x

Gelas Pecah

Kamu mungkin bisa berkata, 
“Jangan pecahkan gelas saya!” 

Tetapi kamu tidak bisa mencegah benda yang bisa pecah menjadi pecah. Jika ia tidak pecah sekarang, ia akan pecah suatu waktu. Jika kamu tidak membuatnya pecah, orang lain bisa membuatnya pecah. Jika orang lain tidak memecahkannya, salah satu dari ayam-ayam itu! 

Sang Buddha mengajarkan untuk menerima hal ini. Dia memahami segala sesuatu seperti melihat bahwa gelas ini sudah pecah. Gelas yang belum pecah ini, Beliau meminta kita untuk mengetahui bahwa gelas itu sudah pecah. 

Kapanpun kamu mengambil gelas tersebut, menuangkan air ke dalamnya, minum dari gelas tersebut, dan meletakkannya, Beliau memberitahu kita untuk melihat bahwa gelas tersebut sudah pecah. Dapatkah Anda memahaminya? 

Pemahaman Sang Buddha adalah seperti berikut. 
Dia melihat gelas pecah di dalam gelas yang tidak pecah. Ketika saatnya telah tiba, gelas ini akan pecah. Kembangkan cara berpikir ini. Pakailah gelas tersebut; jagalah. Namun jika suatu hari gelas tersebut tergelincir dari tanganmu: ~Brak, pecah! ~ Tidak masalah. 

Mengapa tidak masalah? Karena kamu melihatnya sebagai gelas pecah sebelum ia pecah. Paham? 
Tetapi pada umumnya orang berkata, ~ Saya sudah menjaga dengan baik gelas ini. Tidak akan membiarkannya pecah. 

Kemudian seekor anjing memecahkannya, dan kamu membenci anjing tersebut. Jika anakmu memecahkannya, kamu membencinya juga. Kamu membenci siapapun yang memecahkannya ~karena kamu telah membendung dirimu sehingga air tidak bisa mengalir. 

Kamu telah membuat sebuah bendungan dengan tanpa sebuah saluran pembuangan. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh bendungan tersebut adalah meledak, bukan? Ketika kamu membuat sebuah bendungan, kamu harus membuat sebuah saluran pembuangan juga. Ketika air naik hingga ke tingkat tertentu, air tersebut dapat mengalir keluar dengan aman ke pinggiran. Ketika air tersebut penuh hingga ke tepi, ia akan mengalir keluar melalui saluran pembuangan. Kamu harus memiliki sebuah saluran pembuangan seperti ini. 

Memahami ketidak-kekalan adalah saluran pembuangan Sang Buddha. Ketika kamu memandang segala sesuatu dengan cara ini, kamu akan mencapai kedamaian. Itulah praktek Dhamma.


Sumber: Facebook Sdr. Wong Khimsu 
(Posting di Grup FB VJDJ - https://www.facebook.com/groups/dhammacakka/ )

Dibaca : 3122 kali