x

Tujuan Dan Manfaat Dari Perilaku Bermoral

Pāṇimhi ce vaṇo nāssa, hareyya pāṇinā visaṁ, 
nābbaṇaṁ visamanveti, natthi pāpaṁ akubbato
Apabila seseorang yang tidak mempunyai luka di tangan, maka ia dapat 
menggenggam racun. Racun tak akan mencelakakan orang yang tak luka. 
Tiada penderitaan bagi orang yang tidak berbuat jahat. (Dhammapada 124)

    DOWNLOAD AUDIO

     Perilaku baik seseorang bisa mendatangkan ketenteraman bagi banyak orang. Sudah menjadi keniscayaan tiap-tiap orang perlu men-jaga perilakunya di mana pun mereka berada, karena pada dasarnya setiap orang menginginkan kehidupan yang tenteram sehingga perilaku bermoral sangat perlu dijaga dan mendasari setiap tindak-tanduknya. Manusia dikatakan makhluk yang memiliki moral (sῑla) yang baik. Bahkan tidak sedikit orang yang mengklaim derajat manusia lebih tinggi dari makhluk lain (yang terlihat jelas dengan mata biasa) karena manusia merupakan makhluk yang berakal budi. Pengertian bermoral  menurut KBBI adalah mempunyai pertimbangan baik buruk; berakhlak baik; sesuai dengan moral (adat sopan santun dan sebagainya). Orang menjaga perilaku bermoralnya tentu didasari dengan pengertian benar dan memiliki tujuan yang baik. Bagaimana bisa ajaran perilaku bermoral dikatakan sudah tidak relevan di  zaman modern sekarang ini?

     Sang Buddha menjawab pertanyaan dari Bhante Ananda tentang: Tujuan apakah? Dalam hal ini adalah tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral yang termuat dalam Kitab Aṅguttara Nikāya, buku kelompok sebelas, sutta pertama, adalah:
(1)Apakah tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral?
(2)Tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral yang bermanfaat adalah ketidak-menyesalan.
(3)Apakah tujuan dan manfaat dari ketidak-menyesalan? Tujuan dan manfaat dari ketidak-menyesalan adalah kegembiraan.
(4)Apakah tujuan dan manfaat dari kegembiraan? Tujuan dan manfaat dari kegembiraan adalah sukacita.
(5)Apakah tujuan dan manfaat dari sukacita? Tujuan dan manfaat dari sukacita adalah ketenangan.
(6)Apakah tujuan dan manfaat dari ketenangan? Tujuan dan manfaat dari ketenangan adalah kenikmatan.
(7)Apakah tujuan dan manfaat dari kenikmatan? Tujuan dan manfaat dari kenikmatan adalah konsentrasi.
(8)Apakah tujuan dan manfaat dari konsentrasi? Tujuan dan manfaat dari konsentrasi adalah pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya.
(9)Apakah tujuan dan manfaat dari pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya? Tujuan dan manfaat dari pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya adalah kekecewaan.
(10)Apakah tujuan dan manfaat dari kekecewaan? Tujuan dan manfaat dari kekecewaan adalah    kebosanan.
(11)Apakah tujuan dan manfaat dari kebosanan? Tujuan dan manfaat dari kebosanan adalah pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan.

   
     Demikianlah, perilaku bermoral yang bermanfaat secara bertahap mengarah pada yang terunggul. Terunggul di sini mengacu pada kebebasan batin dari ketamakan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha), kebebasan dari segala bentuk penderitaan (Nibbāna). Kemudian Sang Buddha melanjutkan yang berkaitan dengan kehendak:
(1)-(2) Bagi seseorang yang bermoral, seseorang yang perilakunya bermoral, tidak ada kehendak yang perlu di-kerahkan: ‘Semoga ketidak-menyesalan muncul padaku.’ Adalah sewajarnya bahwa ketidak-menyesalan akan muncul pada seseorang yang bermoral, seseorang yang perilakunya bermoral.

      Demikian juga, (3)-(11) adalah sewajarnya bahwa kegembiraan muncul pada seseorang yang tanpa penyesalan. Adalah sewajarnya bahwa sukacita muncul pada seseorang yang bergembira. Adalah sewajarnya bahwa jasmani seseorang yang bersukacita menjadi tenang. Adalah sewajarnya bahwa seseorang yang tenang dalam jasmani merasakan kenikmatan. Adalah sewajarnya bahwa pikiran seseorang yang merasakan kenikmatan menjadi terkonsentrasi. Adalah sewajarnya bahwa seseorang yang terkonsentrasi mengetahui dan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Adalah sewajarnya bahwa seseorang yang mengetahui dan melihat segala sesutu sebagaimana adanya menjadi kecewa. Adalah sewajarnya bahwa seseseorang yang kecewa menjadi bosan. Adalah sewajarnya bahwa seseorang yang bosan merealisasikan pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan. Demikianlah, (11)-(10) pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan adalah tujuan dan manfaat dari kebosanan.

(9) Kebosanan adalah tujuan dan manfaat dari kekecewaan.
(8) Kekecewaan adalah tujuan dan manfaat dari pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya.
(7) Pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya adalah tujuan dan manfaat dari konsentrasi.
(6) Konsentrasi adalah tujuan dan manfaat dari kenikmatan.
(5) Kenikmatan adalah tujuan dan manfaat dari ketenangan.
(4) Ketenangan adalah tujuan dan manfaat dari sukacita.
(3) Sukacita adalah tujuan dan manfaat dari kegembiraan.
(2) Kegembiraan adalah tujuan dan manfaat dari ketidak-menyesalan.
(1) Ketidak-menyesalan adalah tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral.

