x

Sehat Mental Di Era New Normal

Āturakāyassa me sato cittaṃ anāturaṃ bhavissatī’ti.
Meskipun tubuhku menderita, namun batinku tidak akan menderita.
(Nakulapita Sutta;SN 22.1)


    DOWNLOAD AUDIO

Pandemi Covid-19 mengubah tatanan masyarakat dunia. Guna mencegah penularan wabah virus corona yang meluas, masyarakat diminta untuk tinggal di rumah. Sekolah, bekerja bahkan beribadah pun dianjurkan untuk dilakukan di rumah saja. Hampir semua negara mengimbau warganya untuk tidak beraktivitas di luar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak. Terkecuali, memang bagi mereka yang harus keluar dan kegiatannya tidak bisa dilakukan dari rumah.

Akan tetapi, tidak lama lagi akan ada penyesuaian gaya hidup untuk menjaga produktivitas masyarakat. Tatanan baru yang berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat inilah yang kemudian disebut sebagai “new normal”. Pola hidup yang dilakukan harus sesuai dengan protokol kesehatan yaitu dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman dan menghindari kerumunan. Kebiasaan baru ini harus menjadi kesadaran kolektif agar dapat berjalan dengan baik.

Pada kondisi saat ini, kesehatan adalah suatu kondisi yang sangat penting dalam menjalani kehidupan yang baru. Semua orang pasti berusaha menjaga kesehatan. Apa pun akan dilakukan untuk membuat badan ini dapat terus fit dan bertenaga. Namun demikian, sesungguhnya jasmani penuh dengan penyakit, baik dalam skala kecil maupun besar. Dalam Girimānanda Sutta (AN 10.60), Buddha menguraikan bahwa tubuh ini adalah sarang dari berbagai macam penyakit.

Keinginan untuk terus sehat memang merupakan kewajaran bagi pandangan umum. Akan tetapi, keinginan tersebut sesungguhnya menjadi sumber penderitaan baru. Saat seseorang mengalami sakit sementara ia ingin agar tidak memperoleh sakit, ia akan semakin menderita karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Buddha suatu kali pernah mengatakan bahwa penderitaan sakit jasmani diibaratkan seperti seseorang yang jantungnya tertusuk belati. Lebih dari itu, terasa seperti tertusuk dua belati di jantungnya saat batinnya turut menderita karena sakit tersebut (Sallatha Sutta; SN 36.6). Artinya, penderitaan seseorang yang sakit akan berlipat ganda saat batinnya juga turut menderita. 

Suatu ketika, Nakulapita mengunjungi Buddha dan berkata, “Saya sudah tua, Yang Mulia, semakin tua, terbebani dengan tahun demi tahun, berusia lanjut dalam kehidupan, sampai pada tahap akhir, menderita dalam tubuh, sering sakit. Saya jarang menemui Bhagavā dan para bhikkhu yang layak dihormati. Sudilah Bhagavā menasihati saya, sudilah Bhagavā mengajari saya, karena itu akan mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan saya dalam waktu yang lama.”

“Memang demikian, perumah tangga, memang demikian! Tubuhmu menderita, membungkuk, terbebani. Jika siapa pun yang membawa tubuh ini mengaku sehat bahkan selama sesaat, apakah itu kalau bukan karena ketidaktahuan? Oleh karena itu, perumah tangga, engkau harus berlatih sebagai berikut: ‘Meskipun tubuhku menderita, namun batinku tidak akan menderita.’ Demikianlah engkau harus berlatih” ujar Sang Guru. Nasihat ini menunjukkan bahwa siapapun orangnya‒cepat atau lambat‒pasti akan mengalami sakit jasmani. Namun, batin yang terus dikembangkan dapat terbebas dari penyakit. 

Dalam Roga Sutta (AN 4.157), disebutkan ada 2 jenis penyakit: penyakit jasmani (kāyika roga) dan penyakit batin (cetasika roga). Sangat memungkinkan untuk dapat sembuh dari sakit jasmani dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun. Tetapi selain daripada mereka yang nodanya telah dihancurkan (khīṇāsava), adalah sulit untuk menemukan orang-orang di dunia yang dapat mengaku menikmati kesehatan batin bahkan untuk sesaat.

Pada kenyataannya, seseorang tidak mudah untuk tetap mempertahankan kedamaiannya saat tubuh diserang penyakit. Untuk itulah, seseorang membutuhkan latihan batin dengan menghadirkan perhatian (sati) dan kebijaksanaan (sampajañña) terhadap apapun pengalaman yang muncul baik yang berkaitan dengan batin maupun jasmani. Setiap pengalaman yang terdeteksi oleh batin diketahui atau disadari dengan batin yang bebas dari kemelekatan terhadap pengalaman tersebut.

Dengan banyaknya pengalaman baru yang terus masuk, kewaspadaan sangat diperlukan. Butuh waktu dan usaha untuk membiasakan diri dengan segala sesuatu yang baru. Begitu pula, batin harus selalu dijaga agar tetap seimbang.Seseorang diharapkan mampu menghambat arus melalui perhatian. Dan, dengan kebijaksanaan yang muncul seiring dengan perhatian, seseorang akan memotong setiap arus yang muncul hingga suatu saat tidak akan ada reaksi yang tersisa lagi. Yang ada adalah keheningan. Inilah yang disebutkan Buddha, “Etaṃ santaṃ paṇītaṃ yadidaṃ sabbasaṅkhārasamatho.” Inilah kedamaian, inilah keluhuran, demikianlah yang dikatakan redamnya semua reaksi.

Apabila latihan ini dilakukan secara berkesinambungan dan dijadikan pola hidup yang baru, maka kesabaran seseorang semakin meningkat, keseimbangan batin semakin terjaga. Perubahan yang terjadi tidak membuatnya menderita, termasuk ketika adanya kehidupan baru yang diawasi secara ketat. Ketahanan mental demikian disebabkan karena seseorang sudah terlatih untuk menerima setiap perubahan, termasuk pada saat muncul rasa bosan, kecewa, marah, cemas, takut dan lain sebagainya. Semuanya perlu disadari dan dinetralkan melalui proses latihan yang bertahap. 

Transformasi ini adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, yang kemudian akan dibawa terus ke depannya sampai waktu tertentu. Sudah menjadi tugas kita semua untuk mendidik, melibatkan dan memberdayakan diri sendiri serta semua orang untuk hidup berdampingan dengan “new normal”.

Pustaka Rujukan
Aṅguttara Nikāya: The Numerical Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2012.
Saṃyutta Nikāya: The Connected Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2000.


Oleh: Bhikkhu Ratanadhiro
Minggu, 07 Juni 2020


 

Dibaca : 4160 kali