x

Tujuan Menjadi Samanera Oleh YM Bhkkhu Sri Pannavaro Mahathera

Dengan menjalankan Dhamma Vinaya seperti yang diajarkan guru kita Buddha Gautama, kehidupan melepaskan keduniawian atau melepaskan hidup berumah tangga, menjalani kehidupan brahmacari sebagai samanera akan bermanfaat kalau kehidupan atau latihan itu didasarkan atas keyakinan kepada Tiratana, yaitu Budhha Ratana, Dhamma Ratana, dan Sangha Ratana. 

Oleh karena itu merupakan kewajiban Dhamma bagi kami untuk menjelaskan kembali tentang Tiratana agar keyakinan Anda menjadi kuat, dan kehidupan Anda sebagai Samanera dimulai atau tumbuh dari keyakinan kepada Tiratana.

Tiratana adalah 3 permata, dan permata pertama adalah permata Buddha Ratana. Permata Buddha yang paling dekat dengan masa kita sekarang adalah guru agung Buddha Gautama — Samma Sambuddha yang mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi pada saat beliau berusia 35 tahun setelah meninggalkan istana keduniawian kenikmatan indrawi sebagai putra mahkota kerajaan Kapilawastu, pada waktu itu guru agung kita bernama pangeran Siddartha. 

Pencerahan sempurna yang dicapai guru agung kita itulah yang membuat manusia biasa Siddharta menjadi Samma Sambuddha mencapai pencerahan sempurna, karena menyadari dhamma, melihat dhamma, dan dhamma yg telah beliau capai pada saat pencerahan sempurna itulah yang beliau ajarkan selama 45 tahun penuh. 

Meskipun hanya 45 tahun guru agung kita mengajar dhamma, dhamma itu bertahan sampai hari ini, lebih dari 2600 tahun. 

Pada usia 80 guru agung kita mangkat atau parinibana pada bulan yang sama pada saat beliau mencapai pencerahan pada bulan Waisaka saat purnama. 

Pada awalnya guru agung kita ragu-ragu atau tidak akan mengajar dhamma, karena jalan dhamma itu bertentangan pada kebiasaan manusia pada umumnya, yang selalu mencari kenikmatan meskipun kenikmatan itu hanya didapat sebentar, kemudian lenyap, kemudian mencari lagi, lenyap lagi. Mencari lagi lenyap lagi, begitulah seterusnya dan begitulah kebiasaan manusia pada umumnya.Tidak pernah berhenti mencari kenikmatan indrawi yang hanya sebentar, karena manalah kenikmatan duniawi yang abadi. Kenikmatan itu sebentar tetapi kemudian mencari lagi. dan sering mencari lagi itu mencari yang lebih kompleks, lebih rumit meskipun kenikmatan itu sebentar. 

Mengapa kenikmatan itu mencari lagi, meskipun kenikmatan itu ternyata hanya sebentar? Itulah yang dikatakan dengan Upadana, melekat ketagihan akan kenikmatan yag meskipun hanya sebentar. melekat akan kenikmatan yang meskipun hanya sesaat itulah (dukha) / penderitaan, dan sering manusia pada umumnya berusaha untuk mencari dan mencari kenikmatan yang meski sebentar itu dengan melakukan perbuatan yang buruk. Muncullah keserakahan untuk mencari lagi dan mencari yang lebih besar, yang lebih banyak. Keserakahan itu merugikan kita dan merugikan orang lain. Kalau keserakahan tidak bisa dipenuhi muncullah kemarahan, kejengkelan kebencian dendam, tidak suka, lalu ingin menghancurkan yang lain. Mengapa? Karena keserakahannya tidak terpenuhi. 

Keserakahan dan kebencian itulah sumber perilaku yang buruk, baik itu pikiran ucapan dan perbuatan. Keserakahan dan kebencian itu bersumber dari ke’aku’an. Aku sentris. Self Centerness. Keakuan itu membutakan semua orang dari kepedulian kepada yang lain. Ke’aku’an itu membutakan kita dari akibat dari resiko perbuatan buruk yang nantinya akan menimpa kita. Tidak peduli pada yang lain, tidak peduli pada akibat dari semua keburukan karena ‘aku’ menginginkan kenikmatan. ‘Aku’ tidak ingin direndahkan, ‘aku” lebih baik dari yang lain. Ke’aku’an melahirkan keserakahan, ingin, keserakahan melahirkan kelekatan, dan kalau tertahan, keserakahan atau kelekatan melahirkan kebencian, kekejaman.

Oleh karena itulah Dhamma yang diajarkan oleh guru agung kita memberikan jalan yang agak berbeda dengan kebiasaan manusia pada umumnya guru agung kita menunjukkan bahwa, kalau keinginan dibiarkan,bukan hanya diulangi tetapi bermacam-macam keinginan dibiarkan dan kemudian berusaha untuk dituruti, dipenuhi, apalagi sampai menimbulkan ketagihan, apalagi sampai menimbulkan permusuhan, karena ada penghalang, yang semua itu muncul dari keakuan, itulah sebab penderitaan.

