x

Menaklukkan Sifat Iri Hati

Ayasā’va malaṁ samuṭṭhitaṁ, taduṭṭhāya tam’eva khādati
Evaṁ atidhonacārinaṁ, saka kammāni nayanti duggatiṁ
Seperti karat yang timbul dari besi, kemudian akan menghancurkan besi itu sendiri. Demikian pula, perbuatan buruk dilakukan oleh para pelaku kejahatan,
yang kemudian akan menghancurkan dirinya sendiri.
(Dhammapada syair 240)

<iframe width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/n7rTA3ZOl6I?start=11" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>

    DOWNLOAD AUDIO

Kepala dan Ekor Ular

Suatu kali, ekor dan kepala Ular saling bertengkar tentang siapa yang berhak memimpin jalan. Ekor Ular berkata kepada kepala Ular "engkau selalu di depan sungguh tidak adil. Sesekali aku yang memimpin jalan". Kepala Ular menjawab "tidak mungkin terjadi seperti itu. Sudah kehendak Alam aku yang menjadi kepala. Aku tidak dapat bertukar tempat denganmu. Perselisihan ini terjadi beberapa kali hingga suatu hari, karena kesal ekor Ular mengikatkan dirinya di batang pohon. Kepala Ular tidak bisa bergerak maju, dan akhirnya membiarkan ekor Ular yang memimpin jalan. Sialnya, ekor Ular tidak bisa melihat ke arah mana mereka harus maju. Akhirnya Ular itu jatuh ke lubang api dan terbakar habis.

Seperti halnya dalam kehidupan kita, beberapa orang tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki dan selalu merasa iri terhadap kepemilikan orang lain. Mereka merasa hidupnya seakan-akan selalu ada yang kurang walaupun sudah memiliki apa yang diinginkan. Seseorang yang bersikap demikian tidak akan pernah menikmati apa yang sudah dimiliki. Ketika perasaan iri hati ini muncul, maka seseorang akan merasa tersiksa ketika melihat ada orang yang dinilai lebih bahagia dan beruntung dari dirinya. Sifat iri hati tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan, tetapi mengarahkan seseorang menuju pada jalan penderitaan. 

Kita semua mengetahui bahwa sebab-sebab mengapa seseorang menjadi menderita adalah karena mental yang negatif. Salah satu bagian dari mental yang negatif itu adalah iri hati. Mental yang demikian sangatlah membahayakan, oleh karena ketika ada perasaan iri hati, maka akan membangkitkan emosi-emosi negatif lainnya. Ketika seseorang memiliki sifat iri hati, mungkin karena perbedaan dalam hal pendidikan, pekerjaan, maupun ekonomi, maka kemudian akan muncul perasaan benci dan menginginkan kepemilikan orang lain. Kebencian, iri hati, dan keserakahan memiliki hubungan yang erat. Kebencian adalah rasa tidak suka terhadap suatu objek yang membuat seseorang menjadi merasa tidak nyaman yang bermula dari iri hati. Ketika iri hati muncul akan memunculkan keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki.

Issā (iri hati/kecemburuan)

Iri hati merupakan salah satu faktor mental yang tidak baik dan dipimpin oleh dosa (Mon, Tin 2014:99). Bagi mereka yang dipenuhi oleh pikiran iri karena didorong oleh kebencian akan berpikir orang lain tidak boleh merasakan kebahagiaan, kesejahteraan melebihi apa yang ia rasakan. Pada salah  satu syair Dhammapada menyatakan “Barang siapa yang menyimpan dendam, dia mengumpatku, dia memukulku, dia mengalahkanku, dia merampas punyaku, kedengkian mereka akan tidak redam” (Dhammapada, 1:3). Oleh karenanya, seseorang yang memiliki sifat iri sangatlah sulit untuk ikut berbahagia dengan kebahagiaan orang lain dan sulit menghargai apa yang dicapai orang lain. Issā adalah sifat iri pada keberhasilan dan kesejahteraan orang lain. Seseorang yang memiliki sifat iri hati hanya mementingkan dirinya sendiri sehingga ketika merasa ada orang lain yang lebih baik, maka ia menganggap mereka sebagai saingan. Dengan adanya perasaan iri, maka kemudian kadangkala dalam diri mereka juga akan muncul keserakahan dengan menginginkan kepemilikan orang lain dan juga sulit untuk berbagi.

