x

Pengalaman CEO Twitter Rayakan HUT Dengan Retret Meditasi Vipassana

Yangon, Myanmar – Banyak orang merayakan ulang tahun mereka dengan pesta, makan-makan, dan musik. Tetapi tidak dengan CEO Twitter Jack Dorsey saat ia merayakan ulang tahunnya 19 November 2018 lalu.

Jack Dorsey melakukan pendekatan yang berbeda dalam merayakan ulang tahunnya kali itu dengan perjalanan meditasi dalam hening selama 10 hari di sebuah pusat meditasi di Myanmar.

Di sana ia mempraktikkan teknik meditasi Vipassana yang ia sebut akan “meretas lapisan pikiran yang paling dalam dan memprogramnya kembali.” Perjalanannya retret meditasinya tersebut ia tuangkan dalam kicauannya di akun Twiter pribadinya pada 8 Desember 2018.

“Untuk ulang tahun saya tahun ini, saya melakukan meditasi Vipassana hening 10 hari, kali ini di Pyin Oo Lwin, Myanmar. Kami melakukan hening pada malam ulang tahun saya, tanggal 19. Inilah yang saya tahu,” mengawali kicaunya.

Jack menjelaskan mengenai teknik meditasi Vipassana yang diketemukan kembali oleh Buddha Gotama pada 2.500 tahun yang lalu melalui eksperimen diri ilmiah yang ketat untuk menjawab pertanyaan: bagaimana saya menghentikan penderitaan?

“Tujuan tunggal Vipassana adalah untuk meretas lapisan pikiran yang paling dalam dan memprogramnya kembali: alih-alih secara tidak sadar bereaksi terhadap perasaan sakit atau senang, secara sadar mengamati bahwa semua rasa sakit dan senang tidak permanen, dan pada akhirnya akan berlalu dan lenyap,” jelasnya.

Menjelaskan mengenai metode meditasi yang banyak beredar yang tujuan akhirnya hanya untuk memperkuat konsentrasi dengan fokus pada nafas semata, Jack mengatakan bahwa tujuan itu bukan tujuan akhir yang ingin dicapai oleh Sri Buddha.

“Ia (Sri Buddha) ingin mengakhiri keterikatannya pada kehausan akan (kesenangan) dan kebencian akan (rasa sakit) dengan mengalaminya secara langsung. Teori-Nya adalah mengakhiri kemelekatan mengakhiri penderitaan-Nya,” katanya.

Jack mengingat kembali pengalaman meditasi Vipassana yang menurutnya berbeda dengan meditasi lainnya yang sering dianggap menenangkan, rileks, dan detoksifikasi dari semua kebisingan di dunia.

“Ini (Vipassana) merupakan kegiatan fisik dan mental yang sangat menyakitkan dan menuntut. Saya tidak mengharapkan hal itu (saat) pertama kali saya (melakukannya) tahun lalu. Bahkan lebih berat tahun ini saat saya melangkah lebih dalam,” kenangnya atas kedua retret Vipassana yang ia jalani.

Jack tinggal di Dhamma Mahimã, pusat meditasi Vipassana gratis di Pyin Oo Lwin, Myanmar. Selama masa tinggalnya, Dorsey tidur di kamar sederhana dengan tempat tidur dengan sebuah bantal dan tanpa kasur.

Ketika berada di sana selama 10 hari, dia tidak diperkenankan membaca, menulis, berolahraga atau mendengarkan musik. Dia tidak diperkenankan mengkonsumsi minuman keras atau daging, dan berbicara serta melakukan kontak mata.

“Saya bangun jam 4 pagi setiap hari, dan kami bermeditasi sampai jam 9 malam. Ada istirahat untuk sarapan, makan siang, dan berjalan. Tidak ada makan malam,” katanya.

Dalam cuitannya tersebut, jack juga mengagumi keindahan dari Myanmar di mana masyarakatnya penuh sukacita dan makanannya yang luar biasa.

“Saya mengunjungi kota-kota Yangon, Mandalay, dan Bagan. Kami mengunjungi dan bermeditasi di banyak vihara di sekeliling negara tersebut,” kenangnya.

“Bagian terpenting dari perjalanan saya adalah menyajikan makanan bagi para biarawan (bhikkhu) dan biarawati (thilashin), dan menyumbangkan sandal dan payung. Kelompok biarawati muda di Mandalay ini dan lantunan mereka menakjubkan dan menenangkan.”

Jack juga menceritakan kisah saat kelompoknya bermediasi di sebuah gua pada suatu malam. Di sana ia mengatakan mendapat gigitan nyamuk sebanyak 117 gigitan.

Untuk melacak dan mengetahui kondisi detak jantungnya saat meditasi Vipassana, Jack menggunakan jam tangan pintar dan cincin pintar yang ia setel dalam mode pesawat. Ia menemukan bahwa detak jantungnya secara konsisten berada di bawah 40 saat ia tidur.

Jack mendorong para pembaca cuitannya yang memiliki ketertarikan terhadap Vipassana untuk mencoba meditasi tersebut, seperti yang pernah ia alami.

“Saya telah bermeditasi selama 20 tahun, dengan 2 tahun terakhir fokus pada Vipassana. Setelah mengalaminya di Texas tahun lalu, saya ingin pergi ke daerah yang mempertahankan latihan dalam bentuk aslinya. Itu yang membawa saya ke Myanmar,” katanya mengakhiri kisah pengalamannya.[Bhagavant, 19/1/19, Sum]

Dibaca : 540 kali