x

Sila Pertama

Pertanyaan:

Namo Buddhaya, Umat Buddha di Sri lanka banyak yang menjalani vegetarian. Jika satu kota pada melaksanakan pancasila, maka tidak ada yg membunuh hewan, otomatis semuanya vegetarian. Sehingga dikatakan sila pertama dan vegetarian saling berhubungan. Sebaliknya umat Buddha Thai memiliki pendapat yang berbeda. Apakah benar Sang Buddha memperkenalkan pancasila (terutama sila ke 1) supaya vegetarianisme tercapai, dengan kata lain semangat apakah vegetarianisme terkandung di dalam sila ke 1? Umat Buddha Sri Lanka mempraktekkan Dhamma dari Sang Buddha, Umat Buddha Thailand juga sama. Tapi kenapa mereka bisa lain pendapatnya mengenai vegetarianisme? Apakah ini tergantung pendapat pribadi atau bagaimana? Apa yang sebenarnya yang Sang Buddha ajarkan? Terima kasih Bhante

Steve, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Steve di Sri Lanka,


Makan daging merupakan topik yang sangat sensitif. Ada beragam pandangan tentang makan daging dan setiap pandangan mungkin benar pada batas tertentu, tetapi pandangan-pandangan tersebut mungkin saja tidak bijaksana. Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan pandangan pribadi kita dan bersikap lebih terbuka untuk melihat pandangan Sang Buddha. Hal ini penting sekali karena Beliau adalah Tathagata yang mengetahui dan melihat.

Dalam Majjhima Nikaya 55, Khotbah ini penting sekali karena disini Sang Buddha menyatakan dengan jelas pendapat Beliau tentang makan daging.

Tabib Raja, Jivaka Komarabhacca, datang mengunjungi Sang Buddha. Setelah memberi penghormatan, dia berkata: “Yang Mulia, saya telah mendengar hal ini: ‘Mereka menyembelih makhluk hidup untuk Samana Gotama (yaitu Sang Buddha); Samana Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan kepadanya dari binatang yang dibunuh untuk dirinya’…”; dan bertanya apakah hal ini memang benar.

Sang Buddha menyangkal hal ini, menambahkan “Jivaka, saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging tidak diijinkankan untuk dimakan: apabila dilihat, didengar atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) … Saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging diijinkan untuk dimakan: ketika tidak dilihat, didengar, atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) ….”

Lebih lanjut, Sang Buddha menambahkan: “Jika seseorang menyembelih suatu makhluk hidup untuk Tathagata (yaitu Sang Buddha) atau para siswanya, dia menimbun banyak kamma buruk dalam lima hal … (i) Ketika dia berkata: ‘Pergi dan giring makhluk hidup itu’ … (ii) Ketika makhluk hidup itu menderita kesakitan dan kesedihan ketika dijerat dengan lehernya yang terikat … (iii) Ketika dia berkata: ‘Pergi dan sembelihlah makhluk hidup itu’ … (iv) Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih … (v) Ketika dia mempersembahkan kepada Tathagata atau para siswanya dengan makanan yang tidak diijinkan …. ”

Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Sang Buddha membedakan antara daging yang diijinkan1 dengan tiga kondisi dan daging yang tidak diijinkan. Ini adalah kriteria yang paling penting sehubungan dengan makan daging.

Selengkapnya dapat Anda baca di https://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/pandangan-sang-buddha-tentang-makan-daging/

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Tindakan Yang Tepat

Pertanyaan:

Namo buddhaya Bhante saya ingin bertanya jika suatu ketika saya menemukan uang atau barang yang cukup berharga di jalan tidak terdapat identitas pemilik dan disekitar daerah terserbut tidak ada orang, sebagai seorang umat buddha apa tindakan yang tepat yang harus saya lakukan tanpa melanggar sila ke dua "Aku bertekad akan melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan".apakah saya harus membiarkannya saja atau harus bertindak? Terimakasih Bhante.

Naya, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Naya di Jakarta,


Benar sekali, sebagai umat Buddha kita memiliki Sila untuk tidak mengambil barang yang bukan milik atau yang tidak diberikan. Dalam kondisi yang Anda tanyakan tsb, ada baiknya memberitahukan / menyerahkan kepada pihak yang berwajib.

