x

Bhikkhu Jotidhammo: Atthasila Membuat Kita Mudah Menghadapi Hidup

Orang yang hidup sederhana adalah orang yang mudah dilayani, mudah diladeni karena hidupnya tidak neko-neko, tidak macam-macam. Ia akan mudah menghadapi hidup karena lebih bisa menerima segala kondisi tanpa mengeluh. Dan sikap mental seperti itu bisa diperoleh dengan melakukan latihan Atthasila. Oh ya?

Ya! Itulah yang dijelaskan oleh Bhikkhu Jotidhammo kepada 710 peserta pelatihan Atthasila dari Jawa Tengah dan DIY dalam acara “Atthasila Asadha Puja 1000 Upasaka Upasika” pada tanggal 20 Juli 2014 lalu di Vihara Mendut, Magelang, Jawa Tengah.

Atthasila terdiri dari delapan sila (moralitas). Pelatihan diri ini lazimnya dijalankan oleh umat Buddha pada saat uposatha, yaitu saat bulan gelap, bulan terang, bulan setengah gelap, dan bulan setengah terang; atau tanggal 1, 8, 15, dan 23 tiap bulan kalender lunar.

Delapan moralitas tersebut adalah menghindari pembunuhan makhluk hidup; menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan; menghindari perbuatan tidak suci; menghindari ucapan yang tidak benar; menghindari minuman memabukkan, hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran; menghindari makan makanan setelah tengah hari; menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan; memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan mempercantik tubuh; dan menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah).

“Atthangasila ini selain jumlahnya lebih banyak daripada Pancasila Buddhis, manfaatnya yang diperoleh jauh lebih banyak daripada Pancasila Buddhis. Karena di dalam Atthanga Sila ini, upasaka-upasika melatih diri melakukan latihan-latihan yang bisa dikatakan latihan untuk mengurangi kekotoran batin,” jelas Bhikkhu Jotidhammo.

Menurutnya, Pancasila Buddhis hanya terdiri dari lima sila, bisa jadi belum terlalu mengurangi kekotoran batin, yaitu keserakahan, kebencian, dan keegoan. Mengapa kita perlu mengurangi kekotoran batin? Karena itulah sumber masalah dalam hidup kita.

Bhikkhu Jotidhammo menjelaskan satu per satu manfaat delapan sila tersebut. Jika kita tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup, berarti kita melatih diri untuk tidak membenci atau serakah. Karena kita melakukan pembunuhan makhluk hidup karena kebencian atau keserakahan kita.

Jika kita tidak mengambil barang yang tidak diberikan, akan mengurangi keserakahan kita. Karena kalau kita dengan mudah memakai barang orang lain yang tidak diberikan, itu berarti serakah. Jika kita mengambil atau mencuri, akan menambah keserakahan.

Menghindari kehidupan tidak suci juga merupakan latihan mengurangi keserakahan kenikmatan indera.

Jika kita bicara seperlunya tentu tidak memberi kesempatan keserakahan, kebencian, keegoan, dan kesombongan keluar.

Menghindari makanan atau minuman yang menyebabkan mabuk juga menghindari keserakahan.

Tidak makan di atas pukul 12 siang juga merupakan latihan mengurangi keserakahan.

Menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukan merupakan latihan untuk mengurangi keserakahan.

Tidak memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan mempercantik tubuh akan mengurangi keegoan, kesombongan. Karena ketika kita berhias, biasa akan muncul keegoan. Merasa diri paling cantik. Itu adalah ego, keakuan.

Menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah) akan mengurangi keserakahan, karena kita menikmati tempat-tempat yang seperti itu, yang enak-enak.

“Jika ini dilatih oleh saudara-saudara sebagai perumah tangga, saudara-saudara akan menjadi orang yang sangat mudah dilayani, mudah sekali diladeni, sangat sederhana, sangat bersahaja,” jelas Bhikkhu Jotidhammo.

“Ini akan membuat saudara menjadi mudah juga menghadapi kehidupan,” lanjut Bhante.

“Meskipun hidup ini sulit, banyak kekurangan, tapi kalau saudara sudah biasa dengan hidup yang simpel, hidup yang gampang diladeni, gampang dilayani, kesulitan tidak akan membuat saudara menderita. Kekurangan tidak membuat saudara menjadi stres. Saudara akan menerima dengan lapang dada dan bisa beradaptasi di mana pun berada.”

Bhante kemudian membandingkan sila dengan kebajikan lain yang juga banyak dilakukan umat Buddha, yaitu dana. Menurutnya, “Sila jauh lebih baik daripada dana, karena sila membentuk karakter. Karakter yang mudah dilayani, simpel hidupnya, tidak neko-neko, tidak punya keinginan macam-macam, tidak ingin berbuat kejahatan. Dan itulah yang terdapat dalam Atthangasila.”

Bhante berpesan agar sepulang dari program ini, jalankanlah Atthasila dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Atthasila akan mudah dijalankan jika dijalankan bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga. “Kalau bisa kabeh (semua –red),” harap Bhante.

“Kalau anak-anak dibiasakan seperti ini, nanti anak-anak tidak akan neko-neko. Hidupnya juga akan simpel, sederhana, mudah dilayani, tidak macam-macam keinginannya, tidak menuntut macam-macam,” Bhante melanjutkan.

Dengan tekun melatih diri menjalankan Atthasila akan membuat hidup kita jadi tenang. “Kalau kita melaksanakan ini, ke manapun pergi kita tersenyum, tidak ada masalah, karena bisa menerima kondisi yang seperti apa saja. Hidup kita akan tenang, tenteram,” jelas Bhante.

Menurutnya, orang yang bisa hidup dengan tenang bukanlah datang tiba-tiba. “Orang tidak bisa hidup tenang tenteram begitu saja tanpa dilatih, ya harus dilatih,” tegas Bhante.


Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 3214 kali