x

SEBAB DAN ALASAN DALAM BERDANA

Dānaṁ dadantu saddhāya, Sīlaṁ rakkhantu sabbadā, 
Bhāvanābhiratā hontu, Gacchantu devatāgatā. 
“Berdanalah dengan penuh keyakinan! Rawatlah sīla setiap saat! Gemarlah mengembangkan batin! Para dewa yang telah datang dipersilahkan kembali! 
(Devatā-Uyyojana Gātha)


    DOWNLOAD AUDIO

Berdana merupakan salah satu ajaran Buddha yang tidak kalah penting dari kebajikan yang lainnya. Hal ini bisa kita temukan di berbagai literatur Buddhis yang membahas mengenai tentang berdana. Sang Buddha sendiri pun ketika mengajarkan Dhamma pertama kalinya kepada perumah tangga, Beliau terlebih dahulu akan menerangkan ajarannya mengenai berdana. Setelah itu, baru Beliau akan melanjutkan ajarannya ke tahap yang selanjutnya seperti praktik moralitas (sīla) dan pengembangan batin (samādhi).

Di sisi lain praktik berdana juga merupakan suatu kebiasaan yang sudah sering dilakukan umat Buddha dari anak-anak hingga orang tua. Dari kebiasaan tersebut, beberapa umat Buddha memiliki sebab dan alasan mengapa mereka mau berdana. Dalam Aṅguttara Nikāya VIII, 31 dikatakan ada delapan sebab dan alasan mengapa seseorang mau berdana, yaitu:
1.Setelah menghina (si penerima), seseorang memberikan suatu pemberian. Pada kasus ini seseorang yang mau berdana dengan maksud dan tujuan yang tidak baik. Ia akan berdana dengan maksud dan tujuan dengan cara merendahkan (menghina) si penerima. Contoh kasus di sini ketika kita memberikan hadiah kepada orang lain kemudian kita akan berkata “Ini hadiah untuk kamu. ini mahal lho! belum tentu kamu bisa beli”. Dari kalimat tersebut dapat diterangkan maksud dan tujuan si pemberi agar si penerima tersinggung (kata-kata merendahkan/menghina) dengan menyatakan ia mampu memberikan hadiah yang mahal dan tidak mungkin si penerima mampu membelinya. Ini adalah jenis alasan pertama seseorang mau berdana dengan tujuan tidak baik.
2.Seseorang berdana karena takut. Pada kasus ini ia akan menjadi takut dan akan berpikir bahwa “Jika saya tidak berdana, maka seseorang akan mengkritik, mencela dan mencemooh saya lebih baik saya berdana”. Atas dasar pernyataan tersebut seseorang menjadi takut sehingga ia pun turut serta dalam berdana. Selain itu, seseorang takut berdana disebabkan karena takut hartanya akan habis atau takut jika tidak berdana, maka ia tidak akan mendapatkan keberuntungan dan sebagainya. Karena atas dasar pemikiran tersebutlah seseorang mau berdana dengan tujuan menghindari kritikan, hartanya akan habis serta mengharapkan suatu keberuntungan.
3.Seseorang berdana dengan alasan “Dia juga telah memberi kepada Ku". Dalam hal ini seseorang mau berdana dengan alasan “Dia juga telah memberi kepada ku, tak pantas jika aku tidak memberinya apa-apa”. Pada kasus ini seseorang mau berdana karena ia hanya mengingat jasa kebaikannya. Ia akan mau memberi jika seseorang pernah memberi kepadanya. Akan tetapi, jika seseorang tidak pernah memberi kepadanya, maka ia tidak akan pernah memberi kepada siapa pun. Orang seperti ini bisa diumpamakan seperti hujan lokal yang berarti hanya memberi kepada orang tertentu saja.
4.Seseorang berdana dengan alasan "Dia akan memberi kepada ku”. Pada kasus ini seseorang yang mau berdana, akan tetapi masih disertai perasaan pamrih dengan kata lain meminta balasan atau imbalan. Ia akan berdana dengan mengharapkan agar si pemberi suatu saat akan memberikan hadiah atau pemberian kepadanya. Ini adalah jenis keempat alasan seseorang mengapa ingin berdana.
5.Seseorang mau berdana dengan alasan bahwa berdana itu baik. Pada kasus ini ada dua tipe seseorang menyatakan bahwa berdana itu baik. Yang pertama seseorang menyatakan berdana itu baik karena ia telah mengerti dan memahami maksud dan tujuan berdana, sedangkan jenis orang kedua ini menyatakan bahwa berdana itu baik, sekadar baik atau hanya sekadar mengikuti tradisi keluarga tanpa diikuti oleh pengertian pemahaman maksud dan tujuan dari berdana. Jika berdana hanya berdasarkan menyatakan baik atau hanya mengikuti tradisi keluarga tanpa mengerti maksud dan tujuan dari berdana sama halnya seperti burung Beo, bisa menirukan suara manusia tetapi tidak mengerti arti dan maksudnya. Oleh karena itu, berdanalah dengan pengertian dan pemahaman dalam berdana.
6.Seseorang berdana dengan alasan bahwa "Aku memasak, tetapi mereka (sebagai petapa) tidak; karena aku memasak, tidak pantas bila aku tidak memberikan makanan kepada mereka yang tidak memasak". Dalam kasus ini seseorang yang mau berdana yang dipenuhi dengan rasa belas kasih kepada makhluk lain. Ia akan memberi ketika orang atau makhluk lain yang sedang menderita atau yang membutuhkannya. Inilah alasan keenam mengapa seseorang mau berdana.
7.Seseorang berdana dengan alasan "Karena aku telah melakukan pemberian, maka aku akan mendapatkan reputasi yang baik”. Pada kasus ini seseorang yang mau berdana akan tetapi masih diliputi oleh harapan dan tujuan. Harapan dan tujuan di sini adalah ingin mendapatkan reputasi yang baik seperti ingin terkenal, dihargai, disegani, dihormati, dan ingin dipandang sebagai orang yang baik. Karena dasar inilah seseorang terdorong untuk melakukan perbuatan berdana. Ini adalah jenis alasan mengapa seseorang mau berdana.
8.Seseorang berdana dengan alasan “Berdana itu dapat menghias atau memperindah pikiran”. Pada kasus ini seseorang mengerti dan memahami maksud dan tujuan berdana. Selain memperoleh keberuntungan berupa kesenangan indriawi, berdana juga mampu menciptakan batin seseorang menjadi indah atau luhur. Yang dimaksud batin yang indah dan luhur artinya pikiran atau batin seseorang terbebas dari kekikiran berkat dari praktik berdana. Selain terbebas dari kekikiran, seseorang juga akan terbebas dari keserakahan dan kemelekatan. Oleh karena itu, berdanalah dengan maksud tujuan untuk mengkondisikan batin kita agar terbebas dari kekikiran, keserakahan, dan kemelekatan.