Misalnya, Anda menemukan dompet yang tertinggal di kamar mandi sebuah stasiun, maka sampaikan hal ini kepada security stasiun. Apapun hasilnya, yang terpenting adalah niat mulia Anda untuk tidak mengambil barang tersebut.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Pelimpahan Jasa Kepada Orang Yang Masih Hidup

Pertanyaan:

Bhante, apakah bisa/boleh melimpahkan jasa kebajikan yang telah dilakukan kepada orang yang masih hidup? Contohnya kepada kedua orang tua yang masih hidup maupun kepada orang yang disayangi. Terima kasih.

Chandra, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Chandra di Jakarta,


Pada umumnya pelimpahan jasa dilakukan kepada sanak keluarga yang telah meninggal. Namun yang Anda maksud bisa dikatakan sebagai "Berbuat Baik atas nama orangtua."
Misalnya, Anda berdonasi kepada Panti Asuhan menggunakan/atas nama Ayah atau Ibu. Hal ini sangat baik, apalagi jika bisa mengajak kedua orangtua ikut bersama dalam kegiatan amal tersebut.

Demikian dan semoga dapat dipahami.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.


Atthasila

Pertanyaan:

Namo Buddhaya, Bhante. Saya ingin bertanya tentang 3 sila lanjutan dari pancasila secara terperinci. Sila ke 6 adalah makan tidak pada waktunya. Apakah jus buah termasuk? Keju, kopi, dan minuman coklat murni, apakah dilarang juga? Tentang sila ke 7, apakah bermain video game dilarang? Dan juga apa bermain social media (facebook instagram dsb) dilarang juga? Sila ke 8, apakah ranjang dilarang? Apakah definisi dari tempat tidur mewah? Maaf saya bertanya banyak, saya tidak bermaksud untuk berkompromi dengan sila, tetapi setiap saya melaksanakan sila di hari uposatha hal2 ini selalu terlewat di kehidupan dan saya selalu berpikir apakah saya melanggar sila atau tidak.

Alexander Khioe, Jakarta Pusat

Jawaban:

Kepada Yth. Alexander Khioe di Jakarta Pusat,

Untuk Jus diperkenankan namun dengan catatan buahnya tidak boleh lebih besar dari satu kepalan tangan dan tidak dicampur dengan susu. Sedangkan keju sebaiknya tidak dimakan, namun kopi dan cokelat murni yang tidak mengandung susu diperkenankan.

Bermain game adalah kesenangan indriawi, hal ini sebaiknya tidak dilakukan. Termasuk apabila menggunakan sosial media untuk bermain-main, sebaiknya juga tidak dilakukan selama melaksanakan Atthasila.

Tempat tidur mewah dimaksudkan yang terlalu besar dan tinggi.

Atthasila adalah kegiatan untuk melatih diri untuk pengendalian hawa nafsu, namun apabila karena kondisi yang tidak mungkin dilakukan, seperti halnya apabila tempat tidur yang dimiliki memang cukup besar, dsb maka tidak apa-apa. Hal ini bukanlah kamma atau karma buruk. Sekali lagi ingatlah bahwa Atthasila merupakan latihan.
Ibaratnya Anda berlatih olahraga, niat Anda ingin lari 10 putaran, namun setelah dijalani hanya mampu 8 putaran, tentunya tidak apa-apa. 

Namun, teruslah berlatih atas hal-hal yang kurang tersebut, supaya kedepannya latihan Atthasila Anda menjadi lebih sempurna.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta. 

Mengapa Umat Vihara Sekarang Tidak Ada Rasa Pesuli ?