Sakkapañha Sutta (Sutta ke-21 dari Dīgha Nikāya) terdapat penjelasan tentang iri hati dan kekikiran yang membelenggu makhluk hidup. Dalam Sutta ini dituliskan tentang Sakka, raja para dewa, mengajukan pertanyaan kepada Sang Buddha: “Dengan belenggu apakah, Yang Mulia, makhluk-makhluk seperti dewa, manusia, asura, naga, gandhabba, dan jenis apa pun yang ada, walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian, tanpa menyakiti satu sama lain, tanpa bermusuhan, dan tanpa memfitnah, ingin hidup dalam kedamaian, tetapi mereka masih tetap hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain, bermusuhan, dan memfitnah?” Sang Buddha menjawab: “Raja para dewa, adalah belenggu issā (iri hati) dan macchariya (kekikiran) yang membelenggu makhluk-makhluk sehingga walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian, tanpa menyakiti satu sama lain, tanpa bermusuhan, dan tanpa memfitnah, ingin hidup dalam kedamaian, tetapi mereka masih tetap hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain, bermusuhan, dan memfitnah.” 

Dari Sutta ini dapat kita pahami bagaimana sifat iri hati dan kekikiran membelenggu makhluk hidup. Walaupun mereka ingin hidup damai dan bahagia, tanpa  memunculkan kebencian antara satu dengan yang lain, mereka tidak akan memperolehnya karena sifat iri hati dan kekikiran masih menguasai dirinya.

Tidak Memahami Realita Kehidupan

Orang-orang yang memiliki perasaan iri hati sesungguhnya banyak dari mereka adalah orang-orang yang memang sudah kenal dengan kita. Karena bagaimana mungkin ada orang yang tidak dikenal, tidak pernah berkomunikasi kemudian tanpa ada alasan yang jelas lalu tiba-tiba berbuat sesuatu yang merugikan diri kita. Mereka yang memiliki sifat iri hati ini adalah karena tidak mampu memahami realita kehidupan sebagaimana adanya. Tidak memahami bahwa hal-hal baik apa pun yang terjadi dalam kehidupan seseorang adalah karena adanya suatu sebab. Orang menjadi sukses adalah disebabkan oleh usaha yang benar dan penuh semangat. Kalau seseorang selalu iri hati karena pencapaian orang lain jauh lebih baik dari dirinya, maka dia tidak akan pernah maju. Oleh sebab itu dari pada iri dengan keberhasilan orang lain, lebih baik melakukan sesuatu yang lebih berguna, berusaha lebih keras lagi agar hasil yang diperoleh menjadi sesuai dengan yang diharapkan.

Menaklukkan Sifat Iri Hati

Jika kita menyadari akan bahayanya pikiran yang diliputi oleh iri hati, maka kita dapat melawan pikiran-pikiran negatif tersebut dengan menjaga kewaspadaan, mengembangkan pikiran-pikiran yang penuh dengan kasih sayang dan simpati. Dengan demikian kita akan berpikir bahwa tidak ada ruginya bagi kita jika orang lain memperoleh keberhasilan. 

Kewaspadaan Pikiran

Apabila seseorang benar-benar mencintai dirinya sendiri  sesungguhnya ketika muncul pikiran-pikiran negatif, hendaknya bisa menyadari apakah pikiran tersebut membuatnya menjadi lebih damai atau sebaliknya. Sesungguhnya tidak seorang pun di luar dirinya yang mampu merusak kedamaian pikirannya. Dengan pemahaman demikian kita tidak harus melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, membandingkan diri kita dengan orang lain yang hanya akan mendatangkan beban bagi diri sendiri, menganggap ia memiliki sedikit, atau orang lain lebih berhasil dari dirinya. Kita perlu menyadari bahwa sifat iri hati sesungguhnya sangat merugikan dan menghambat perkembangan batin. Iri hati tidak akan pernah memberikan kepuasan sebagaimana yang diharapkan, dan sebaliknya hanya akan membawa pada penderitaan mental dan fisik yang berkepanjangan. 