Penderitaan dalam hidup ini bukan hukuman, menurut kenyataan yang ditunjukkan oleh guru agung kita, penderitaan dalam hidup ini bukan kutukan, tetapi penderitaan yang kita alami itu adalah konsekuensi, akibat dari menuruti keingian yang tidak ada habisnya. Maka kalau keinginan itu dikurangi, dikurangi dan dikurangi, selektif, dan keinginan harus berdasarkan wisdom, kearifan, kebijaksanaan, bukan semata-mata keinginan karena kenikmatan, atau didorong oleh keserakahan dan kebencian, mengurangi keinginan menyeleksi keinginan, dan keinginan yg timbul haruslah muncul dari pertimbangan yang benar (Sampa Janna) atau “Panna” — kebijaksanaan, keinginan atau rencana-rencana yang akan dilakukan muncul dari kearifan, dari pertimbangan yang terang yang jelas, maka keinginan yang dikurangi, keinginan yang dipilih yang diseleksi..

(Hening sejenak… Bhante Panya memperhatikan samanera yang tidak tahan berjinjit sambil beranjali menahan sakit ) 

Samanera…, perhatikan apa yang saya berikan, bertahan sedikit.

Saya ulangi…

Keinginan yang dikurangi, bukan diumbar, keinginan yang dipertimbangkan yang didasari oleh keinginan yang benar dengan kearifan, dengan kebijaksanaan, akan mengurangi penderitaan. Penderitaan akan berkurang kalau keinginan dikurangi. 

Keinginan yang haruslah ditimbang dengan baik-baik, dipikir dengan nalar yang sehat. Artinya menggunakan Sampajana mengunakan kearifan menggunakan kebijaksanaan dhamma. ini bukan semata-mata ajaran guru agung kita Buddha Gautama, tetapi ini adalah hukum alam. ini adalah kenyataan — The Truth. 

Kalau keinginan ditambah-ditambah maka masalah bertambah, kalau masalah ditambah pasti ketengangan dan penderitaan bertambah. Semua orang akan mengalami seperti itu, umat Buddha atau bukan. Tetapi bila keinginan dikurangi-dikurangi, diseleksi yang tidak perlu tidak usah dituruti maka, masalah akan berkurang. Masalah berkurang, problem berkurang, kalau masalah berkurang dan problem berkurang, ketengangan dan penderitaan pasti berkurang. Inilah yg ditunjukkan oleh dhamma. 

Anda sekalian upasaka yang nanti, sebentar lagi menjadi Samanera, tidak sekadar mendengar, dan berusaha mengerti uraian kami ini, tetapi praktek. Praktek untuk mengurangi keinginan. Menjadi Samanera tidak sama dengan berlibur. Bahasa daerahnya sama dengan tetirah, mengasuh,.. tidak. 


Samanera harus berlatih keras, bekerja keras, bukan bekerja fisik keluar, tetapi bekerja ke dalam, untuk memerangi keinginan yang biasa dituruti supaya berkurang, berkurang, dan berkurang. 

Anda sekalian akan merasakan berkurangnya penderitaan karena mengurangi keinginan. Berkurangnya penderitaan itulah kebahagiaan. 

Menurut Dhamma, kebahagiaan tidak usah dicari, tidak usah dikejar. 

Kemanapun kita tidak akan menemukan kebahagian, di vihara, di kitab suci, di tempat-tempat lain, kalau penderitaan berkurang, otomatis kita akan bahagia, tidak usah mencari, dan bagaimana mengurangi penderitaan? 

Penderitaan berkurang kalau keinginan berkurang. Guru agung kita tidak melarang kita punya keinginanan, tetapi selektif. Tidak semua keinginan dituruti, dan keinginan yang akan dilakukan itu harus berdasarkan sampajana, pertimbangan yang benar, berdasarkan wisdom, berdasarkan kebijaksanaan. Bermacam-macam masalah muncul yang bisa kita saksikan setiap hari melalui media masa, melalui cerita teman-teman, tidak lain karena keserakahan karena kebencian yg bersumber dari ego, ke’aku’an. Tidak mungkin kita akan mengatasi persoalan itu tanpa mengatasi sebabnya. Dan sebab dari persoalan, keonaran, kegalauan, kegaduhan, tidak lain adalah ke’aku’an kebencian dan keserakahan. Mengurangi keserakahan kebencian dan keakuan, berarti mengurangi persoalan. 

Persoalan berkurang maka kegaduhan masalah berkurang. Kalau masalah berkurang penderitaan juga berkurang. Berkurangnya penderitaan itu otomatis kebahagiaan.Inilah yg perlu dan perlu saya sampaikan untuk mengubah paradigma cara berpikir kita.

Kita umumnya berpikir ayo mencari-mencari, kalau dapat nanti bahagialah kita. Ayo mencari mengumpulkan kalau bertambah senanglah kita, kalau berhasil bahagialah kita. 

