x

BAHAYANYA KEMARAHAN

Barang siapa yang dapat menahan kemarahannya yang telah memuncak 
seperti menahan kereta yang sedang melaju, ia patut disebut sais sejati. Sedangkan sais lainnya hanya sebagai pemegang kendali belaka.
(Kitab Suci Dhammapada Syair 222)


    DOWNLOAD AUDIO

Kemarahan adalah gangguan mental yang harus dilenyapkan. Pada saat kemarahan menguasai mental seseorang, sesungguhnya saat itu seseorang dalam keadaan menderita yang dalam. Sebagai manusia yang belum mencapai kesucian batin, tentu masih memiliki kemarahan, bahkan pernah marah-marah, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Kemarahan muncul biasanya ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Kemarahan yang ada dalam diri setiap orang berakar dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

Pada saat seseorang dikuasai oleh kemarahan, maka ada beberapa kerugian yang akan dialami langsung oleh dirinya, atau orang lain dan keduanya. Kerugian-kerugian yang dirasakan itu adalah sebagai berikut:

Sosial 

Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, artinya selalu membutuhkan orang lain. Dalam menjalani kehidupan sosial, kita akan selalu berinteraksi dengan orang lain. Kalau kita sering marah-marah pada orang lain tentu ia akan enggan bertemu dengan kita. Orang-orang akan membenci kita, mereka tidak mau berteman dan akan menjauhi kita.

Fisik

Pada saat kita marah tubuh bisa gemetar, dada terasa panas, adanya ketegangan, sehingga membuat hidup tidak nyaman, raut wajah  berubah, yang sebelum marah terlihat cantik atau tampan, pada saat marah wajah menjadi memerah dan kelihatan jelek sekali. Ketika kita dikuasai dan tertindas oleh kemarahan, kita akan kelihatan buruk, walaupun kita mandi dengan bersih, menggunakan pakaian yang rapi dan indah, tetapi tidak akan mampu mengubah wajah kemarahan menjadi cantik dan tampan.

Batin

Ketika batin dikuasai oleh kemarahan, pada saat itu juga batin akan menjadi kacau dan gelap. Dengan keadaan batin seperti itu tidak mampu melihat kebenaran Dhamma yang sesungguhnya, sehingga akan mudah untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk, baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan. Batin yang diliputi kemarahan akan jauh dari kedamaian dan kebahagiaan.

Kerugian ini dapat dirasakan langsung di kehidupan ini juga, tanpa perlu menunggu kehidupan mendatang. Seperti halnya orang yang ingin melempar bara api dengan tangannya untuk melukai orang lain, sebelum melemparkannya pada orang lain, seseorang sudah pasti terluka dahulu. Demikian juga pada saat kita marah-marah, pada saat itu kita sudah menderita terlebih dahulu. Sang Buddha memberikan perumpamaan tentang kemarahan di dalam Lekhasutta, Aṅguttara Nikāya III. 132, demikian: Ada tiga jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah yang tiga ini? Orang yang seperti garis yang digoreskan di batu. Orang yang seperti garis yang digoreskan di tanah. Orang yang seperti garis yang digoreskan di air. 
1. Dan apakah jenis orang yang seperti garis yang digoreskan di batu? Di sini, seseorang sering menjadi marah, dan kemarahannya itu berlangsung lama. Seperti halnya garis yang digoreskan di batu tidak akan cepat terhapus oleh angin dan air, melainkan bertahan untuk waktu yang lama, demikian pula, seseorang sering menjadi marah, dan kemarahannya itu berlangsung lama. Ini disebut orang yang seperti garis yang digoreskan di batu; 2. Dan apakah jenis orang yang seperti garis yang digoreskan di tanah? Di sini, seseorang sering menjadi marah, tetapi kemarahannya tidak berlangsung lama. Seperti halnya garis yang digoreskan di tanah yang dengan cepat terhapus oleh angin dan air dan tidak bertahan untuk waktu yang lama, demikian pula, seseorang sering menjadi marah, tetapi kemarahannya tidak berlangsung lama. Ini disebut orang yang seperti garis yang digoreskan di tanah; 3. Dan apakah jenis orang yang seperti garis yang digoreskan di air? Di sini, seseorang bahkan ketika orang lain berbicara kasar dan tajam, dengan cara yang tidak menyenangkan, ia tetap bersahabat pada lawannya, bergaul dengannya, dan menyapanya. Seperti halnya garis yang digoreskan di air yang dengan cepat lenyap dan tidak bertahan lama, demikian pula, seseorang bahkan ketika orang lain berbicara kasar dan tajam, dengan cara yang tidak menyenangkan, ia akan tetap bersahabat pada lawannya, bergaul dengannya, dan menyapanya, ini disebut orang seperti garis yang digoreskan di air.

Setelah kita mengetahui bahayanya memelihara kemarahan, hendaknya kita berusaha sekarang juga untuk melenyapkannya. Karena sekecil apa pun bentuk dari kemarahan, tetap saja tidak akan membawa manfaat bagi kita dan orang lain. Sang Buddha memberikan penjelasan di dalam Aṅguttara Nikāya Aghatapativinaya I (5. 161) tentang bagaimana kita harus mengatasi kemarahan dalam diri kita yaitu: 1. Ia harus mengembangkan cinta kasih terhadap orang yang membuatnya marah; 2. Ia harus mengembangkan belas kasih terhadap orang yang membuatnya marah; 3. Ia harus mengembangkan keseimbangan batin terhadap orang yang membuatnya marah; 4. Ia harus mengabaikan orang-orang yang membuatnya marah dan tidak memperhatikannya; 5. Ia harus menerapkan gagasan kepemilikan kamma kepada orang yang membuatnya marah, sebagai berikut: orang ini adalah pemilik kammanya sendiri, pewaris kammanya sendiri, dia memiliki kamma sebagai asal mulanya, kamma sebagai saudaranya, kamma sebagai pelindungnya, dia menjadi pewaris kamma apa pun yang dia lakukan, baik atau buruk. Inilah lima cara untuk mengatasi kemarahan. 

Sekecil apa pun kadar emas yang anda miliki itu akan selalu memiliki harga dan berguna, tetapi sekecil apa pun kadar kemarahan yang kita miliki akan selalu menjadi perintang batin kita untuk melihat kebenaran dan sekecil apa pun kemarahan itu tidak akan pernah berguna bagi diri kita dan orang lain. Kewajiban kita adalah menyadari kemarahan itu dan kita lenyapkan, sehingga kemarahan tidak lagi menguasai kita, dengan demikian kita mampu melihat kebenaran Dhamma yang sesungguhnya.

Referensi:
Aṅguttara Nikāya. Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha. Trans. Bhikkhu Bodhi. Business Park Kebon Jeruk. Dhammacitta Press.
 . 2012. Dhammapada. Diterjemahkan oleh: Phra Rajavaracariya, Buddharakkhita, Dhammavaro. Tanpa Kota: Bahussuta Society.

Dibaca : 1245 kali