x

Biksu Pun Bersihkan Borobudur Dari Abu Kelud

Borobudur, Antara Jateng - "'Nggih... nggih...!'" demikian terdengar suara dari sejumlah orang di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jateng, saat menyimak penjelasan petugas Balai Konservasi Borobudur, tentang cara menyingkirkan abu vulkanik Gunung Kelud yang menerpa bangunan warisan peradaban dunia itu.

Ungkapan bahasa Jawa sebagai tanda mengerti penjelasan itu, dilontarkan mereka yang berkumpul di antara ratusan orang desa-desa di kawasan Borobudur yang bersama-sama umat Buddha berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Selasa siang itu, bersiap membersihkan Candi Borobudur dari abu vulkanik letusan Gunung Kelud di Jawa Timur yang menerpa bangunan itu pada Jumat (14/2) pagi.

Borobudur sebagai candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun sekitar abad ke-8 masa Dinasti Syailendra itu, juga pernah diterpa abu vulkanik saat fase erupsi Gunung Merapi di perbatasan Jateng dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada akhir 2010.

Di antara mereka yang berkumpul di pelataran Candi Borobudur tersebut, adalah para biksu Sangha Theravada Indonesia yang tinggal di Wihara Tanah Putih Semarang dan Wihara Mendut Kabupaten Magelang. Mereka, masing-masing Bante Cattomanu, Banta Dhammamitto, Bante Silanando, Bante Athakusalo, dan Samanera Dhamaratano, mengenakan jubah biksu berwarna kuning keemasan.

Dua petugas yang memberikan penjelasan singkat kepada mereka tentang cara sederhana untuk menyingkirkan abu vulkanik dengan mengedepankan kepentingan konservasi cagar budaya itu, adalah Koordinator Kelompok Kerja Pemeliharaan BKB Yudi Suhartono dan staf Hubungan Masyarakat BKB Mura Aristina.

"Kami membawa umat Buddha sekitar 1.000 orang, antara lain dari Semarang, Pati, Temanggung, Klaten, Magelang, dan DIY, untuk ikut membersihkan Candi Agung Borobudur," kata Bante Cattomanu.

Di antara mereka, sekitar 200 warga kawasan Borobudur, seperti Desa Kalijoso dan Genito, Kecamatan Windusari, Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Ngadiharjo, Sambeng dan Giripurno, Kecamatan Borobudur, serta Baturono, Kecamatan Salam.

Mereka adalah anggota berbagai grup kesenian tradisional dari desa masing-masing yang sejak beberapa waktu terakhir, di bawah koordinasi komunitas Borobudur pimpinan Sucoro, "Warung Info Jagad Cleguk", menyerap inspirasi relief Karmawibangga di lantai dasar Candi Borobudur, menjadi karya sendratari Kidung Karmawibangga dengan lakon, antara lain "Pangeran Bajang", "Asmara Di Balik Bumi Shambarabudhara", dan "Pringgitan".

Sebelum beranjak dari pelataran menuju berbagai lantai candi hingga bagian stupa, Bante Cattomanu mengajak umat Buddha untuk bersikap anjali, lalu mendaraskan doa sejenak secara buddhis.

"Terpujilah Sang Bagawa Yang Maha Suci, yang telah mencapai penerangan sempurna," demikian terjemahan kalimat doa berbahasa Pali itu.

Dengan membawa berbagai peralatan, seperti sapu lidi, sekop plastik, "kelud", sikat ijuk, serok, dan karung plastik, mereka yang masing-masing mengenakan masker, kemudian menuju ke Candi Borobudur untuk gotong-royong menyingkirkan abu vulkanik. Petugas BKB telah meminta mereka menyingkirkan abu vulkanik dari candi, tidak menggunakan alat-alat berbahan logam karena bisa merusak batuan bersejarah itu.

Para biksu yang bersandal jepit itu, juga beranjak menuju candi, untuk bergabung dengan masyarakat umum, membersihkan abu vulkanik dari beberapa tempat Candi Borobudur. Di antara mereka lainnya yang siang itu bekerja membersihkan candi, antara lain petugas BKB, pelaku usaha wisata Candi Borobudur, anggota TNI, dan relawan internasional.

