x

Menjadi Samanera

Pertanyaan:

Apakah ada batasan umur untuk menjadi seorang samanera atau bikhu, terima kasih.

Hemdri Liu, Bogor

Jawaban:

Kepada Yth. Hendri Liu di Bogor,


Tidak ada batasan usia, namun yang menjadi syarat menjadi Samanera ataupun Bhikkhu adalah ijin dari orang / keluarga dekat, selain tentunya keyakinan pada pilihan diri sendiri.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Ingin Menjadi Bhikhuni

Pertanyaan:

mohon di bantu informasinya bila ingin jadi calon samanera dan samaneri dimana tempatnya dan harus ke mana ya?

Yeni Lee, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Yeni Lee di Jakarta,


Silahkan membuka tautan berikut (untuk jadwal lengkapnya) http://dhammacakka.org/?channel=info&mode=detailkegiatan&id=775.
Demikian.

Salam Metta.

Selalu Apes

Pertanyaan:

Namo Buddhaya Bhante, Sy umur 30 thn, mengapa dlm hidup saya tdk prnah bhagia. Slalu di lilit hutang, bgitu jg kkak & ayah sy bernasib sama dililit hutang. Dan sy sendiri sampai skg jg blum punya jodoh atau pasangan. Mohon sarannya bhante. Apa yg hrs sy lakukan. Agar bisa hidup ini menjadi lebih baik. Terima Kasih

Yulia, Mdn

Jawaban:

Kepada Yth. Yulia di Medan,


Kami memahami apa yang Anda alami saat ini, namun cobalah menengok orang-orang yang tingkat ekonominya ada di bawah Anda. Mereka ada yang tidak punya rumah, bahkan berteduh dari panas atau hujan pun sulit. Demikian pula persoalan seperti jodoh.

Cobalah memperbanyak teman dengan masuk ke komunitas anak muda. Tentunya pilihlah yang cocok dan baik bagi Anda.

Dengan mencoba bersyukur atas yagn dialami saat ini, sedikit demi sedikit Anda akan lebih memaknai kehidupan lebih baik.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

ROMO PERNIKAHAN

Pertanyaan:

Dear Admin, Selamat siang, Saya ingin bertanya Romo untuk konsultasi masalah pernikahan. Boleh diinfokan, Nama Romo dan Nomor Contact nya (NO HP) Thanks &Regards Mariana

MARIANA, JAKARTA

Jawaban:

Kepada Yth. Mariana di Jakarta,


Data atau kontak Romo Pandita dapat Anda dapatkan melalui Sekretariat Vihara, di nomor (021) 6471.6739 & 6414.304.
Demikian.

Salam Metta. 

Hari Uposatha

Pertanyaan:

saya ingin bertanya mengenai latihan atthasila di hari uposatha, kita atthasila pas di ceit capgo nya, atau 1 hari sebelum ceit capgo ?? dan untuk wkt makan yg benar nya gimana yah? terima kasih

Yulia, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Yulia di Jakarta


Sesungguhnya latihan Atthasila dapat dilakukan kapanpun, namun beberapa umat buddhis melakukan pada saat Ce It dan Cap Go.

Ada beberapa jenis makanan yang masih bisa dikonsumsi setelah tengah hari (jam 12.00), misalnya saja teh/kopi manis, madu, permen, dan juga coklat. Hanya saja perlu diingat bahwa minuman (dan makanan) itu hendaknya tidak mengandung susu.

Sebenarnya Atthasila masih terkait juga dengan pengendalian diri tidak hanya mengenai menahan lapar. Sedangkan pengendalian diri, salah satunya adalah, yaitu: Indriya-samvara (pengendalian indera dalam menanggapi objek). Di dalam latihan pengendalian diri, seyogyanya pemakaian sesuatu tidak dimaksudkan untuk meningkatkan lobha, dosa, moha.

Demikian dan semoga dapat dipahami.
Semoga berbahagia.

Salam Metta.