Cara berpikir seperti itu menurut Dhamma harus diubah. Ayo mengurangi — mengurangi keinginan karena kalau tidak dikurangi, dituruti keinginan tidak pernah puas semakin dituruti dia akan menjadi lebih besar. 

Dalam Dhammapada dijelaskan “Sekalipun hujan dan yang turun bukan air tetapi emas, hawa nafsu tidak pernah mengenal puas.” Orang bijaksana mengerti ini. 

Mengurangi hawa nafsu adalah kebahagian sejati. Anda sekalian para calon Samanera akan diajak akan mengalami sendiri masuk dalam dimensi yang lain, dimensi berkurangnya keinginan, dan berkurangnya keinginan itu kebahagiaan. Keinginan, keturutan, bahagia, benar, sebentar lalu menimbulkan ketagihan. Lalu menuntut yang lain, yang lebih besar, keinginan keturutan bahagia, buang, Diganti dengan mengurangi keinginan, itulah kebahagiaan sejati. Dan itulah latihan selama anda sekalian menjadi samanera. 

Mereka yg telah berhasil mengatasi penderitaan itulah yg dikatakan batinya telah bersih dari kilesa kekotoran batin. Telah mencapai kebebasan dari penderitaan. Itulah Ariya Sangha, permata yang ke tiga. 

Berkurangnya keinginan, bersihnya mental kita dari kotoran batin bukan teori.Permata yang ketiga itu adalah bukti bahwa mengurangi keinginan itu adalah real mungkin, dan kalau keingnan berkurang, kotoran batin lenyap. Apa yang kita lakukan adalah keinginan yg semata-mata berdasarkan panna, bukan berdasarkan keinginan berdasarkan kebencian keserakahan keakuan, karena kilesa/ kotoran batin sudah lenyap. Pada saat kilesa lenyap, dia bebas dari penderitaan dan itu nyata, bisa dialami sekarang, bukan ideal, bukan teori. 

Anda sekalian yang menjadi samanera untuk memulai, meskipun belum mampu membersikan batin, memulai membersihkan kotoran batin Anda, bukan menambah kebencian keserakahan keakuan. Hingga Anda nanti merasakan berkurangnya penderitaan dari berkurangnya keinginan.Inilah inti dari ajaran guru agung kita, perhatikan dengan baik, ingat dengan baik dan itulah latihan selama Anda sekalian jadi samanera. 

Bukan sertifikat, bukan penghargaan bukan hadiah tetapi hasil berlatih mengurangi keinginan mengurangi keserakahan mengurangi kebencian dan mengurangi kotoran batin, itulah hasil dari menjadi Samanera, apalagi samanera ditahbiskan menjelang peringatan Waisak. 

Memperingati waisak bukan sekadar melakukan upacara, tetapi praktek dhamma, apa lagi menjadi Samanera, latihan Anda sekalian sangat terpuji. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh, tidak sekadar menggunakan jubah kuning, tidak sekadar menjadi samanera, tidak sekadar menerima sertifikat tetapi mendapatkan manfaat ke dalam. 

Sekarang akan diberikan 5 macam obyek meditasi untuk melwan kotoran batin. Kotorn batin itu dilawan dengan pengertian yang benar, sehingga hawa nafsu dan kotoran batin itu menurun, keserakahan menurun.

Obyek meditasi itu tidak diambil dari luar tetapi diambil dari anggota tubuh kita sendiri. Merenungkan bahwa oleh apa saja yang tampak, oleh semua orang yang pria, yang wanita yang dianggap, cantik, tampan, tua, muda yang tampak hanyalah rambut dikepala, bulu disekujur tubuh, kuku di tangan dan kaki, gigi di rongga mulut, dan kulit yang membungkus tubuh, ini tidak ada yg lain. Yang cantik yang tampan yang tua yang muda hanyalah rambut bulu kuku gigi kulit. Kalau dibalik kulit gigi kuku rabut bulu. Tidak sakadar diucapkan, Kalau ada waktu luang, samanera tidak sekadar belajar, tidak sekadar menjalankan tugas, duduklah diam, renungkan lima anggota tubuh kita yang tampak rambut bulu kuku gigi kulit, kulit gigi kuku bulu rambut.Tdak ada yg indah, amat biasa, rambut bulu kuku gigi kulit biasa, bahkan kalau tidak dirawat satu dua hari, kotor menjijikan, merenungkan ini akan mengurangi raga, nafsu indra mengurangi keserakahan dan itulah awal untuk membersihkan batin kita dari hawa nafsu, dari kotoran batin, untuk mengalami kebahagian yang lain, bukan kebahagiaan menuruti hawa nafsu, yang sementara ini, hampir semua orang berpikir, bahagia itu kalau nafsu keturutan. Tidak benar kalau ada kebahagian lain yang lebih halus yang lebih tinggi yang lebih mulia, kebahagian dari mengurangi keinginan.

Sekali lagi itulah tujuan Anda sekalian menjadi samanera.


Foto & Teks oleh: Roki Pandapotan

Dibaca : 3139 kali