     Dapat dikatakan bahwa tujuan terdekat dari menjalankan perilaku bermoral adalah ketidak-menyesalan. Dengan tidak ada penyesalan maka akan muncul kegembiraan. Dengan adanya kegembiraan akan muncul sukacita. Dengan adanya sukacita akan muncul ketenangan. Dengan adanya ketenangan akan muncul kenikmatan. Dengan adanya kenikmatan akan muncul konsentrasi. Dengan adanya konsentrasi akan muncul pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya. Dengan adanya pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya akan muncul kekecewaan. Dengan adanya kekecewaan akan muncul kebosanan. Dengan adanya kebosanan akan muncul pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan.

        Untuk mencapai pada tahap kebosanan seperti pada sutta di atas  
memang tidak mudah karena pada umumnya orang masih menyenangi penderitaan yang dikemas dengan bentuk kebahagiaan semu. Dengan kata lain kebahagiaan yang kita rasakan di dunia ini adalah penderitaan yang diperhalus. Orang cenderung lebih menyenangi kebahagiaan duniawi yang pada hahikatnya tidak bisa bertahan lama. Karena kebahagiaan yang seperti demikian masih akan terus mengalami proses perubahan. Oleh karena itulah orang kerap tertipu dengan penampilan dunia yang kelihatan indah. Keindahan dunia benar-benar telah menipu mata banyak orang. Itu karena kurangnya kewaspadaan dan tidak mampu melihat fenomena perubahan sebagaimana adanya melalui pengetahuan penembusan langsung. Sering orang tidak menyadari dengan sepenuhnya dan beranggapan perilaku yang melanggar kemoralan mendatangkan kebahagiaan: Pāpo pi passata bhadraṁ, yāva pāpaṁ na paccati, yadā ca paccati pāpaṁ, atha pāpo pāpāni passati: pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. (Dhammapada 119)

    Memahami kemoralan mungkin sering dianggap biasa bagi sebagian orang karena masih berpandangan hanya orang-orang tertentu saja yang sesuai dan layak menjaga kemoralan, sementara sebagian yang lain beranggapan tidak terlalu penting membicarakan kemoralan bahkan tidak perlu menjaga kemoralan. Ini adalah pandangan keliru yang menyesatkan, yang dapat menjerumuskan orang pada keadaan tingkat kehidupan yang sangat menderita, penuh dengan kesengsaraan yang berulang-ulang dalam waktu yang lama.

     Karena itulah, seseorang dapat mulai berlatih dari hal yang mudah untuk dilakukan, misalnya meluangkan waktu untuk memberikan kesempatan pada orang lain, menyisihkan sebagian miliknya untuk membantu orang lain yang sangat membutuhkan, meninggalkan nafsu indrawi, me-ngembangkan kebajikan, melaksana-kan Dhamma dengan baik, kemoralan dan konsentrasi yang terus berkelanjutan, hingga tercapai pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya dan pada kebebasan. Perlu sekali seseorang dapat memunculkan pengertian benar di dalam batinnya bahwa segala bentukan tidak kekal adanya sabbe saṅkhārā aniccāti, segala bentukan sukar bertahan adanya, sabbe saṅkhārā dukkhāti, dan sabbe dhammā anattāti, yadā paññāya passati, atha nibbindati dukkhe, esa maggo visuddhiyā: pada saat ia yang bijaksana melihat dengan jelas, bahwa segala bentukan maupun bukan bentukan adalah bukan diri adanya; kala itu, ia akan jenuh terhadap derita. Kejenuhan terhadap derita itu adalah jalan kesucian. Tatrā-bhiratimiccheyya, hitvā kāme akiñcano, pariyodapeya attānaṁ, cittaklesehi paṇḍito: setelah meninggalkan kesenangan indrawi, tidak melekat, dan mendambakan  

      kebahagiaan dalam tanpa kemelekatan nan sulit digemari orang; orang bijaksana menjernihkan diri dari kilesa (pengeruh batin, pengotor batin, kotor-an batin). Yesaṁ sambodhiyaṅgesu, sammā cittaṁ subhāvitaṁ, ādāna-paṭinissagge, anupādāya ye ratā, khīṇasavā jutimanto, te loke parinibbutāti: ia yang mengembangkan batin dengan benar dalam bojjhaṅga (faktor Dhamma untuk mencapai Penerangan), (dan) ia yang tak melekat, senang dalam melepas kemelekatan, adalah seorang kinasava (mereka yang telah habis pengotor batinnya; Arahanta), bersinar terang; mencapai Nibbāna di dunia (padamnya kilesa).(Kuddakanikāya, Dhammapada)

      Perilaku bermoral akan mudah dilatih bila orang menyadari hakikat keberadaannya di dunia yang terus mengalami proses perubahan sehingga muncul pengertian benar, dapat menerima segala sesuatu sebagaimana adanya, seperti kondisi-kondisi dunia yang tak terelakkan: lābha (mendapatkan), alābha (tak mendapatkan), yasa (berkedudukan/berketenaran), ayasa (tak berkedudukan/tak berketenaran), nindā (hujatan), pasaṁsā (sanjungan), sukha (kebahagiaan), dan dukkha (penderitaan). (Khuddakanikāya, Khuddakapāṭha)

Sumber:
-Aṅguttara Nikāya. Bhikkhu Bodhi. DhammaCitta Press. 2015.
-Dhammapada, Yayasan Dhammadipa Arama, 1995.
-Khuddaka Nikāya, dhammacitta.org


Oleh: Bhikkhu Upasanto
Minggu, 15 Maret 2020 

Dibaca : 8425 kali