Dana Minuman Sesudah Trngah Hari

Pertanyaan:

Namo Buddhaya Bhante, Mau tanya , apakah dalam peraturan pata bhikkhu Theravada dibolehkan minum jus nanas yang ukuran buahnya kurang lebih sekepalan tangan ? Mttctn Kus

Kusuma, Bogor

Jawaban:

Kepada Yth. Kusuma di Bogor,


Apabila sudah lewat tengah hari (pukul 12.00 waktu setempat), maka berikut aturannya:

Antara lain: tidak mengandung partikel sisa bila berbentuk juice. Dan buah yang diperbolehkan untuk juice bagi komunitas Bhikkhu tertentu adalah yang bukan tergolong grain. 

Yang termasuk grain, adalah The great fruit, antara lain: palmyra, kelapa, nangka, breadfruit, bottle gourd, white gourd, muskmelon, semangka, squash (Buddhist Monastic Code hal.339). 

Itu sekilas ulasan kami. Bila ingin lebih lengkap mengetahuinya, silakan membaca buku "The Bhikkhus' Rules, A guide for lay people". 

Demikian dan semoga bermanfaat.

Salam Metta.

Ingin Mengundang Bhante Makan Siang

Pertanyaan:

Selamat siang. Saya salah satu umat di vihara dhammacakka sunter. Sudah lama saya berkeinginan untuk mengundang bhante di vihara untuk dana makan siang. Apakah bisa? Bagaimana caranya? Apakah diperboleh kan mengundang bhante makan siang di luar rumah? Misal nya di restoran? Terima kasih.

Chandra, Jakarta

Jawaban:

Kepada Yth. Chandra di Jakarta,


Terima kasih dan anumodana atas niat baik Anda. Umat bisa mengundang Bhikkhu untuk kegiatan di luar vihara, seperti untuk pemberkahan rumah, pembacaan paritta, dsb. termasuk apabila umat ingin dana makan siang.
Akan lebih baik jika dana makan siang dilakukan di rumah saja, sehingga Bhikkhu yang diundang pun bisa lebih nyaman.

Demikian, semoga berbahagia.

Salam Metta.


Menghalangi Perbuatan Baik

Pertanyaan:

Bhante, saya telah berkeluarga dan tinggal di tangerang, mama saya tinggal di Bekasi, saya dan istri bekerja penuh waktu (pergi pagi pulang malam) dan saya mempunyai 2 orang anak yang besar berumur 3 tahun dan yang kecil berumur 1 tahun, dikarenakan kami berdua bekerja anak kami di asuh oleh satu orang pembantu dan saya minta tolong ke mama saya untuk tinggal di rumah saya sambil bantuin menjaga anak saya di rumah saya di Tangerang. Di Bekasi mama saya aktif di kegiatan vihara sebagai pembaca paritta untuk acara kematian, kelahiran dll (saya mengganggapnya sebagai perbuatan baik sehingga menimbulkan karma baik). Ketika saya memintanya untuk tinggal di rumah saya mama bersedia dan secara otomatis juga mama meninggalkan kegiatannya di vihara. Yang jadi pertanyaan adalah apakah saya bersalah atau melakukan karma buruk karena saya telah menghalangi mama saya untuk melakukan perbuatan baik akibat permintaan saya untuk tinggal di rumah saya menjaga anak saya?

Joni Rianto, Tangerang

Jawaban:

Kepada Yth. Joni Rianto di Tangerang,


Saudara Joni, perbuatan dikatakan baik apabila kedua belah pihak sama-sama ikhlas dalam melakukannya. Sehingga dalam hal ini apa yang Anda lakukan bukanlah hal yang buruk.
Namun, sesekali waktu apabila memungkinkan untuk Ibu Anda pulang ke Bekasi untuk ikut kegiatan vihara di sana juga hal yang baik. Hal ini bisa dilakukan misalnya ketika Anda atau istri sedang libur. Atau bahkan Anda pun juga bisa ramai-ramai bersama Ibu pulang ke Bekasi dan mengikuti kegiatan di vihara di sana.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Mengajak Pacar Kebaktian Di Vihara

Pertanyaan:

