x

Agama Dan Empati

Pakaiannya berlebihan. Ia seperti orang dari masa lalu dan dari dunia lain yang berkunjung ke bumi. Jalannya sangat percaya diri. Tak sadar, ia menjadi pusat perhatian sekitarnya.

Imannya tebal, namun dangkal. Ia percaya buta pada ajaran agama warisannya. Semua kata ditelan mentah-mentah. Jika disuruh membakar diri pun ia rela melakukannya.

Ia juga senang bergerombol. Jika sendirian, ia takut, dan tak percaya diri. Dengan bergerombol, ia bisa bersikap sombong dan seenaknya. Dengan bersembunyi di balik jubah agama, dan gemar bergerombol dengan teman-temannya, ia suka menindas orang-orang yang lebih lemah.

Ironinya, orang-orang semacam ini hanya “pasukan rendahan”. Mereka dipergunakan oleh kekuasaan yang sempit dan korup. Mereka menjadi alat penguasa yang busuk. Tak heran, mereka kerap kali mendapat banyak sponsor, baik dalam bentuk uang maupun nasi bungkus, hanya ketika peristiwa politik besar tiba.

Mereka juga menjadi mesin pendulang uang bagi penguasa busuk. Mereka rela memberikan uang mereka, kerap kali tanpa kejelasan, bagaimana uang itu dipergunakan. Akibatnya, segelintir elit politik, termasuk pemuka agama, hidup kaya raya. Sementara, pengikutnya hidup dalam kemiskinan yang mencekik.

Agama tanpa empati

Ini semua terjadi, karena agama kehilangan empati. Agama menjadi sistem yang mandiri, terlepas dari kehidupan manusia sehari-hari. Agama juga hanya menjadi pelarian, karena sistem politik dan ekonomi yang bobrok. Agama tanpa empati berarti agama itu sudah kehilangan inti utamanya.

Empati adalah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Empati berarti, orang menunda sudut pandangnya sendiri, dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Empati adalah inti dari dialog yang sehat. Di dalam masyarakat demokratis, seperti Indonesia, empati adalah dasar dari kehidupan bersama yang sehat.

Mengapa di Indonesia, agama bisa kehilangan empati? Padahal, inti dari semua agama adalah sikap welas asih. Sikap ini lahir dari kesadaran mendalam, bahwa segala sesuatu adalah satu, yakni bagian dari alam semesta yang nyaris tak berhingga ini. Bentuk nyata dari ini adalah empati.

Ada empat sebab dari krisis empati. Pertama, pemahaman agama di Indonesia masih amat dangkal. Ajaran asing diambil begitu saja, tanpa pengolahan lebih jauh. Kedalaman dimiliki beberapa pihak, namun ia kurang tersebar di masyarakat luas, karena memang butuh usaha lebih besar untuk dipahami. Budaya berpikir instan zaman ini juga turut menyumbang dari kedangkalan pemahaman agama yang terjadi.

Dua, kedangkalan beragama juga lahir dari matinya sikap kritis. Sikap kritis adalah sikap tidak gampang percaya. Orang lalu mencari lebih dalam dari apa yang didengar atau dibacanya. Sikap kritis merupakan bagian penting dari pendidikan bermutu tinggi. Tanpa sikap kritis, empati juga akan tergilas oleh prasangka buta.

Tiga, krisis empati juga berakar pada krisis berpikir. Dunia pendidikan Indonesia memang tidak mendidik untuk berpikir, melainkan sekadar berhitung dan menghafal. Pola ini hanya menghasilkan kedangkalan, tidak hanya di dalam hidup beragama, tetapi juga di bidang-bidang kehidupan lainnya, seperti politik maupun ekonomi. Ini bisa dilihat dengan mudah dari bagaimana kita di Indonesia mengelola kota-kota besar yang kita punya.

Empat, agama kehilangan empati, ketika ia hanya menjadi kendaraan politik dan ekonomi kelompok-kelompok busuk semata. Ajaran agama tidak diperhatikan. Moral tak diperhatikan. Empati lenyap ditelan udara. Yang tampak hanya kerumunan tak berpikir dan tanpa arah saja, siap untuk diperas oleh penguasa politik dan ekonomi busuk.

Lima, empati juga lenyap, ketika ketakutan berkuasa. Ketakutan membuat orang, atau kelompok, menjadi agresif. Ini terjadi, karena identitas dan ilmu pengetahuan mereka amat lemah serta dangkal. Kedalaman dan kokohnya identitas akan membawa pada sikap hening dan bersahaja.

Mengembalikan empati

Empati tidak akan pernah hilang. Ia adalah kemampuan alamiah manusia. Namun, ia harus dilatih. Ada empat hal yang kiranya bisa ditawarkan.

Pertama, kita harus mendalami agama sampai ke akarnya. Jangan hanya berhenti soal aturan, cara berpakaian atau penampilan luar semata. Inti dari semua agama adalah meleburnya jati diri kita dengan semesta, sehingga semua perbedaan hilang. Di titik ini, empati akan muncul secara alami.

Dua, Indonesia harus melakukan revolusi secara mendasar. Mutu pendidikan kita amat sangat rendah. Mendidik nurani, empati, dan akal budi harus dilakukan. Pola hafalan dan patuh buta harus disingkirkan.

Tiga, di ranah hukum, kita perlu untuk membuat aturan tegas pelarangan penggunaan agama untuk politik kekuasaan. Ajaran-ajaran agama bisa menjadi terang moralitas bagi arah politik. Tapi, ia tidak boleh digunakan di ruang publik untuk kepentingan politik sempit dan busuk. Aturan ini harus dibuat dasar hukumnya, dan diterapkan dengan tegas.

Empat, langkah terpenting adalah dengan mengembalikan spiritualitas ke dalam kehidupan. Agama adalah organisasi ciptaan manusia yang tak lepas dari korupsi, kolusi, nepotisme dan kepentingan-kepentingan sempit lainnya. Sementara, spiritualitas adalah soal jalan hidup, supaya orang bisa menemukan dirinya yang sejati, dan menjadi tercerahkan. Di titik ini, empati akan muncul secara alami, karena empati adalah bagian penting dari spiritualitas.

Jalan Dharma bisa menjadi satu kemungkinan, dari banyak kemungkinan lainnya. Dharma adalah jalan hidup untuk menyentuh inti terdalam dari diri manusia. Inti ini bersifat abadi, jernih dan penuh kebijaksanaan. Hanya dengan ini, empati bisa muncul secara alami, dan mewarnai langsung kehidupan manusia. Agama, yang dipeluk dalam spiritualitas, akan membawa kedamaian, tidak hanya di dalam hubungan antar manusia, tetapi juga di dalam diri pribadi.

Bukankah itu yang kita semua inginkan?

Disadur dari: http://buddhazine.com

Dibaca : 76 kali