x

Bagaimana Mengobati Orang Yang Kena Santet Melalui Makanan Tapi Sudah Lama (25 Tahun)

Pertanyaan:

Bhante: Bagaimana ya mengobati orang yang kena santet melalui makanan yang sudah lama ( 25 Tahun) tetapi sudah diobati tapi kok tidak sembuh2.Dan sudah mencari paranormal

Ariestia, Medan-Sumatera Utara

Jawaban:

Kepada Yth. Ariestia di Medan


Saudara, sebelumnya apakah Anda memang yakin 100% kondisi tersebut memang karena santet?
Karena kekuatan apapun, khususnya hal yang tidak baik tidak akan kekal selamanya.

Namun Anda bisa mencoba membantu membacakan Karaniya Metta Sutta, untuk semua makhluk (untuk yang terindikasi korban ataupun pelaku/penyantet). Apabila "korban" masih memungkinkan, ajaklah membaca parita tersebut.
Kemudian lakukanlah pelimpahan jasa dan lengkapilah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik, khususnya apabila bisa dilakukan oleh "korban" itu sendiri.

Dengan demikian kiranya pengaruh negatif tersebut lambat laun akan terkisis oleh perbuatan-perbuatan baik.

Demikian dan semoga dapat dipahami.
Semoga semua makhluk berbahagia.

Salam Metta.

Prosedur Menjadi Ramani

Pertanyaan:

Namo Buddhaya Bhante, Saya ingin mengajukan diri menjadi Ramani, apakah ada kelas untuk menjadi Ramani, dan Dhammacaka punya jadwal kelas, kapan diadakannya? Syaratnya apa saja?. Terima kasih

Lisah , Cibubur, Bogor

Jawaban:

Kepada Yth. Lisah di Cibubur, Bogor


Anda bisa mengikuti Kursus Pandita yang diadakan oleh Magabudhi.
Untuk mengetahui kegiatan dan menghubungi pengurusnya, silahkan melihat web resmi Magabudhi di www.magabudhi.or.id atau laman Facebook di https://www.facebook.com/magabudhi.penguruspusat

Demikian dan semoga bermanfaat.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.


Surga

Pertanyaan:

Namo Buddhaya Saya Kevin dari Jakarta saya ingin bertanya jika ada "Makhluk" yang menempati sebuah pohon. Apabila kita menebang pohon tersebut, apakah kita berbuat karma buruk? dan apakah makhluk tersebut akan marah? Terima Kasih.

Kevin, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Kevin di Jakarta


Sebelum melakukan tebang pohon ada baiknya melakukan pelimpahan jasa yang diawali dengan pembacaan Karaniya Metta Sutta.

Demikian dan semoga dapat dipahami.

Salam Metta.

Menjalankan Pernikahan Setelah Kematian Keluarga

Pertanyaan:

Apakah bisa melaksanakan pernikahan apabila beberapa bulan sebelumnya ada keluarga yang meninggal atau harus diundur? Jika tidak bisa namun tetap dijalankan apakah ada akibat kedepannya. Tks

Sri Dewi, Bekasi

Jawaban:

Kepada Yth. Sri Dewi di Bekasi,


Memang biasanya jika demikian keadaannya, maka kegiatan bisa disesuaikan untuk menghormati keluarga yang telah meninggal. Namun, apabila segala sesuatunya seperti undangan, dan hal lainnya sudah dipersiapkan jauh hari, maka ada baiknya hal ini didiskusikan oleh kedua belah pihak keluarga.

Pada dasarnya penghormatan kepada sanak keluarga yang telah meninggal, bisa dilakukan kapan saja dan dengan cara yang beragam pula. Seperti nantinya Anda bisa menceritakan hal-hal baik yang telah dilakukan oleh mendiang kepada anak Anda.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Kamma

Pertanyaan:

Apakah jika kita membeli telur di pasar, menyuruh orang membeli telur di pasar, menyuruh orang lain memasaknya, atau memasaknya sendiri, kita sudah terlibat dengan kasus pembunuhan pada pancasila buddhis sila pertama? Apakah hal tersebut akan membuahkan kamma? (Karena perbuatam tersebut disertai adanya cetana)

Kevin, Medan

Jawaban:

Kepada Yth. Kevin di Medan,


Saudara, hal ini sama halnya ketika membeli daging yang tersedia di pasar. Di dalam dhamma, hal semacam ini tidaklah melanggar, karena sesungguhnya hal ini tidak sengaja dikondisikan untuk melakukan pembunuhan ayam atau hewan lainnya. Demikian halnya dengan telur.

