikan mereka, maka kita dan semua mahluk dapat merasakan cinta kasih, damai, bersyukur serta berbahagia.

Apabila kita sudah tidak memiliki orang tua ataupun mertua, kita dapat meminta kepada kenalan, sanak saudara ataupun famili yang menjadi panutan, untuk dianggap sebagai senior/dituakan.  Kita dapat menyatakan cinta kasih melalui perhatian, seperti menengok mereka, mengirimkan kartu ucapan di hari ulang tahun, mengirimkan makanan pada hari raya perayaan tertentu, dll.

(2)   Viriya Parami (Semangat). Tahun baru biasanya diawali dengan harapan baru serta semangat baru. Kita dapat melakukan hal-hal sederhana dengan penuh semangat. Contohnya membersihkan rumah dengan penuh semangat, mengajarkan anak untuk bangun pagi dengan semangat, mandi pagi dan bersih diri penuh semangat, serta memberikan salam hormat ucapan Xin Cia kepada kakek nenek dan orang tua penuh semangat.

(3)   Adhitthana Parami (Keteguhan). Selain semangat, kita perlu memiliki rencana baru, harapan baru dan resolusi baru yang dibarengi dengan tekad atau keteguhan hati. Contoh, tekad untuk membereskan soal hutang piutang atau menyelesaikan janji  pekerjaan sebelum Tahun Baru Imlek, membuang kebiasaan buruk, mencoba menjalankan kebiasaan positif baru, dlsbnya.

(4)   Dana Parami (kedermawanan). Sebagai umat Buddhis, kita diajarkan untuk mengikis ego dengan berbagi ataupun berdana. Kita dapat berdana pelita, lilin ataupun uang kepada wihara.  Jika kita sebagai anak telah bisa mandiri, maka kita wajib memberikan dana untuk menyokong orang tua, terlebih di hari Imlek.

Selain itu, jika kita berlebih, tidak ada salahnya, kita dermawan membantu sanak saudara maupun famili yang kekurangan agar mereka dapat turut serta berbahagia merayakan hari raya Imlek. Kedermawanan kita tidak mutlak harus dalam bentuk uang. Kita bisa memberi dalam bentuk sandang atau pangan yang memang khusus untuk perayaan hari Imlek. Demikianpun dengan tetangga yang sudah tua ataupun jompo yang tidak memiliki sanak saudara, maka kita dapat memberikan ang pao kepada mereka.

Hal ini dapat kita libatkan atau ajarkan anak kita sejak mereka kecil tentang makna berdana dan kewajiban menyokong orang tua. Dengan demikian, kelak mereka dewasa nanti, mereka dapat melakukan hal serupa, serta paham bahwa mereka perlu menjadi dermawan serta membalas budi orang tua.

(5)   Sila Parami (Moralitas). Leluhur kita mengajarkan bahwa pada hari raya Imlek, kita patut tidak berkata buruk dan menjaga tingkah laku santun serta tidak memancing kekesalan orang lain. Hal ini adalah untuk tidak menimbulkan kesialan terhadap diri kita di awal tahun baru yang dikuatirkan membawa rentetan dampak negatif terhadap hidup kita sepanjang masa setahun. Adalah bijak jika kita menjelaskan kepada anak-anak kita bahwa hari raya Imlek adalah awal tahun yang disambut dengan suka cita, maka sepatutnyalah kita berpikiran baik, berkata baik dan berbuat baik. Dan jika mau baik terus sepanjang tahun, maka lakukanlah semau hal dengan positif maka niscaya akan membawa hasil yang baik pula terhadap hidup kita.

Dengan melakukan 5 dari 10 Paramita dalam menyambut hari raya Imlek, kita sudah mempergunakan kesempatan yang baik dalam mempraktikkan sabda Buddha dan Buddha dharma. Semoga kebaikan tsb dapat memberikan berkah bagi kehidupan kita. (Internet)

Dibaca : 2815 kali