x

Peresmian Candi Nyanasamvara Sangharaja Di Komplek Vihara Mendut

Perkembangan agama Buddha di Indonesia, khususnya aliran Theravada,tidak lepas dari peran besar mendiang Sangharaja Thailand Somdet Phra Nyanasamvara yang wafat tanggal 24 Oktober 2013 lalu. Untuk menghormati jasa besar tersebut maka dibangunlah Candi Nyanasamvara Sangharaja di komplek Vihara Mendut, Magelang, Jawa Tengah.

Candi tersebut diresmikan pada hari Minggu, 19 Oktober 2014 dengan dihadiri sejumlah bhikkhu senior dari Indonesia dan Thailand. Salah satunya adalah Chao Khun Viddhudhammaborn atau lebih dikenal sebagai Bhante Sombat yang menandatangani prasasti pendirian candi. Pada siang harinya diadakan Kathina Puja dan Sangha Dana.

Bhante Sombat adalah bhikkhu senior dari Wat Bovonarives, Bangkok, Thailand.Bhante Sombat sangat disegani di Indonesia karena juga merupakan pemrakarsa berdirinya Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya pada tahun 1982. Ia cukup lama tinggal di Indonesia untuk menyebarluaskan Agama Buddha, sekitar 11 tahun. Tak mengherankan jika ia bisa berbicara bahasa Indonesia dengan cukup lancar.

Ide pembuatan Candi Nyanasamvara Sangharaja ini pun datang dari Bhante Sombat. Sedangkan konseptornya adalah Bhikkhu Sri Pannyavaro yang merupakan Kepala Vihara Mendut.

Bhante Sombat mengatakan Somdet Sangharaja adalah guru penahbis para pendiri Sangha Theravada Indonesia. “Pada tahun 1970 beliau menahbiskan putra Indonesia di Candi Borobudur menjadi bhikkhu,” tutur Bhante Sombat. Salah satunya adalah Bhikkhu Jinadhammo yang hadir pada acara peresmian tersebut, sedangkan bhikkhu-bhikkhu yang lain telah wafat.

Berawal dari situlah kemudian jumlah bhikkhu Theravada di Indonesia terus berkembang. “Para bhikkhu yang sekarang ada di Indonesia adalah cucu murid dari Somdet Sangharaja,” jelas Bhante Sombat.

Bhante Sombat juga bercerita bahwa Somdet Sangharaja sangat menghormati Buddha. Salah satu buktinya, Somdet Sangharaja memiliki banyak sekali patung Buddha. “Kalau ada upacara tertentu, kalau patung Sang Buddha ditaruh di tempat yang tidak cukup tinggi, beliau tidak akan duduk lebih tinggi dari patung Sang Buddha,” ujar Bhante Sombat.

Sebagai murid Buddha yang berbakti, Somdet Sangharaja meneruskan tugasnya sebagai murid Buddha dengan mengirim bhikkhu-bhikkhu Thailand untuk membantu membangkitkan kembali agama Buddha di Indonesia yang pertama kali dipimpin oleh Bhikkhu Win Vijjano Mahathera pada tahun 1969.

Dan sejak saat itu agama Buddha khususnya aliran Theravada mulai berkembang pesat di Indonesia. Maka sudah sepatutnya Somdet Sangharaja dikenang dengan mendirikan Candi Nyanasamvara Sangharaja sebagai monumen untuk mengenang jasa besarnya.

Candi Nyanasamvara Sangharaja dibangun selama 1 tahun 3 bulan. Komplek candi terdiri dari gapura, pendopo di tengah-tengah, dan bangunan Candi Nyanasamvara Sangharaja. “Semua bangunan itu terbuat dari bahan batu alam, batu gunung andesit, dan kayu jati tua untuk pendopo. Juga ada bahan tembaga dengan kualitas yang terpilih,” jelas Bhikkhu Jotidhammo.

Bangunan maupun ukiran batu alam dipahat oleh Tarjiman, salah satu pemahat terbaik dari Muntilan, Magelang. Ornamen tembaga dikerjakan oleh Ir. Agus Suharyanto, pondasi dan struktur bangunan dikerjakan oleh Suratin, sedangkan arsitekturnya, atau bisa dikatakan, semua ide yang ada di candi ini dibuat oleh Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera.

“Corak bangunan dan ukiran bersumber dari seni klasik Buddhis yang ada di Jawa Tengah. Selain ukiran dibuat sangat teliti, seluruh bangunan sarat dengan makna filosofis yang sangat mendalam,” Bhikkhu Jotidhammo menambahkan.

Di dalam candi diletakkan Buddha rupang yang sudah berusia sangat tua, potongan rambut dari Somdet Sangharaja, dan rupang Somdet Sangharaja yang sebenarnya sulit didapat yang merupakan koleksi Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera. Logo resmi Somdet Phra Nyansamvara Sangharaja yang berupa monogram Nyo So So juga terdapat di bangunan candi, tepatnya di pintu tembaga candi.

“Candi Nyanasamvara Sangharaja ini sebenarnya merupakan persembahan dari kami para bhikkhu yang telah menjadi murid langsung atau yang telah ditahbiskan oleh Bhante Nyanasamvara Sangharaja sewaktu beliau masih hidup. Sebagai wujud penghormatan kami kepada beliau sebagai upajaya yang telah menahbiskan para bhikkhu senior generasi awal Sangha Theravada Indonesia, maka kami membangun sebuah candi dalam rangka mengenang dan menghormati upajaya kami,” ungkap Bhikkhu Jotidhammo.

Ia juga mengungkapkan, candi tersebut merupakan monumen yang diharapkan bisa bertahan lama seperti halnya candi-candi Buddhis yang terdapat di Magelang, seperti Candi Mendut ataupun Candi Borobudur.

Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 2879 kali