Namun, jika makan telur terus menjadi kebimbangan, maka Anda bisa mengurangi sedikit demi sedikit. Hingga mungkin bisa menjadi seorang vegetarian atau vegan.
Dengan demikian apa yang dilakukan tidak menimbulkan kerisauan.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Bermeditasi

Pertanyaan:

cara bermeditasi untuk menetralisir energi negatif dari orang2 yg beraliran dukun.. apakah ada syarat2 tertentu yg hrs di persiapkan? untuk menguatkan energi di lingkup tempat usaha supaya terhindar dari energi negatif atau dari energi makhluk2 non kasat mata apakah di butuhkan persyaratan juga?

Ronny, Surabaya

Jawaban:

Kepada Yth. Ronny di Surabaya,


Saudara, bisa mencoba membaca Karaniyametta Sutta sebelum bermeditasi. Kemudian bermeditasilah seperti biasanya, lalu 5 menit terakhir sempatkanlah bermeditasi cinta kasih, memancarkan cinta kasih untuk diri sendiri hingga lingkungan sekitar, termasuk semua makhluk.

Demikian dan selamat mencoba.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.

Perasaan Cemas Dan Ragu

Pertanyaan:

Namo Buddhaya Bhante, Saya tdk tahu sejak kpn mulai begini, tapi saya selalu merasa cemas dengan apa yg saya kerjakan, seperti misalkan d kantor saya melakukan inputan nnti nya ketika pulang saya akan kembali berpikir tdi yg saya kerjakan benar tidak yah, pdhl saya sudah berkali2 memeriksanya, saya sudah berusaha untuk menenangkan pikiran dan berlatih utk rutin membaca paritta, namun blm mencoba meditasi, mungkin kiranya ada solusi lain utk saya... Terima kasih, Semoga semua Makhluk Berbahagia

Resty, Jambi

Jawaban:

Kepada Yth. Resty di Jambi,


Saudari, apa yang Anda alami jika dimaknai secara positif berarti Anda adalah pekerja yang baik dan bertanggung jawab. 

Dengan bermeditasi maka konsentrasi akan tercipta semakin baik dan tambah baik. Sehingga kecemasan akan berkurang. Cobalah bermeditasi.

Meditasi tidak harus duduk lama 1 jam, namun ketika Anda duduk di dalam bus misalnya, tatkala tidak ada yang dilakukan, cobalah mengamati nafas masuk dan keluar secara perlahan. Cobalah hal ini 1-3 menit untuk awal. Jika bisa, tingkatkanlah menjadi 5 menit hingga waktu kosong yang Anda miliki. Meditas sangatlah bermanfaat dalam hidup.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Mau Tanya...

Pertanyaan:

Saya mau tanya...apa boleh kita umat Budha berbisnis ikan hias Arwana?. solanya teman saya ajak saya join di sana?. Terima kasih.

Hendra, Serpong

Jawaban:

Kepada Yth. Hendra di Serpong,


Saudara, menurut Dhamma mata pencaharian  yang benar memiliki lima macam hal yang perlu dihindari, yaitu:

1.    Memperdagangkan barang-barang yang dipergunakan untuk membunuh makhluk-makhluk hidup, atau dengan kata lain senjata-senjata.
2.    Memperdagangkan manusia (perdagangan budak).
3.    Memperdagangkan binatang-binatang yang akan disembelih untuk makanan.
4.    Memperdagangkan minuman-minuman keras yang memabukkan.
5.    Memperdagangkan racun.
(Anguttara Nikaya III, 208)

