x

Para Bhikkhu Dan Uang / Emas/ Perak

Darah Kehidupan dari Sasana (Dispensasi)

"Vinayo Nama Sasanassa ayu" yang mempunyai arti "Vinaya adalah darah kehidupan dari Sasana". Demikianlah dinyatakan oleh para Mahathera dari dewan keagamaan Buddha pada jaman kuno. Dengan demikian, kita dapat melihat betapa pentingnya vinaya dalam dispensasi (pengecualian dari aturan karena ada nya suatu pertimbangan). Berdasarkan Vinaya, para bhikkhu dilarang untuk menerima uang / emas / perak dengan cara apapun. Tetapi, Sang Buddha mengijinkan untuk menerima keperluan materi yang berasal dari persembahan uang, emas atau perak.


Sebuah Kejadian pada Jaman Sang Buddha

Pada suatu saat, ada seorang pria yang berbudi luhur bernama Maniculaka bertanya kepada Sang Buddha apakah penyataan yang ia ucapkan di sebuah pertemuan adalah benar atau salah "Para bhikkhu tidak seharusnya menerima persembahan berupa uang" Kemudian Buddha menjawab, "Apa yang kau nyatakan ini memang benar adanya. Para Bhikkhu tidak seharusnya menerima uang. Jika uang di perijinkan, itu akan sama saja dengan memperijinkan kenikmatan dari 5 kesenangan nafsu indria (termasuk memiliki pasangan dan keturunan). Siapapun yang menerima uang/ emas/ perak bukan lah seorang bhikkhu yang sebenarnya. Dia adalah seseorang yang sudah pasti tidak dapat dianggap sebagai anak dari pangeran Sakkyan (Sang Buddha)."


Akan tetapi, bila sebuah vihara mengalami masalah seperti atap yang bocor atau sebagainya, maka para bhikkhu diijinkan untuk mengenakan jubah dan mengelilingi kota-kota dan desa-desa untuk menerima persembahan rumput, jerami dan materi lainnya dengan cara yang sama seperti saat para bhikkhu menerima dana makanan. Jika pada saat seperti ini, umat yang mengerti dan bertanya "Bhante, apakah yang bhante butuhkan?" dengan demikian, bhikkhu tersebut dijinkan untuk meminta rumput., jerami dan materi lain yang dibutuhkan. Para Bhikkhu tidak diijinkan untuk meminta atau memberi petunjuk apapun untuk menerima uang, emas atau perak. Demikianlah pernyataan dari Sang Buddha. (Gamani Samyuta Pali, 509-510.)


[Jika pada saat berdiri (menunggu) di depan para umat dan para umat tidak menanyakan apapun, bhikkhu diharuskan untuk tidak meminta (pengecualian kepada bhikkhu yang sedang sakit, ia dibolehkan untuk meminta obat untuk penyakit yang dideritanya). Sebaliknya, seorang bhikkhu seharusnya melanjutkan perjalanannya dan berhenti di depan rumah umat lainnya.]


Menolak Pemberian Berupa Uang/ Emas/ Perak

Ini tetap menjadi sebuah kewajiban setiap bhikkhu untuk menunjukkan dalam hal menerima atau menolak persembahan berupa uang/ emas / perak secara verbal ataupun tindakan. Bhikkhu juga tidak seharusnya memberi arahan untuk menyimpan persembahan tersebut di suatu tempat yang sesuai atau tempat yang aman. Juga tidak seharusnya seorang bhikkhu menunjuk seorang kappiya untuk menyerahkan atau menerima dana tersebut. [Walaupun ia tidak memiliki keinginan atau maksud untuk menikmati persembahan terserbut, kegagalan untuk menunjukkan penolakan (secara verbal, tindakan maupun sikap) adalah termasuk pelanggaran dukkata (perbuatan salah)].


Cara yang Tidak Tepat Untuk Berdana Uang/ Emas/ Perak
  • Berdana uang/ emas / perak yang di sampaikan dengan pernyataan seperti berikut:
  • Saya/kami ingin berdana 10 rupiah/dollar/kyat, dsb. (atau),
  • Saya/kami Ingin berdana 10 rupiah/dollar/kyat, dsb., untuk kebutuhan yang diperbolehkan: (atau),
  • Saya/kami ingin berdana 10 vatthu (benda/materi): (atau),
  • Saya/kami ingin berdana 10 navakamma (pekerjaan baru). 