Nammo Buddhaya, saya Ernita umur 20tahun mau meminta pengarahan dan bertanya. Saya punya pacar umur 25tahun dia beragama nonBuddhist tetapi dia tidak pernah pergi ke tempat ibadahnya karena belum berkeyakinan penuh. Saya ingin mengajak nya ikut kebaktian umum di vihara tetapi saya sendiri pun jarang ke vihara karena jauh di tangsel. Saya ingin mengikuti kebaktian di vihara yang dekat dengan tempat tinggal saya saja sekarang ini. Tetapi sebelum nya saya juga sudah bertanya terlebihdahulu kepada pacar saya apakah mau atau tidak jika ikut saya ke vihara dan berkeyakinan kepada Buddha,Dhamma,Sangha. Dan dia ternyata mau ikut dengan saya. Apakah tindakan saya benar atau salah jika mengajak nya untuk berpindah keyakinan mengikuti saya? Mohon dijawab dilema saya,Terimakasih Nammo Buddhaya.

Ernita , Jakarta Pusat

Jawaban:

Kepada Yth. Ernita di Jakarta Pusat,


Kebaktian atau puja bakti adalah hal yang baik, terlebih lagi ketika mengajak orang yang dikasihi. Dalam hal ini apabila dari sisi pasangan Anda tidak masalah dan juga ada ijin dari keluarganya, maka tentunya tidak masalah.

Untuk membina hidup berpasangan juga diperlukan sama kemoralan, kedermawanannya dan kebijaksanaannya. Sehingga hubungan akan selaras dan harmonis.

Demikian dan semoga berbahagia.

Salam Metta.

Doa Dalam Agama Buddha

Pertanyaan:

Bhante, di umat non Buddhis berdoa kepada Tuhannya dalam melakukan segala kegiatan seperti berdoa pada waktu sembahyang, berdoa sebelum dan sesudah makan,berdoa sebelum dan sesudah tidur, dll. Berdoanya pun dengan sangat khusuk, menyentuh hati bagi kita yang mendengarkannya dan dengan gaya bahasa dan kosa kata yang sangat baik sekali. Terkadang saya juga jadi iri dengan mereka. Bhante, apakah dalam ajaran Sang Buddha kita bisa dan boleh berdoa seperti yang dilakukan umat non Buddhis? Kalau bisa dan boleh bagaimana sebaiknya kita berdoa? Terima kasih, Bhante.

Joni Rianto, Tangerang

Jawaban:

Kepada Yth. Joni Rianto di Tangerang,


Berdoa adalah cara yang dilakukan untuk mengokohkan keyakinan dan memperkuat mental. Hal ini tentunya baik untuk dilakukan apalagi jika disertai perenungan diri (Intropeksi Diri).

Para Bhikkhu sebelum makan juga melakukan "Doa" dengan membaca Paritta sbb:

Paṭisaṅkhā yoniso piṇḍapātaṃ paṭisevāmi,
Neva davāya na madāya na maṇḍanāya na vibhūsanāya,
Yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya vihiṃsuparatiyā brahma-cariyānuggahāya,
Iti purāṇañca vedanaṃ paṭihaṅkhāmi navañca vedanaṃ na uppādessāmi,
Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca phāsu-vihāro cāti.

yang artinya: 

"Dengan merenungkan secara bijaksana, saya menyantap makanan ini bukan untuk untuk bermain, bukan untuk kebanggan, bukan untuk kecantikan, bukan untuk menggemukkan 
tetapi hanya untuk menunjang dan melanjutkan keberadaan tubuh ini, untuk mengejar ketidaknyamanan, dan untuk mempraktekkan kehidupan suci, dengan berpikir 'Dengan demikian saya akan menghancurkan perasaan lapar saya dan bukan untuk membuat suatu keinginan yang baru (untuk makan lebih banyak). Saya akan mempertahankan diri saya jauh dari kesalahan & hidup dengan tenang.'"

Sebagai umat, juga bisa membaca Paritta ini.

Demikian dan semoga berbahagia atas kebajikan yang telah Anda lakukan.

Salama Metta.