Pertanyaan:

Mohon maaf sebelumnya. Saya sekarang ini dalam posisi terpuruk hidup nya. Sebelumnya saya pernah bekerja dan bahkan pernah berwiraswasta skala kecil sebagai dropshipper Tapi sayang nya semua langganan saya pada akhirnya di sabotase sama supplier saya. Sejak itu saya berusaha mencari pekerjaan tapi selama 1,5 tahun lebih pekerjaan yang saya harapkan tidak kunjung dapat. Dan pada akhirnya saya putuskan untuk meminta bantuan pekerjaan yang bisa menyediakan tempat tinggal dan makan 3x sehari dan salary saya bersedia untuk ikutin standart vihara yang berlaku. Kendala nya saya sudah beristri dan anak 1 usia 8 thn yang mana telah hampir 2 thn lebih sudah terpaksa putua sekolah. Nah yang menjadi kekecewaan saya adalah : saya audah datangi beberapa vihara di surabaya dan tulung agung bahkan sudah bertemu dengan bikkhu juga. Tapi tidak ada yang mau pwduli dengan keadaan saya. Padahal saya bukan datang untuk meminta bantuan uang atau niat jelek lainnya. Yang saya butuhkan hanya pekerjaan yang bisa memberikan tempat tinggal dan makan di vihara dengan anak istri saya. Dan bahkan beberapa menanggapi saya dengan sinia dan menaruh pikiran negatif. Sungguh saya tidak habis pikir mengapa manusia di tempat ibadah suci pun bisa berprilaku seperti itu. Saya juga telah jelaskan secara jujur bahwa hubungan saudaravsaya dan saudara istri saya pun tidak baik. Mereka tidak peduli dengan kondisi saya dan istri. Padahal saat keadaan saya masih baik semua saudara serasa baik walaupun saat itu saya tau kalau itu tidak tulus. Tapi pengalama. Yang saya beberkan tidak ada yang percaya. Padahal fakta saya dan istri alami semua itu. Kami sadar ini karma kami tapi kami sangat depresi dan kuatir karena biaya hidup kami cuma bisa bertahan 1 bulan. Yang kami butuhkan sekarang ini pekerjaan . Kami tidak butuhkan sumbangan karena itu bukan aolusi terbaik buat kami. Dan saya pun telah siap bekerja dalam posisi apapun tanpa ada rasa malu. Lalu mengapa semua jalan serasa tertutup ? Bahkan begitu banyak tempat ibadah buddha yang saya datangi semua tidak ada satupun yang peduli bahkan sinis. Apakah manusia jaman sekarang sudah tidak ada rasa kasihan terhadap sesama ? Lalu apakah di vihara umat juga saling memandang status sosial ? Kemanakah ajaran dharma yang mereka pelajari ? Saya kecewa sekali. Surat ini saya mohon maaf terlalu panjang. Saya juga tidak tau lagi harus bagaimana sekarang ini. Terima kasih

She Hua, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. She Hua di Jakarta,


Saudara kami memahami apa yang terjadi. Mengenai pekerjaan, apabila Anda berdomisili di Jakarta, cobalah datang ke Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, di sebelah kantor sekretariat ada Mading yang berisi cukup banyak Lowongan Kerja. Cobalah pilih dan melamar yang sesuai dengan bidang Anda.
Selain itu, melalui surat kabar Anda bisa mencobanya juga.

Demikian dan semoga segera mendapatkan perkerjaan yang sesuai.
Semoga Anda dan keluarga berbahagia selalu.

Salam Metta. 

Bertanya Tentang Ibu Saya Karena Pikirannya Sedikit Terganggu Sehingga Terus Berpikir Dan Menjadi Tidak Sehat

Pertanyaan:

Kenapa dengan ibu saya sejak tahun ini dia berpikir kalau dirinya sial klau usaha selalu gagal dan disirikin org org sehingga dia sekarang menyesal sampai detik ini tidak bisa melepaskan pikiran tersebut

Nanih, Jakarta Barat

Jawaban:

Kepada Yth. Nanih di Jakarta Barat,

Manusia adalah makhluk yang memiliki Citta (Pikiran). Pikiranlah yang membuat seseorang menjadi bahagia ataupun tidak. Cobalah menyampaikan ke Ibu Anda bahwa masih ada orang yang lebih "kurang" dibandingkan dirinya. Kadangkala seseorang berpikir demikian karena suntuk/jenuh dengan kondisi saat ini, sehingga diperlukan suasana baru--misalnya dengan bepergian sejenak/refreshing. Dengan demikian ia akan meilihat lingkungan sekitar dan melihat dirinya dari sudut pandang yang berbeda dan lebih baik.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Mempercepat Buah Karma Baik Matang

Pertanyaan:

