x

Cara Pemberian Orang Mulia

Dānañca Dhammacariyā ca, etamaṅgalamuttamaṁ, ti.
“Berdāna dan hidup sesuai Dhamma, itulah berkah utama”.
(Maṅgala Sutta, 9)

    DOWNLOAD AUDIO

Ketika orang-orang merencanakan maupun melakukan sesuatu kegiatan, tentunya mereka memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tidak hanya orang-orang saja, melainkan diri sendiri secara pribadi, juga ketika merencanakan maupun melakukan sesuatu tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Dan tentunya melalui pertimbangan supaya apa yang telah direncanakan maupun yang dilaksanakan kelak tidak menimbulkan kekacauan atau masalah-masalah yang berarti. Contohnya, orangtua menyekolahkan anak-anaknya dengan harapan kelak menjadi anak yang sukses dalam karirnya. Para orangtua bekerja keras untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya. Para guru mengajar para siswa dengan tujuan supaya anak didiknya tumbuh menjadi anak yang patuh dan cerdas. Seperti halnya perumah tangga yang memilih untuk hidup selibat dengan maksud untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Demikian juga dalam hal berdāna atau memberi, ketika seseorang memberi materi kepada para pengemis, ia mempunyai niat untuk meringankan beban yang dialami oleh pengemis tersebut. Ada juga orang yang memberi kepada orang lain supaya dikenal atau mendapat ketenaran bahwa dirinya adalah orang yang dermawan. Ada pula orang yang memberi dengan mengharapkan pujian, memperoleh banyak rezeki, memiliki banyak teman, intinya mendatangkan banyak kebermanfaatan dari pemberian yang dilakukan.

Apabila ditinjau secara pandangan umum maupun secara Dhamma, hal demikian adalah suatu kewajaran yang terjadi di masyarakat. Tidak ada yang perlu disalahkan maupun dipermasalahkan berkenaan kejadian seperti itu. Namun, sebagai umat Buddha yang sudah belajar Dhamma dan memahami ajaran Sang Buddha, hendaknya ketika berdāna atau memberikan materi apa pun kepada orang lain dilandasi dengan pengertian yang benar dan dilakukan dengan cara yang benar pula.

