x

Bersuka Cita Atas Pengabdian 20 Tahun Pancabhikkhu Dan 10 Tahun Ekabhikkhu

Iringan gending mengalun membuka acara “Dhammacari Sukham Seti” yang dilaksanakan di ballroom Kuningan City, Jakarta pada Minggu (6/12). Acara perayaaan pengabdian 20 tahun Pancabhikkhu dan 10 tahun Ekabhikkhu ini dihadiri oleh 40 bhikkhu Sangha Theravada Indonesia dan sekitar 1500 umat Buddha. Acara turut dimeriahkan oleh pentas seni dari Vihara Saddhapala, STAB Nalanda, STABN Sriwijaya, Narada School, hingga Dhammasekha Saddhapala Jaya Temanggung.

Ada lima bhikkhu yang tahun ini genap menjalani 20 tahun masa kebikkhuan (Mahathera) dan satu bhikkhu yang genap menjalani 10 tahun masa kebhikkhuan (Thera).

Kelima Mahathera baru tersebut adalah:
– Bhikkhu Candakaro Mahathera (upasampada 17 Februari 1996)
– Bhikkhu Dhammakaro Mahathera (upasampada 17 Februari 1996)
– Bhikkhu Suvijano Mahathera (upasampada 1 Juni 1996)
– Bhikkhu Cittanando Mahathera (upasampada 11 Juli 1996)
– Bhikkhu Pannanando Mahathera (upasampada 28 Juli 1996)
Sedangkan satu Thera baru adalah Bhikkhu Dhammajato Thera (upasampada 14 Maret 2006).

Bhikkhu Jotidhammo menyebut perjalanan seorang bhikkhu menjadi mahathera dan thera adalah sebuah prestasi bagi kehidupan bhikkhu, “Karena menjalani kehidupan bhikkhu bisa sampai 20 tahun dan 10 tahun merupakan satu perjuangan untuk melaksanakan Dhamma dan Vinaya dalam kehidupan sehari-hari sebagai bhikkhu, demikian juga perjuangan dalam melayani umat.” Pencapaian tersebut pantas disambut dengan sukacita karena merupakan perjalanan yang tidak mudah.

Suasana haru terjadi ketika orangtua dan orang yang berjasa besar bagi para bhikkhu tersebut dihadirkan ke atas panggung tanpa sepengetahuan para bhikkhu. Namun sayang, Bhikkhu Suvijano dan Bhikkhu Pannanando berhalangan hadir. Para orangtua tersebut memberikan amisa puja kepada para bhikkhu.

Pencapaian para bhikkhu tersebut mengundang pujian dari Bhikkhu Sri Pannyavaro selaku Kepala Sangha. “Orangtua kita zaman dulu memberi nasehat, sebaiknya jangan memuji anak-anak di depan anak-anaknya langsung, namun saya berpikir memuji di malam ini tidak mengapa, dua puluh tahun sekali,” tutur Bhante Sri Pannyavaro yang disambut tawa hadirin. Bahkan Bhante berjanji, jika panjang umur, akan datang kembali untuk memberikan pujian 20 tahun yang akan datang.

“Bhikkhu dalam bahasa Pali disebut sebagai Ariyavamsa (keturunan para Ariya) atau Ariyaputta (anak-anak para Ariya),” lanjut Bhante. Sebagai putra Ariya, para bhikkhu harus memiliki perilaku yang pantas, yaitu memiliki empat perilaku Ariya: (1) Puas dengan pakaian sederhana, (2) Puas dengan apa pun makanan yang diterima, (3) Puas dengan tempat tinggal yang ada, dan (4) Bergembira untuk melakukan perbuatan yang baik tapi juga bergembira jika bisa mencegah keinginan yang buruk.

Bhante menyebut perjalanan 20 tahun dan 10 tahun masa kebhikkhuan adalah sebuah perjalanan ke dalam. Bhante menjelaskan, prestasi seorang bhikkhu itu bukan tentang prestasi membangun vihara, sekolah atau penerbit, melainkan prestasi seorang bhikkhu adalah ke dalam diri, yaitu kebersihan hati dan pikiran yang bebas dari keakuan, kesombongan, dendam, kebencian, keirihatian, dan keserakahan. Jika tidak hati-hati, prestasi keluar justru akan mengurangi prestasi ke dalam. Seorang bhikkhu yang memiliki prestasi ke dalam yang baik akan tercermin dalam perilaku dan juga bisa menjadi panutan lintas agama. Bahkan, seorang bhikkhu memberikan kesejukan hati hanya dengan kehadirannya.

Bhante menuturkan, di zaman Buddha, ada yang memiliki kemampuan gaib bisa berkelana ke mana-mana, namun dia tidak bisa menghilangkan penderitaannya. Orang itu bernama Rohitas. Ia bertemu dengan Guru Agung Buddha, dan nasihat yang didapatkannya untuk membebaskan diri dari penderitaan tidak perlu mengembara ke mana-mana, hanya dengan melatih diri ke dalam, maka akan bebas dari penderitaan.

“Kalau ada orang yang baru saja tertimpa bencana, kita hanya bisa berkomentar kasihan. Namun jika kita yang tertimpa bencana, rumah kita terbakar, maka kita menderita. Apakah benar sebab dari penderitaan ada di rumah itu? Bukan, namun sebabnya adalah karena ‘milikku’, keakuan, kemelekatan kita adalah sumber kekecewaan dan penderitaan, pahami annica. Penderitaan letaknya persis di dalam diri kita, bukan di luar. Mari kita menyelesaikan ke dalam. Pada saat penderitaan berkurang maka kebahagiaan bertambah. Mengurangi penderitaan adalah dengan cara mengendalikan diri.

“Mari kita berjuang terus, berjuang ke dalam, maka para umat akan lebih mengapresiasi. Para bhikkhu dihargai dari perilakunya,” tutup Bhikkhu Sri Pannyavaro.

Acara malam itu dilengkapi dengan Sangha dana, pelimpahan jasa, dan pemberkahan. (BuddhaZine.com)

Dibaca : 3049 kali