x

Cinta Dalam Agama Buddha

Sabbā disā anuparigamma cetasā, Nevajjhagā piyataramattanā kvaci.
Evaṁ piyo putthu attā paresaṁ, Tasmā na himse paramattakāmo’ti
“Bila kita mengarungi dunia dengan pikiran, maka kita akan menemukan bahwa diri sendirilah yang paling dicintai. 
Karena tidak ada siapa pun yang dicintai oleh seseorang selain dirinya sendiri, maka perhatikan dan hormatilah orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri” 
(Saṁyuta Nikāya I :75)

    DOWNLOAD AUDIO

Istilah cinta merupakan hal yang sangat populer di kalangan masyarakat luas. Hal ini bisa kita lihat dari beberapa penulis, penyanyi, maupun produsen film lainnya yang banyak mengangkat tema mengenai masalah cinta. Cinta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti suka sekali. Suka yang dimaksud adalah ungkapan perasaan emosional seseorang terhadap objek yang dianggap dapat memberikan perasaan senang. Sedangkan, menurut James Drever (ahli psikologi) menyatakan cinta (love) merupakan suatu perasaan khusus berkait-an dengan apa yang kita sukai mengenai sebuah objek. Objek yang dimaksud adalah objek berupa benda mati maupun benda hidup. Jadi, cinta adalah perasaan suka atau menyenangkan terhadap objek yang dianggap dapat memberikan kebahagiaan bagi siapa pun.

Masalah cinta bukanlah hal yang asing lagi bagi kita. Dari anak-anak sampai dewasa sudah tentu mengerti apa yang dimaksud dengan cinta. Hal ini dikarenakan kita sudah pernah mengalaminya dalam kehidupan sehari-hari. Cinta yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah cinta berada di lingkungan keluarga seperti cinta orangtua kepada anak-anaknya maupun sebaliknya. Selain itu, cinta yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah ketika kita memiliki barang kemudian kita merawatnya dengan sepenuh hati. Di sisi lain, masih banyak hal-hal yang berkaitan dengan cinta seperti cinta kepada pasangan hidup, pacar, sanak keluarga, sahabat, hewan peliharaan, hobi maupun segala benda yang kita sukai.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa cinta membuat sebagian orang hidupnya bahagia. Akan tetapi, cinta juga bisa membuat orang menderita apabila tidak dilandasi dengan kebijaksanaan. Cinta yang dilandasi dengan pengertian salah tanpa ada kebijaksanaan cenderung akan mengakibatkan penderitaan. Hal ini bisa kita temukan di berbagai media, kita akan menemukan banyak pasangan hidup seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, putus cinta, bahkan cintanya ditolak. Lalu apa yang akan terjadi? Sudah jelas sebagian dari kita akan merasakan yang namanya “GEGANA”. Apa itu GEGANA? GEGANA adalah singkatan gelisah, galau dan merana. Setelah mereka meng-alami gegana, tanpa pikir panjang pun, mereka akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Tentu disebabkan seseorang belum memiliki kebijaksanaan dalam memahami cinta. Cinta yang mereka terapkan adalah cinta bersyarat yang masih dilandasi oleh ego, nafsu (pema) dan kemelekatan yang disertai dengan pandangan salah.

Lalu bagaimana cinta menurut pandangan agama Buddha?

Cinta dalam agama Buddha dikenal dengan istilah “Mettā” yang berarti cinta kasih. Cinta kasih yang dimaksud bukanlah cinta yang dapat merugikan orang lain maupun makhluk lain, melainkan cinta yang dapat memberikan kebahagiaan bagi semua makhluk tanpa perbedaan. Hal ini tertuang dalam Mettā Sutta, Khuddakanikāya, Khuddakapāṭha yang di mana Sang Buddha mem-babarkan ajaran-Nya mengenai cinta kasih terhadap semua makhluk tanpa membedakan satu sama lain. Jadi, cinta dalam agama bukanlah cinta yang sifatnya merugikan, melainkan cinta yang dapat memberikan kebahagiaan bagi semua makhluk tanpa membedakan satu sama lain. Selain itu, cinta dalam agama Buddha bukanlah cinta yang bersyarat yang masih diliputi oleh ego, nafsu (pema) dan kemelekatan yang disertai dengan pandangan salah. 

