x

Mencari Kebahagiaan Sejati

Khusus untuk manusia, pengalaman mencari kebahagiaan adalah soal rumit. Kita cenderung mencari di tempat yang salah. Akhirnya, tenaga habis, lelah, namun tetap tak bahagia. Tak hanya itu, kita bahkan lebih menderita, ketika kita mencari kebahagiaan di tempat yang salah.

Ini terjadi, karena kita salah paham. Sistem pendidikan kita tak mengajarkan jalan untuk mencapai kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan semacam ini memberi kedamaian, tidak hanya sesaat, tetapi kedamaian yang berkelanjutan. Sebaliknya, kita justru diajarkan untuk mencari kebahagiaan di tempat-tempat yang salah.

Tempat-tempat yang salah

Kita diajarkan, bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan uang. Paham semacam ini diajarkan di mana-mana, baik di keluarga, di sekolah bahkan di dalam agama. Uang memberikan kenyamanan hidup sampai pada tingkat tertentu. Namun, lebih dari itu, uang menjadi sumber kecemasan baru, dan mendorong orang untuk menjadi rakus.

Kita juga diajarkan, bahwa karir yang lancar akan membuat kita bahagia. Untuk itu, kita harus belajar rajin. Kita harus tekun bekerja, dan rajin menabung. Ironisnya, ketika karir sudah menjulang tinggi, ketidakpuasan tak juga hilang. Tidak hanya itu, kesehatan pun kerap menjadi korban, karena sibuk mengejar karir di waktu-waktu sebelumnya.

Kekuasaan juga dianggap sebagai sumber kebahagiaan. Kekuasaan akan mendatangkan rasa hormat dari orang lain. Namun, kenyataannya, kekuasaan justru membuat orang gelisah dan rakus. Ketika rasa hormat tak datang dari orang lain, penderitaan, dan bahkan konflik, pun muncul.

Baca juga: Melatih Diri Mencapai Kebahagiaan Sejati

Berbagai kenikmatan hidup lainnya, seperti seks, makan dan belanja, memang menghasilkan kenikmatan sementara. Namun, yang kerap kali terjadi, penderitaan datang berkunjung, entah dalam bentuk penyesalan, atau hutang yang harus dibayar. Ini bagaikan menjilat madu di atas pisau tajam. Memang, rasanya manis. Tapi, lidah langsung tersayat, dan kemudian bercucuran darah.

Belakangan ini, terutama di Indonesia, kepatuhan buta pada ajaran agama dianggap sebagai jalan menuju kebahagiaan. Di satu sisi, kepatuhan buta akan membuat orang gampang ditipu oleh para pemuka agama busuk untuk memperkaya diri mereka. Di sisi lain, kepatuhan buta akan melahirkan fanatisme dan radikalisme agama. Ini akan menciptakan perpecahan di dalam hidup bersama, bahkan berujung pada tindakan makar dan terorisme.

Indonesia sudah kenyang dengan pengalaman buruk dengan radikalisme agama.

Hukum alam

Mengapa kebahagiaan sejati tetap tak dapat diraih, walaupun kita sudah berusaha? Ada tiga hal yang patut diperhatikan. Pertama, segala sesuatu berubah, termasuk pikiran dan perasaan kita. Di satu waktu, kita menginginkan sesuatu. Namun, ketika kita mendapatkannya, kita tak lagi menginginkannya.

Segala hal di dunia juga terus berubah. Kenikmatan datang, lalu pergi. Penderitaan juga datang, lalu berlalu. Tak ada hal di dunia yang bisa memberikan kita kepuasan ataupun kebahagiaan yang lestari.

Dua, segala sesuatu itu kosong. Ia tak punya inti di dalamnya. Dunia materi itu bagaikan bayangan yang seolah ada, tetapi tidak dapat sungguh digenggam. Tidak hanya ajaran filsafat berusia ribuan tahun yang menyatakan ini. Ilmu pengetahuan modern, terutama fisika teoritis, pun menyatakan hal serupa.

Karena terus berubah dan kosong, dunia tak akan bisa memberikan stabilitas hidup. Rasa tidak aman selalu bercokol, lepas dari seberapa besar harta dan kuasa yang dipunyai seseorang. Ketidakpuasan, dan bahkan kekecewaan, akan selalu muncul. Apa jalan keluar dari semua ini?

Mencari ke dalam

Dua buku saya yang terbit tahun lalu (2018), yakni Dengarkanlah: Pandangan Hidup Timur, Zen dan Jalan Pembebasan serta Mencari Ke Dalam: Zen dan Hidup yang Meditatif, juga bergulat dengan persoalan serupa. Jika orang terus mencari kebahagiaan di luar dirinya, ia akan menderita. Jalan kebahagiaan adalah melihat ke dalam diri, yakni melihat latar belakang “pengalaman sadar” yang ada di balik semua bentuk emosi maupun pikiran yang muncul.

Setiap detik, kita selalu memiliki “pengalaman sadar” ini. Misalnya, kita sadar, bahwa kita sedang marah. Kita sadar, bahwa badan kita sedang lelah. Setiap bentuk emosi, pikiran dan keadaan tubuh kita selalu berada di dalam “pengalaman sadar” ini. Kita hanya perlu mengarahkan perhatian tidak ke isi kesadaran, seperti pikiran ataupun emosi, tetapi pada “pengalaman sadar” yang menjadi latar belakangnya.

“Pengalaman sadar” ini sifatnya kosong, jernih dan mendamaikan. Ia tidak terpengaruh oleh beragam pikiran maupun emosi yang muncul, sekuat apapun pikiran dan emosi tersebut. Sebaliknya, “pengalaman sadar” inilah yang memungkinkan semua pikiran dan emosi itu muncul. Ia adalah sumber dari semua pengalaman manusia.

“Pengalaman sadar” terletak di latar belakang semua pikiran dan emosi yang ada. Ketika menyentuhnya, kita akan menemukan kedamaian yang sejati. Kita akan merasa seperti di rumah. Semua bentuk kesepian, ketakutan dan kemarahan luruh di dalam “pengalaman sadar” ini.

“Pengalaman sadar”

Dua hal kiranya bisa membantu menjelaskan. Pertama, “pengalaman sadar” itu seperti layar film. Sementara, emosi dan pikiran, sekuat apapun, hanya filmnya saja. Layar tak berubah, walaupun film dimulai dan berakhir. Di dalam dunia yang terus berubah, pengalaman sadar ini bersifat abadi dan stabil.

Dua, “pengalaman sadar” ini seperti langit. Ia selalu menjadi latar belakang dari semua cuaca yang ada, baik terang ataupun hujan badai. Cuaca berganti. Namun, langit tetap sama. “Pengalaman sadar” itu seperti ruang yang siap menampung segalanya, tanpa terganggu apapun.

Untuk mencari kebahagiaan yang lestari, kita hanya perlu memperhatikan “pengalaman sadar” ini dari saat ke saat. Segala bentuk emosi dan pikir lahir serta lenyap di dalam “pengalaman sadar” ini. Kedamaian alami, yang merupakan keadaan alami dari hidup, akan tampil dengan sendirinya. Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh tantangan ini, “pengalaman sadar” adalah surga.

Tak percaya? Silahkan dicoba.

Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 5912 kali