Seseorang yang iri hati selalu berharap orang lain menjadi tersakiti, khususnya kepada orang yang ia benci. Akan tetapi, pada kenyataannya dirinya sendirilah yang selalu menjadi korban dari sikapnya sendiri. Kita harus tetap waspada terhadap pikiran-pikiran yang negatif. Sangat baik apabila kita mampu memahami pikiran secara baik dan bijaksana. Setiap kali pikiran negatif muncul, kita harus berusaha memahaminya sebagai pikiran yang sangat merugikan dan tidak mendukung perkembangan mental. Memahaminya sebagai pikiran yang merugikan tanpa memunculkan pikiran membenci yang baru lagi. Oleh sebab itu, penting sekali untuk tetap sadar akan apa yang kita lihat, dengar, sentuh, mencium, merasakan dan kita pikirkan. Melalui proses kewaspadaan pikiran yang perlahan-lahan ini, kita akan bisa memeriksa dan membuang pikiran-pikiran negatif sebelum memperbudak kita.

Mengembangkan Perasaan Simpati

Seseorang hendaknya mengembangkan simpati terhadap kebahagiaan dan keberhasilan orang lain. Ketika kita mengembangkan pikiran yang demikian akan mendatangkan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Rasa simpati saat melihat orang lain bahagia  adalah lawan dari iri hati. Hal ini tidak sulit dilakukan jika yang berhasil itu adalah orang yang sangat dekat dengan kita, namun akan sangat sulit bila yang berhasil itu adalah orang yang dibenci. Untuk melawan pikiran yang demikian, kita bisa berpikir “kalau saya saja ingin sukses dan bahagia tentu orang lain juga menginginkan hal yang sama”. Jadi, cobalah untuk bersikap demikian sehingga membebaskan kita dari rasa dendam dan pikiran yang dipenuhi iri hati. 

Bersikap Rendah Hati

Sebaliknya, saat diri kita berhasil, kita harus bersikap rendah hati pada orang yang mungkin saja iri atas keberhasilan kita. Iri hati kadang kala muncul karena kita sendiri tidak bersikap rendah hati. Oleh sebab itu, penting untuk bersikap tidak terlalu berlebihan atau merendahkan orang lain yang kurang berhasil dibandingkan kita. Selain itu hendaknya kita mengingat pada kegagalan di masa lalu,  dengan cara ini kita bisa memahami perasaan mereka yang kurang berhasil sehingga tidak memunculkan iri hati. Walaupun kita bersikap demikian, tetapi masih ada orang yang membenci karena iri hati, jaga diri kita untuk tidak membencinya. Kita harus selalu mengingat bahwa semua makhluk adalah pemilik dan pewaris kammanya sendiri. 

Jadi, kita perlu pahami bahwa sifat iri hati tidak akan membawa seseorang pada jalan kebahagiaan. Walaupun hal ini dilakukan untuk kebahagiaan diri sendiri tetap tidak membawa manfaat, karena iri hati hanya memunculkan kebencian dan sifat-sifat buruk lainnya. Pada dasarnya seseorang yang tidak menghargai keberhasilan dan kebahagiaan orang lain, maka kebahagiaan juga sulit untuk ia peroleh. Ketika kita sendiri ingin bahagia, maka hargailah kebahagiaan orang lain. Walaupun kita tidak bahagia dengan usaha kita sendiri, tetapi dengan berbahagia terhadap kebahagiaan orang lain, ini jauh lebih baik daripada hanya memunculkan rasa iri hati. Dengan bersikap demikian, sesungguhnya menjadi pendorong munculnya kebahagiaan pada diri kita.

Daftar Pustaka:
Dhammapada. Diterjemahkan oleh: Bhikkhu Dhammadhiro Mahāthera. Tangerang Selatan. Saṅgha Theravāda Indonesia.
Dῑgha Nikāya. 1995. Translatet by Walshe, Mourice. Tanpa Kota. Tim DhammaCitta Press.
Mon, Tin. 2014. The Buddha Abhidhamma. Maṅgala Indah Jakarta. Persamaan Abdi Dhamma Indonesia (PADI) Medan.
Vijano, Win. 2013. Kitab Suci Dhammapada. Tanpa Kota. Bahussuta Society.

Dibaca : 2897 kali