Pernyataan di atas tidak tepat atau tidak sah dalam berdana uang/ emas/ perak. [Walaupun kata-kata 'kebutuhan yang di perbolehkan' telah dipakai, tetapi tidak mengatakan istilah-istilah yang tepat seperti "(mata uang) senilai (kebutuhan yang di perbolehkan untuk para bhikkhu) / (kebutuhan yang di perbolehkan untuk para bhikkhu) senilai (mata uang)", maka dana tersebut digolongkan sebagai uang/ emas/ perak]


Cara yang Tepat Untuk Berdana Uang/ Emas/ Perak

Pada saat berdana, si pendana seharusnya berkata:
  • "Bhante, mohon terima dana dari saya/kami senilai (contoh: 100.000 rupiah) untuk kebutuhan yang diperbolehkan untuk bhikkhu kapanpun bhante memerlukan / membutuhkan." (atau),
  • "Bhante, mohon terima dana dari saya/kami untuk kebutuhan yang di perbolehkan untuk bhikkhu senilai (contoh: 100.000 rupiah)." (atau),
  • "Saya/kami telah menyerahkan senilai (contoh: 100.000 rupiah) kepada kappiya bhante untuk kebutuhan yang diperbolehkan untuk bhikkhu. Bila bhante memerlukan / membutuhkan, bhante dapat memintanya dari kappiya"
  • Jika dengan demikian dana diserahkan, maka dana dengan jumlah tidak lebih dari yang disebutkan saat penyerahan, adalah tepat serta dapat di terima.

Jika seorang pendana berkata "Bhante, saya ingin berdana kebutuhan yang di perbolehkan senilai dengan harga dari emas/ perak/ barang berharga ini", atau, "saya ingin berdana untuk navakamma (pekerjaan baru). Mohon tunjukan saya kappiya bhante. Tolong tunjukkan saya tempat penyimpanan yang aman dan sesuai. Lalu bhikkhu tersebut diperbolehkan menunjuk seorang kappiya dan/atau menunjuk suatu tempat yang sesuai. Seorang bhikkhu hanya diijinkan untuk berkata "(nama) adalah kappiya yang ditunjuk," dan/atau "di sinilah tempat yang aman." Seorang bhikkhu tidak boleh berkata, "Berikan itu ke ..(seseorang)." (atau) "Simpan itu dengan ...", (atau), "letakkan itu di ..."


Jika seorang umat berkata, " Bhante, mohon pertimbangkan saya sebagai penyokong empat kebutuhan", bhikkhu tersebut hanya dapat menganggap umat tersebut sebagai penyokong - dengan arti, sang bhikkhu tidak diijinkan untuk meminta kebutuhan tersebut.
Jika seorang umat berkata, "Bhante, mohon pertimbangkan saya sebagai penyokong empat kebutuhan, jika bhante membutuhkan kebutuhan-kebutuhan yang diperijinkan, mohon bhante memberitahu." hanya dengan cara ini, maka sang bhikkhu dapat meminta kebutuhan tersebut kepada si penyokong.

Catatan:
Jika para umat berkeinginan menjadi penyokong sangha secara aturan Dhamma dan Vinaya, maka mereka harus belajar dan mempraktekkan cara berdana uang/ emas/ perak dengan cara yang benar/diperbolehkan. Perlu diketahui bahwa seorang bhikkhu yang dimana tidak mengetahui, menerima sebuah kebutuhan-kebutuhan yang berasal dari uang/ emas/ perak yang didanakan dengan cara yang tidak tepat (dengan kata-kata yang tidak sesuai), maka bhikkhu itu telah melakukan pelanggaran yang dapat mengakibatkan kelahiran kembali di alam yang menyedihkan. (Sarattha 3-379)

Dana berupa cek, kartu kredit, wesel pos (money order), surat berharga (Bank Draft), sertifikat tabungan dan buku tabungan termasuk dalam kategori uang/ emas/ perak.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi para umat untuk berhati-hati dalam melakukan dana (dengan kata-kata/ucapan) dana yang bersangkutan dengan uang/ emas/ perak. Dengan cara ini, bukan hanya mencegah para bhikkhu dari pelanggaran, tetapi, agar para umat/pendana juga dapat menikmati manfaat-manfaat dari dana yang didanakan di waktu sekarang dan juga selama di alam samsara, lingkaran kehidupan.

Sumber: Facebook Group VJDJ

Dibaca : 3247 kali