x

Ibu, Spiritualitas Dan Kebijaksanaan Buddhadharma Nusantara

Dalam tradisi spiritual dunia, sosok ibu secara metafora diambil untuk melukiskan sifat-sifat luhur Ketuhanan. Sifat-sifat luhur keibuan yang menghidupi segenap dumadi, yang mengundang rasa kerinduan dalam perjalanan pencarian spiritual menuju pada Tuhan.

Kehangatan dan kasih sayang yang dibutuhkan bayi yang menginginkan dekapan seorang ibu, membuat sebagus atau semenarik mainan duniawi apa pun tiada yang sanggup menggantikan kasih sayangnya.

Mainan kesenangan duniawi hanyalah dapat meredakan tangis penderitaan sesaat, selanjutnya si jabang bayi akan menangis lagi, menginginkan kehadiran kasih sang ibu. Dalam berbagai kebudayaan dunia pun, figur ibu memiliki peranan penting bagi ekspresi keselarasan dan keharmonisan dengan alam semesta.

Kualitas mentalitas kemakmuran dan keberlimpahan, sangat erat hubungannya dengan sifat kesuburan yang dekat dengan sosok feminin.

Diawali dari kasih seorang ibu, seorang anak mengenali kasih dari stergein (kasih sayang orang tua kepada anaknya dan bakti anak kepada orang tua), eros (kasih asmara antara pria dan wanita yang mengandung nafsu birahi), philein berarti (kasih sayang persahabatan sejati), hingga agape (kasih tanpa syarat kepada segenap ciptaan). Kasih mengajarkan penyadaran akan mengasihi diri hingga kedewasaan mengasihi semua makhluk tanpa syarat secara altruistik.

Budaya

Dalam kebudayaan adiluhung Nusantara, tanah sebagai tempat berpijak dan tempat bertumbuh untuk menempuh kedewasaan fisik, sosial maupun mental spiritual manusia, diistilahkan dengan pertiwi. Istilah yang diambil dari dewi penguasa bumi.

Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup seperti hutan, gunung, danau, rawa, sungai, hingga samudera berikut dengan segala rangkaian ekosistem di dalamnya dalam konsep “Memayu Hayuning Bawana” juga akan berkaitan erat dengan ibu pertiwi.

Sosok ibu dijadikan sebagai personifikasi bumi atau alam semesta karena memiliki kualitas luhur yang sama yaitu sebagai gerbang lahirnya semua makhluk (dumadi), pemberi dan pemelihara kehidupan.

Selanjutnya akar dari semangat cinta tanah air, rasa nasionalisme terhadap bangsa dan negara didapati dari kerinduan akan ibu pertiwi sebagai asal hingga tumpah darah mereka yang merupakan rasa bakti kepada ibu sebagai kampung halaman (motherland).

Nusantara begitu sangat dekat dengan spiritualitas feminin, meletakkan figur ibu bumi (mother earth) sebagai fondasi dasar (sakti) dari kesadaran bapa angkasa (langit). Dalam Buddhadharma Nusantara kita mengenal sosok Bhagawati Tara, Mamaki, Pandara, Locana, dan Prajnaparamita.

Pada tradisi kabajrayanan, kelima sosok ini ibu primordial ibu pertiwi ini dikenali sebagai Tathagatadewi yang memiliki kesemestaan masing-masing dalam konsep mandala mewakili kualitas luhur maitri, karuna, mudita, upeksa.

Pada perkembangannya, dalam tradisi Buddha Jawa dikenal sosok Ratu Kidul sebagai penguasa segara atau laut, Ratu Kulon sebagai penguasa danau maupun sungai, Ratu Wetan Penguasa Wanua ataupun hutan dan Ratu Lor Penguasa Gunung.

Kemudian pada era Mataram Islam di masa Panembahan Senapati kedua, unsur Ratu Utara dan selatan dipurifikasi menjadi penyatuan segara gunung. Walaupun sesungguhnya kesemua ratu di keempat penjuru dan pancer ini kedudukannya telah distanakan di Keraton Mataram dengan istilah Ratu Sekaring Jagat. (Jro Indra Prabhujati).

Di hari yang istimewa buat semua kualitas keluhuran kasih bunda, teriring puisi:

Kepada Ibu yang Melahirkan Tathagata

Dalam hangat kasih rahimmu, Ibu

dalam damai senandung timangmu,

lelap aku, hentikan setiap tangisku,

tawaku, bahagiaku, tenteramkan segala gundah dan risaumu, Ibu

 

Lembut buaian kasihmu,

basuh jiwaku yang selalu mencari,

menggapai makna cinta, mencari arti hidup,

yang mengisi di setiap mimpi dan sadarku,

 

Dalam hamparan rahim ibu semesta tiada batas,

napas hidupku yang kaujaga,

bagaikan keterjagaanmu atas nyala kuncup api yang tak boleh padam,

dari waktu ke waktu, kaurawat aku, asuh aku

 

Butiran demi butiran kristal darahmu,

kuminum dari setiap sari air susumu ibu,

yang membuatku bertumbuh,

memenuhi janji dewasaku,

 

Di setiap putaran untaian 108 butiran tasbihmu,

di setiap uncaran mantra pengharapanmu kepadaku,

dalam setiap doa dan paritta perlindungan yang kau gemakan bagi para Buddha

tiada pancaran kasih metta-mu yang terlewatkan untukku, Ibu

 

Tetapi engkau Ibu, kau abdikan sepanjang hidupmu demi rasa cinta itu,

tiada pernah menilai seberapa baik atau jahat aku terhadapmu,

tiada pernah pula engkau menakar ukuran kasih sayangmu kepadaku,

tiada balas budi yang pernah kau harapkan dariku,

 

Dari pancaran pesona kualitas semua sifat ibu,

Ibu bukanlah sekedar mereka yang membuat aku ada,

akan tetapi mereka semua yang membuatku memahami arti keberadaanku:

 

Kesuburan adalah berkah, panen berlimpah yang tiada pernah berakhir…

Lapis demi lapis rahim dimensi ruang dan waktu yang tiada batas…

Tetesan air mata yang mengaliri Maha Samudera Samsara, siapa yang dapat mengeringkannya,

hanyalah Engkau Yang Telah Terjaga…

Ibu dari para Buddha: adalah Ia yang tangkas dalam segenap pertolongan,

sang pembebas dari segala derita fisik dan ilusi…

 

Leluhurku adalah Ibu yang menanamkan nilai di setiap kode genetikku

Papa dan Mama adalah Ibu yang mengukir jiwa dan ragaku

Guru, sahabat dan musuh adalah ibu yang menempa pengetahuanku

Bumi dan langit adalah Ibu yang selalu menjaga keharmonisanku

Sepuluh penjuru mata angin adalah Ibu yang selalu memberi arah dan petunjukku

Para Dewa dan Brahma yang bertahta di seribu kelopak teratai Mahkotaku adalah Ibu kebajikan luhurku

Buddha, Dharma, dan Sangha adalah Ibu perlindungan spiritualku

Semua makhluk adalah Ibu yang ‘melahirkan’ para Buddha


Sumber: Buddhazine.com

Dibaca : 2293 kali