Bagaimana cara kita mengembangkan cinta kasih?

Cinta kasih dapat dikembangkan dengan memulai kepada diri kita terlebih dahulu dengan mengucapkan berulang-ulang “semoga aku hidup berbahagia, bebas dari kebencian”. Mengapa harus kepada diri kita terlebih dahulu? Karena segala jenis kebencian bersumber pada diri kita sendiri. Kitalah yang mampu merontokkan itu semua, kitalah yang menjadi sumber penderitaan bagi diri kita maupun orang lain. Ketika kita mampu memunculkan cinta kasih dalam diri kita, maka kita akan menemukan bahwa diri kita ingin bahagia, begitu pula dengan orang lain sama seperti kita ingin bahagia. Ketika hal ini dipraktikkan dan dikembangkan di setiap saat, maka secara otomatis kebencian berkurang dan akan lenyap. Jika kebencian sudah berkurang ataupun lenyap, maka makhluk lain pun akan turut merasakan kebahagiaan. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan akar dari kebencian yang bersumber dari dalam diri kita sudah dituntaskan ataupun dilenyapkan. Jika hal tersebut sudah dikembangkan dan dipraktikkan, maka tidak akan ada lagi kebencian dalam diri kita yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, tanpa ada permusuhan satu sama lain. Inilah yang dikatakan “semoga semua makhluk hidup berbahagia” bisa tercapai jika kita sudah mampu melenyapkan akar dari permusuhan dalam diri kita masing-masing.

Lalu apa manfaatnya?

Cinta kasih merupakan cinta yang sangat banyak memiliki manfaat jika dikembangkan, dilatih dan dipraktikkan oleh siapa pun. Salah satu manfaat dalam mengembangkan cinta dengan terkikisnya salah satu pengotor batin yaitu kebencian. Dengan terkikisnya kebencian, maka akan dapat memberikan manfaat kedamaian, baik bagi si pelaku maupun orang di sekitar. Oleh karena itu, tidak akan ada lagi kebencian dalam diri se seorang yang dapat memicu permusuhan. Selain itu, dalam Aṅguttara Nikāya XI,15 Sang Buddha menyatakan ada sebelas manfaat apabila dikembangkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
1)Ia tidur dengan nyenyak; 
2)Hidupnya bahagia; 
3)Tidak bermimpi buruk;
4)Disukai manusia; 
5)Disukai makhluk halus; 
6)Para dewa melindunginya; 
7)Api, racun, dan senjata tidak bisa melukainya;
8)Pikirannya mudah terkonsentrasi; 
9)Raut wajah yang tenang; 
10)Saat meninggal tidak bingung; 
11)Jika tidak menembus lebih jauh, maka akan terlahir di alam surga.

Kesimpulan:

Cinta akan membuat seseorang hidup menjadi bahagia, akan tetapi cinta pula membuat orang lain menderita apabila cinta yang disertai dengan pengertian dan pandangan salah tanpa ada kebijaksanaan, cinta yang masih dilandasi oleh ego, nafsu (pema) dan kemelekatan yang disertai dengan pengertian dan pandangan salah. Mencintai boleh saja, akan tetapi tetap harus ada kebijaksanaan dalam diri kita masing-masing. Janganlah mencintai dengan pengertian dan pandangan salah, sebab hal itu akan merugikan diri kita sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu ajaran Buddha menganjurkan agar kita memiliki cinta kasih (mettā) yang bersifat universal dengan harapan semoga berbahagia, bukan merugikan. Tebarkan cinta kasih, maka akan menebarkan kedamaian. Siapa pun yang menebarkan cinta kasih, maka akan memperoleh kebahagiaan, baik di kehidupan saat ini maupun di kehidupan yang akan datang.

“Sabbe sattā bhavantu sukhitattā”

Sumber:
Metta & Mangala, Up Sasanasanto Seng Hansun-Vidyāsenā Production
Saṁyutta Nikāya, Bhikkhu Bodhi-Dhammacitta Press
Aṅguttara Nikāya, Bhikkhu Bodhi-Dhammacitta Press

Dibaca : 6341 kali