"Kalau segera bersih, wisata di sini bisa segera dibuka lagi, dan kami bisa berjualan lagi," kata seorang pengasong kaos dan batik dari Dusun Sorowaton, Desa Ringin Putih, Kecamatan Borobudur, Siti Nurfemiana (31).

Sekitar 50 pengasong yang tergabung dalam Peguyuban Wira Wisata Borobudur, siang itu, ikut gotong-royong di candi tersebut. Seorang pemandu wisata Candi Borobudur, Nurudin (42), juga mengemukakan hal serupa dengan Siti.

Dua biksu tampak menggunakan "kelud" dan serok plastik, membersihkan abu di bagian lantai bawah, sedangkan biksu lainnya menyapu abu di bagian stupa dengan menggunakan sapu lidi dan sikat ijuk. Mereka kumpulkan abu vulkanik ke dalam karung plastik.

"Warga buddhis dan warga Indonesia merasa mempunyai Candi Borobudur, wajib menyelamatkan dan menjaga kelestarian Candi Borobudur," kata Bante Cattomanu.

Umat Buddha yang merasa memiliki Borobudur sebagai tempat puja kepada Tuhan, katanya, secara spontan menggalang diri dari berbagai daerah untuk membersihkan candi itu dari terpaan abu vulkanik Gunung Kelud. Hal serupa juga mereka lakukan saat Candi Borobudur diterpa hujan abu vulkanik dari Gunung Merapi pada akhir 2010.

"Peristiwa ini (terpaan abu vulkanik di Candi Borobudur, red.) juga menyadarkan kami tentang hukum alam, umat manusia harus menjaga alam dengan baik," katanya.

Sucoro yang komunitasnya selama ini bergerak untuk pelestarian tradisi budaya dan kesenian tradisional masyarakat kawasan Candi Borobudur mengemukakan bahwa keterlibatan anggotanya dalam gotong-royong menyingkirkan abu vulkanik dari batuan candi itu, bukan sekadar peduli terhadap Candi Borobudur.

Akan tetapi, gotong-royong warga yang datang dari berbagai desa itu, menjadi peristiwa bernilai yang menguatkan pemahaman universal mereka atas Candi Borobudur, sebagai peninggalan nenek moyang Bangsa Indonesia.

Masyarakat kawasan Candi Borobudur, katanya, makin mengenal lebih jauh tentang warisan peradaban dunia itu karena peristiwa terpaan abu vulkanik atas Candi Borobudur.

"Selama ini, mereka menyerap inspirasi dari Candi Borobudur untuk mengemas kesenian tradisionalnya menjadi semakin hidup dalam karya sendratari Kidung Karmawibangga dengan berbagai lakon," kata Sucoro yang belum lama ini meluncurkan buku karyanya berjudul "Dari Luar Pagar Taman Borobudur" itu.

Kepala BKB Marsis Sutopo mengemukakan keterlibatan berbagai elemen masyarakat untuk membersihkan abu vulkanik dari Candi Borobudur cerminan betapa makin luas kesadaran bersama untuk melestarikan warisan peradaban dunia yang terletak di antara aliran Kali Elo dengan Progo, Kabupaten Magelang itu.

Masyarakat luas, katanya, mewujudkan tanggung jawab masing-masing terhadap kepentingan pelestarian Candi Borobudur, melalui peristiwa abu vulkanik Gunung Kelud yang jatuh ke candi tersebut.

"Bagi pelaku usaha wisata Candi Borobudur agar bisa bekerja lagi melayani wisatawan, umat Buddha juga bisa memanfaatkan Borobudur sebagai tempat peribadatan yang selalu terawat dan terjaga kelestariannya, masyarakat kesenian rakyat juga makin kuat mengambil inspirasi dari kisah-kisah Candi Borobudur untuk mengembangkan keseniannya. Yang lainnya bisa mengembangkan usaha ekonomi kreatifnya bersumber dari Candi Borobudur," katanya.

Ketulusan masyarakat luas untuk bersama dengan pemerintah, terlibat dalam konservasi Candi Borobudur dengan menangani abu vulkanik Gunung Kelud yang menerpa bangunan bersejarah tersebut, sungguh menjadi wujud kebanggaan mereka terhadap warisan nenek moyangnya itu.


Editor : M Hari Atmoko
Sumber : www.antarajateng.com

Dibaca : 3584 kali