x

Sejarah Singkat Pindapata Bunga

Sumanamalakan adalah orang Rajagaha, dia memiliki tugas untuk membawa kan bunga melati setiap hari unt dipersembahkan kepada Raja Bimbisara setiap pagi. Dan ia pun mendapatkan imbalan dari tugas tersebut. 

Suatu hari saat dia memasuki gerbang kota, ia melihat Sang Buddha sedang pindapata berserta para bhikkhu lainnya. Muncul kekaguman yg luar biasa terhadap keindahan jasmani Sang Buddha, hingga ia berpikir “Apa yang dapat saya persembahankan kepad Buddha?" 

Ketika dia tidak menemukan apapun yg lebih baik dri apa yg dia sedang bawa maka ia memutuskan untuk mempersembahkan bunga melati yg seharusnya ia persembahankan kepada Raja Bimbisara. "Tak apa raja akan membunuhku atau mengusirku dari kota, saat aku mempersembahkan bunga ini untuk raja, raja hanya bisa memberiku imbalan untuk memenuhi kebutuhan hidupku. 
Akan tetapi jika aku mempersembahkan bunga ini pada Buddha 
maka aku akan memperoleh manfaat dan kebahagiaan dalam jangka waktu yg lama". 

Dengan mempertaruhkan nyawanya maka Sumanamalakan ini mempersembahkan bunganya untuk Sang Buddha. 

Bunga melati tersebut ia persembahkan kepada Sang Buddha, dengan melemparkan ke arah Buddha, dan bunga2 itu mengantung di udara menaungi tubuh Buddha, serta mengikuti kemanapun Buddha berjalan. 

Setiap kali di melemparkan persembahan bunganya, masyarakat kota akan berseru "Sādhu". 

Wajah Sumanamalakan sangat bahagia saat mempersembahkan bunga pada Sang Buddha, dan hatinya dipenuhi kebahagiaan. 

Sekembalinya ia ke rumah, ia menceritakan kejadian ini pada istrinya. Istrinya bukan org baik, bukan org yg memiliki keyakinan kepada Buddha. Dan setelah mendengar cerita dri suaminya, ia bergegas pergi ke istana untuk melaporkan apa yg dilakukan suaminya tidak ada sangkut-pautnya dg dirinya.
 
Raja Bimbisara adalah orang yang telah mencapai kesucian tinggkat pertama (Sotapati), mendengar cerita dri istri Sumanamalakan, beliau pun menjadi tahu kalau istri Sumanamalakan bukanlah orang baik yang berkeyakinan terhadap Sang Buddha.

Maka berkatalah beliau pda istri Sumanamalakan “Bagus sekali laporanmu, aku akan menyelesaikan masalah ini segera". 

Setelah itu rajapun menemui Buddha dan meminta penjelasan akan kejadian yg terjadi di kota berkenaan dengan persembahan dana bunga dari Sumanamalaka.

Lalu Raja Bimbisara mengundang Budha berserta para bhikkhu siswa-Nya untuk menerima dana makanan diistana. Setelah selesai menerima dana di istana, Sang Buddha dan para siswanya kembali ke Vihara Veluvana.

Kemudian Sumanamalaka pun dipanggil ke istana dan rajapun menyanjung perbuatan baik yang telah dia lakukan serta memberikan hadiah 8 jenis barang yaitu, 8 gajah, 8 kuda, 8 pelayan laki-laki, 8 pelayan perempuan, 8 perhiasan, harta benda 8 pankahapana, 8 rumah, dan 8 desa.

Saat sampai di vihara, Bhante Ananda pun menanyakan sebab hasil dari perbuatan Sumanamalaka kepada Buddha, Dan Sang Buddha pun menjawab bahwa Sumanamalakan tidak akan lahir di neraka selama 1000 kappa karena ia telah mempertaruhkan nyawanya unt melakukan dana.

Hal ini menjadi sebab Beliau membabarkan sebuah syair “Oh..para bhikkhu, seseorang yg telah melakukan perbuatan yg dilakukan tanpa ada penyesalan sesudahnya adalah org yg kenyang akan kebajikan, memiliki kebahagiaan dalam hatinya, itulah yg disebut perbuatan baik". 

Apa yg dilakukan Sumanamalakan ini adalah contoh bagi kita, untuk melakukan persembahan dana dengan sepenuh hati. 
Dan sejak saat itu maka ada tradisi pindapata bunga untuk menghormati Buddha dan mengingat keluhuran perbuatan dari Sumanamalakan.


NB:
Sebuah tradisi, yg mungkin belum pernah ada di Indonesia. Di Thailand, setiap awal masuk vassa, selalu ada yang namanya pindapata bunga. 

Bunga yg di danakan umatpun beraneka ragam, mulai dari bunga teratai, mawar, lili, melati, anggrek, dll.

Selain bunga jga ada rangkaian Amisa puja yg didanakan. Setelah para bhikkhu selesai menerima dana bunga, mereka akan memasuki uposatha untuk melakukan adithana sebelum memasuki masa vassa. 

Ayooo berdana bunga....


Tulisan dari: Atthasilani Nyanakitti (dari Thailand)

Dibaca : 1468 kali