x

Musik, Bahasa Universal Spiritual

Menurut ajaran Buddha, mendengar merupakan satu dari persepsi manusia yang paling peka. Melalui suara, kita dapat menghargai, bukan saja arti tetapi juga perasaan, bukan hanya tujuan, tetapi juga aspirasi. Sebuah pidato yang inspiratif dapat memindahkan gunung dan memotivasi jutaan orang, sedangkan ujaran kebencian dapat menyebabkan konflik bahkan peperangan.

Mendengar dengan welas asih berarti, “Mendengarkan secara mendalam tanpa bereaksi atau menghakimi,” sedangkan berbicara dengan kata-kata penuh cinta berarti menahan diri dari, “Mengutarakan kata-kata yang dapat menciptakan perselisihan atau menyebabkan perpecahan.”

Komunikasi dimaksudkan untuk memberikan kontribusi bagi ruang yang mendamaikan. Dalam latihan “Tutur Kata Cinta,” disarankan agar, “Menyadari bahwa kata-kata dapat menciptakan kebahagiaan atau penderitaan, kita berkomitmen untuk belajar untuk berbicara penuh kebenaran, penuh kasih, dan bersifat membangun.”

Kita hanya akan menggunakan kata-kata yang mengilhami suka cita, kepercayaan diri, dan harapan, serta meningkatkan persatuan dan perdamaian dalam diri kita sendiri dan di antara orang-orang. Kita akan berbicara dan mendengar dengan cara sedemikian rupa, yang dapat membantu diri kita sendiri dan orang lain untuk mentransformasikan penderitaan dan melihat jalan keluar dari situasi-situasi sulit.

Kita bertekad untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak benar, baik demi kepentingan pribadi maupun untuk membuat orang lain terkesan, juga tidak mengutarakan kata-kata yang bisa menyebabkan perpecahan atau kebencian.

Frekuensi

Jika suara yang bisa didengar tidak dapat menempuh jarak yang jauh, sebaliknya, frekuensi elektromagnetik dapat melintasi banyak galaksi, bertahun-tahun cahaya jauhnya dari bumi. Dewasa ini, gelombang radio yang kuat yang berulang-ulang dan misterius terdeteksi dari galaksi lain yang jauhnya sekitar 3 milyar tahun cahaya.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin untuk membayangkan bagaimana Avalokiteshvara dapat mencerap suara dari jauh. Hal yang sulit untuk dipahami yaitu kapasitas luar biasa dari sang bodhisattwa untuk mendengarkan segenap makhluk hidup, mengatasi ragam perbedaan dalam hal bentuk dan penampilan fisik, konsep, serta ideologi.

Suatu cara untuk mengatasi halangan dalam hal bahasa dan kebudayaan, adalah melalui bahasa universal, musik. Dalam latihan Buddhis, chanting merupakan cara yang unik untuk terlibat dalam latihan bersama, baik dalam bahasa Mandarin, Inggris, Pali, Sanskrit, maupun Tibetan.

Seringkali kita tidak tahu arti naskahnya, tetapi kita dapat mengikuti pelafalannya. Kita dapat mengumpulkan arti naskah seiring berjalannya waktu, melatihnya secara runut, dan secara bertahap mengintegrasikan suara dengan arti serta tindakan.

Baca juga: RUU Permusikan dan Ancaman Pengembangan Lagu-Lagu Buddhis

Melalui chanting, suara dan irama dapat, “Melembutkan jiwa, memulihkan hati, menyatukan kehidupan-kehidupan yang telah tercerai-berai.” (Gilpin 2019 ) Suara dan musik dapat menyatukan kita semua, menghubungkan suara luar dengan suara dalam batin kita karena, “Musik membangun sebuah jembatan, ia dapat meruntuhkan dinding (pemisah) Musik merupakan sebuah bahasa, yang dapat berbicara pada seseorang dan semuanya. Ia adalah suara dari harapan, sebuah suara (yang menyuarakan) perdamaian.”

Tantangan untuk menerapkan teknik-teknik komunikasi yang baru pada tradisi kuno, bukan saja dalam hal pemilihan pengantar dan isinya. Komunitas dan generasi yang berbeda mungkin membutuhkan media yang berbeda untuk mengekspresikan arti, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa pengantar merupakan sebuah cara terampil yang pada akhirnya memiliki tujuan tertentu.

Bagi latihan Buddhis, cara terampil (upaya-kausalya) ditujukan bagi penyebarluasan ajaran dapat mencakup mulai dari chanting, meditasi, ceramah, musik, video, media sosial, media cetak tradisional, dan sebagainya.

Tantangan sesungguhnya juga terletak pada tujuan akhir, yaitu pemurnian pikiran kita dan penghentian penderitaan. Saat kita berusaha menerapkan beragam metodologi baru atau pendekatan baru dalam praktik Buddhis, kita harus secara mendalam merenungkan, mengapa kita berubah.

Sumber: http://buddhazine.com

Dibaca : 40 kali