Kesimpulan:

Dari semua jenis sebab dan alasan dalam berdana tersebut, bagian nomor kedelapan lah yang baik dan paling terbaik. Karena di sini seseorang mengerti dan memahami bahwa dengan berdana akan mampu mengkondisikan pikiran seseorang menjadi mulia atau luhur (terbebas dari kekikiran, keserakahan, dan kemelekatan). Berbeda  halnya dengan alasan jenis pertama sangat tidak baik karena memberi dengan maksud dan tujuan untuk merendahkan orang lain. Sedangkan bagian nomor 2 sampai 7 memang baik tetapi masih memiliki kualitas berdana dengan tingkat kualitas rendah karena masih dalam kondisi pengharapan dan rasa belas kasih terhadap makhluk lain. Oleh karena itu, berdanalah dengan tujuan untuk menghias atau memperindah batin demi terbebasnya dari noda kekikiran, keserakahan, dan kemelekatan dalam diri kita masing-masing.


Referensi:
-Aṅguttara Nikāya (Kumpulan Khotbah-khotbah Numerikal Sang Buddha), oleh Bhikkhu Bodhi-DhammacittaPress, Jakarta Barat.
-Paritta Suci-Yayasan Saṅgha Theravāda Indonesia.

Dibaca : 2546 kali