Namo buddhaya bhante, saya mau bertanya apakah kita sebagai manusia bisa mempercepat atau mensegerakan berbuahnya karma baik yang kita miliki ? Kemudian apakah karma buruk yang kita miliki di masa sekarang atau masa lampau bisa dihapus atau dihilangkan? Anumodana bhante

Hendry Sidharta, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Hendry Sidharta di Jakarta,


Karma atau kamma baik dapat berbuah ketika seseorang banyak melakukan perbuatan baik, demikian pula akibat dari kamma buruk. Dengan memperbanyak perbuatan baik maka kamma buruk yang masih ada akan tertimbun sedikit demi sedikit.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Karma Baik

Pertanyaan:

Namo buddhaya, Saya ingin bertanya apakah karma baik bisa disangkut pautkan dengan keberuntungan seseorang? Ada yg bilang bahwa karma baik seorang anak akan habis jika dari bayi selalu diberikan kebutuhan yang lebih (seperti baju bagus, mainan bagus, dll) apa benar? Terima kasih

Liana, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Liana di Jakarta,


Kamma/karma atau niat yang baik tentu akan berbuah hal yang baik pula. Apabila seseorang terus melakukan perbuatan baik (Kamma/Karma Baik), niscaya hidupnya akan dipenuhi kebahagiaan, yang oleh masyarakat umumnya disebut Keberuntungan.

Seorang bayi tentunya memerlukan perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Kasih sayang tersebut juga dalam hal memberikan kebutuhan pakaian bagus, makanan bergizi ataupun mainan. Namun tentunya bukan berarti terus memanjakan Sang Anak. Karena dengan memanjakan tentunya perkembangan psikologinya menjadi kurang baik, ia akan merasa apabila ingin sesuatu maka orang lain harus menyediakannya, dsb.

Demikian dan semoga dapat dipahami.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.

Spiritual

Pertanyaan:

Saya beragama bkn buddha, tapi saya berniat pindah dan sudah bljr ttg parita serta sudah mengucapkan triratna dgn niat untuk menjadi buddhis.. walaupun blm mengucap sumpah di vihara.. Akhir akhir ini saya bermimpi sembahyang di klenteng dan bahkan bermimpi rupang dewi kwan im berbicara pada saya.. Kira kira apa maksud dari mimpi mimpi saya sudah ke 5 kalinya saya mengalami mimpi mimpi tersebut

Leslie, Manado

Jawaban:

Kepada Yth. Leslie di Manado,


Agama dipilih karena kecocokan pada batin pribadi masing-masing orang. Agama sebaiknya memberikan motivasi menjadi pribadi yang lebih baik. 

Mohon maaf kami tidak bisa "membaca" atau mengartikan mimpi Saudara, namun Dewi Kwan Im bisa diartikan sebagai sosok inspirasi cinta kasih yang mengasihi semua makhluk tanpa terkecuali.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Peruntungan, Jodoh, Dan Nasib

Pertanyaan:

Saya lahir pada tanggal 13-04-1990 dan calon pasangan saya pada tgl 01-09-1987. 1. Jika kami menikah, apakah baik untuk keharmonisan dan keuangan? Jika tidak, apakah ada syarat yang harus dipenuhi supaya tidak ciong/sial? 2. Saat ini kami berdua mempunyai usaha sendiri di depan rumah. Apakah bisa berkembang pesat? 3. Apakah perekonomian kami akan meningkat ? Terimakasih atas jawabannya

Alysia Cynthia Tanoto, Yogyakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Alysia Cynthia Tanoto di Yogyakarta,


1. Menikah adalah keputusan yang besar, yang mana perlu dipikirkan baik-baik dan dalam hal ini restu dari orangtua kedua belah pihak sangatlah dibutuhkan. Apabila masing-masing bisa menerima kekurangan (selain kelebihan) masing-masing, niscaya keluarga yang akan dibangun dalam pernikahan akan bahagia. Adanya selisih umur 3 tahun atau lainnya adalah mitos, yang terpenting adalah sikap saling menerima dan komunikasi yang baik.

2 & 3 Pekerjaan / usaha yang dilandasi niat baik tentunya bisa berkembang. Dan apabila Anda bisa mengatur cashflow dengan baik tentunya perekonomian keluarga akan baik dan meningkat.

Demikian dan semoga kebahagiaan ada pada Anda semua.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.