Maka apa yang Anda lakukan adalah baik, tidaklah salah secara Dhamma. Namun, cobalah untuk memelihara ikan-ikan tersebut dengan baik. Misalnya memberikan tempat yang tidak sempit sehingga ruang geraknya terbatas. Hal ini tentunya memberikan perilaku yang kurang baik kepada makhluk lain.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Meraga Sukma

Pertanyaan:

Namo budhaya bante, sy Nicolas, jd kemarin malam saya meditasi nafas biasa, ga ada niat apa2. karena capek, saya berbaring di tempat tidur sambil melanjutkan meditasi nafas. lama2 saya udah kayak mau tidur, trus tiba tiba badan saya merinding, perut terasa di tekan, semua kesemutan, sampai kesemutan maksimal (kayak mau pingsan tapi tetap sadar), abis itu udah ga berasa kesemutan. dan langsung dada saya ke angkat dan badan saya ngambang. benar benar serasa ngambang kayak terbang. karena saya pernah baca2 tentang meraga sukma, langsung saya tahu bahwa saya sedang meraga sukma(mungkin) dan saya niatkan untuk terbang lebih tinggi, dan berhasil, saya terasa terangkat makin tinggi. tapi saya masih bingung apa yang sedang saya alami. beberapa kali saya niatkan untuk terbang lebih tinggi, setelah saya ga niatkan apa2, saya serasa perlahan turun dan kembali ke tubuh. kemudian saya merasa hangat di tangan, (tapi masih ada rasa mau ngambang2 tapi dikit), kemudian normal dan saya bisa menggerakan badan saya lagi.(semua kejadian diatas saya alami sadar dari awal sampe akhir) pertanyaannya, sebenarnya apa yang saya alami itu Bante, mohon penjelasannya, terima kasih.

Nicolas, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Nicolas di Jakarta,


Saudara ada banyak pengalaman unik ketika seseorang dalam kondisi tenang dan fokus bermeditasi. Ada yang melihat cahaya terang merah, kuning dan sebagainya. Hal ini seperti yang Anda alami. Hal ini dimaknai baik, karena Anda berkonsentrasi dengan baik.

Namun, jika kembali ke tujuan bermeditasi adalah ketenangan batin, maka dianjurkan tatkala mengalami hal-hal tersebut maka sadarilah untuk kembali ke objek meditasi, misalnya nafas masuk dan keluar.

Ada beberapa pemeditasi yang memaknai hal-hal tersebut dengan harapan "kesaktian atau hal gaib". Namun, meditasi yang Sang Buddha ajarkan bertujuan untuk batin yang tenang sehingga menimbulkan kebijaksanaan.

Demikian semoga dapat dipahami. Semoga berbahagia.

Salam Metta.

Wasiat Dan Harta Warisan

Pertanyaan:

Apakah ada pembahasan pembagian harta warisan dalam budha?

Luki Permana, Bogor

Jawaban:

Kepada Yth. Luki Permana di Bogor,


Saudara, jika warisan yang Anda maksud berupa materi, maka seorang buddhis bisa mengikuti hukum atau undang-undang yang berlaku. Namun jika yang dimaksud secara global, Sang Buddha mengajarkan kebijaksanaan hidup.

Sesuai dengan Sigalovada Sutta maka orang tua mempunyai kewajiban "memberikan warisan" terhadap anaknya sebagai berikut :
Mencegah anak berbuat jahat
Menganjurkan anak berbuat baik
Memberikan pendidikan profesional kepada anak
Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak
Menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat
(Digha Nikaya III, 189) 

Memberikan pendidikan profesional kepada anak.
Pendidikan yang baik sebenarnya adalah warisan yang paling berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anak. Melatih dan mengajarkan anak memiliki kepandaian dan ketrampilan agar mempunyai profesi yang dapat diandalkan, sebagai modal untuk mandiri adalah sangat penting, karena suatu saat ia harus mencari nafkah sendiri.

Demikian dan semoga dapat dipahami. Semoga berbahagia.

Salam Metta.