Oleh sebab itu, di sini penyaji akan memberikan informasi berkenaan dengan cara pemberian orang-orang yang mulia. Informasi berkenaan dengan cara berdāna orang-orang mulia ini telah disampaikan oleh Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya, 4:148. Penjelasan tentang cara berdāna orang-orang mulia ini dapat dibagi menjadi lima, yakni orang yang berdāna dengan keyakinan, orang yang berdāna dengan penuh hormat, orang yang berdāna pada waktu yang tepat, orang yang berdāna dengan murah hati, dan orang yang berdāna dengan tanpa mengeluh.
1.Orang yang berdāna dengan keyakinan.
Orang yang memberi dāna dengan dilandasi dengan ke-yakinan yang kuat artinya ia sudah mengerti makna dan manfaat dari berdāna. Tidak ada keraguan dalam dirinya terhadap apa yang dilakukannya berkenaan dengan berdāna. Bahkan, ketika ada orang lain yang menyarankannya untuk tidak berdāna dengan alasan tertentu, ia akan tidak mempedulikan saran dari orang tersebut karena ia yakin terhadap yang dilakukannya itu adalah kebajikan. Perbuatan yang dilakukan tersebut tidak merugikan tetapi menguntungkan keduanya. Penjelasan akan hal ini, Sang Buddha menerangkan bahwa buah kebajikan dari orang yang memberi dāna dengan keyakinan, di mana pun buah atau hasil dari kebajikannya tersebut matang, ia akan memperoleh kekayaan, kemakmuran dan memiliki wajah yang elok, rupawan serta kulit yang indah.
2.Orang yang berdāna dengan penuh hormat.
Artinya pada saat orang memberikan dāna kepada penerimanya, pendāna melakukanya dengan sopan dan rendah hati tanpa menunjukkan sikap ceroboh. Senantiasa menunjukkan sikap yang memancarkan kemuliaan hatinya dengan komunikasi yang ramah, tersenyum dan memberikan kenyamanan bagi penerima dāna tersebut. Sang Buddha menjelaskan bahwa buah kebajikan dari orang yang berdāna dengan penuh hormat, di mana pun hasil dari kebaikannya tersebut berbuah, maka hasilnya mendatangkan kekayaan, kemakmuran dan orang-orang di sekitarnya akan selalu patuh dan taat terhadap apa yang disampaikan.
3.Orang yang berdāna pada waktu yang tepat.
Pendāna dalam memberikan dāna hendaknya melihat waktu yang sesuai dan sasaran yang tepat. Dengan memberi suatu dāna kepada orang tepat di waktu tepat, maka pemberiannya tersebut akan menjadi bermanfaat. Misalkan yang banyak diketahui oleh umat bahwa ketika berdāna kepada para bhikkhu berupa makanan, hendaknya dilakukan pada waktu yang sesuai, yakni pagi hari mulai jam 06.00 hingga 07.00 dan siang hari pukul 11.00. Dalam khotbah yang sama, Sang Buddha menerangkan bahwa akibat dari kebajikan yang telah dilakukan ini, di mana pun akan berbuah, akan mendatangkan kekayaan yang berlimpah, dan kemakmuran datang kepadanya pada waktu yang tepat.
4.Orang yang berdāna dengan murah hati.
Orang yang memberi dengan kemurahan hati artinya orang tersebut adalah orang yang gemar memberi kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia tidak akan membeda-bedakan orang sebagai penerima dāna darinya. Ketika ia melihat orang kesusahan yang memerlukan bantuan dan sekiranya dapat dibantu olehnya, maka ia tidak segan-segan untuk memberikan bantuan kepada orang tersebut. Inilah orang yang memberi dengan kemurahan hati, menunjukkan kemuliaan hatinya terhadap orang lain dengan ketulusan yang luar biasa. Buah kebajikan dari orang yang memberi dengan murah hati, di mana pun ia berbuah akan mendatangkan kekayaan berlimpah ruah, kemakmuran dan pikirannya akan dapat menikmati hal-hal yang unggul dari kelima kenikmatan indrawi.
5.Orang yang berdāna dengan tanpa mengeluh.
Memberi dengan tanpa mengeluh artinya ketika seseorang berdāna kepada siapa pun ia melakukannya dengan ketulusan, suka cita tanpa mengharapkan timbal balik dari apa yang dilakukan. Ia juga tidak akan mengeluhkan bahwa apa yang dilakukan tersebut dapat menyebabkan hartanya menjadi berkurang. Sebaliknya ia akan menjadi beruntung karena sudah dapat mengalahkan hal-hal buruk di dalam dirinya, yaitu sifat pelit atau kekikiran. Sesungguhnya dengan gemar memberi merupakan cara penimbunan harta yang terbaik menurut pesan Sang Buddha dalam Nidhikaṇḍa Sutta. Ia yang memberikan dāna dengan tanpa mengeluh terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Di mana pun kebajikannya tersebut berbuah akan mendatangkan kekayaan yang banyak, kemakmuran dan hartanya tersebut tidak akan hilang dari mana pun, baik dari banjir, api, raja, para penjahat, maupun dari sanak keluarga yang tidak terkasihi.

Inilah kelima cara berdāna orang mulia yang dapat dilaksanakan oleh siapa pun yang menginginkan kebajikan besar. Lima cara berdāna ini tidak dikhususkan kepada orang-orang tertentu yang memiliki kekuasaan, tetapi dapat digunakan atau dipraktikkan oleh mereka yang senantiasa menimbun harta berupa jasa. Apabila siapa pun yang menerapkan salah satu dari kelima cara berdāna orang mulia ini, tentunya akan memperoleh manfaat yang besar bagi kehidupannya. Apalagi mempraktikkan kelima cara berdāna orang mulia ini secara penuh, maka akan membuahkan jasa amat banyak dan luar biasa. Kondisi seperti inilah yang akan menjadi sebab yang baik untuk kesejahteraan diri di masa kini maupun di masa mendatang.

Oleh karena itu, marilah ibu-ibu, bapak-bapak, saudara-saudari umat Buddha yang berbahagia. Ketika Anda berdāna berupa materi apa pun itu, hendaknya dilakukan dengan keyakinan yang kokoh, sikap hormat sebagai wujud kerendahan hati, dilaksanakan pada waktu yang tepat, disertai dengan kemurahan hati dan sikap tanpa mengeluh terhadap apa yang dilakukan, dalam hal ini adalah berdāna. Semoga cara pemberian orang-orang mulia ini senantiasa menjadi milik Anda dan tertanam kokoh di dalam sanubari upāsaka/upāsikā semuanya. Semoga semua makhluk berbahagia (sabbe sattā bhavantu sukhitattā).

Sumber:
-Bodhi. 2005. Tipiṭaka Tematik. Tanpa kota: Ehipassiko Foundation.
-Dhammadhīro. 2005. Paritta Suci. Jakarta: Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia.

Dibaca : 6009 kali