x

MENEMUKAN PERLINDUNGAN DI DALAM DIRI

Attā hi attano nātho, ko hi nātho paro siyā
Attanā hi sudantena, nāthaṁ labhati dullabhaṁ.
Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri. 
Karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? 
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
 ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.
(Dhammapada, Atta Vagga, syair 160)



    DOWNLOAD AUDIO

Tiratana merupakan 3 permata yang dijadikan sebagai perlindungan oleh umat Buddha, dan hal ini sebagai bentuk ungkapan keyakinan umat Buddha kepada Tiratana. Banyak cerita di dalam sutta, seorang perumah tangga ketika memahami Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha, mereka langsung mengungkapkan keyakinannya dengan mengucapkan perlindungan untuk seumur hidupnya kepada Tiratana. Hal demikian bisa terjadi, setelah mereka memahami Dhamma dan memperoleh rasa keamanan dari Dhamma yang telah direalisasi langsung oleh mereka sendiri. 

Sang Buddha pernah mengatakan bahwa “Engkau sendiri yang harus menempuh jalan sampai mencapai tujuan, Sang Tathāgata hanya menjadi penunjuk jalan”. Hal ini memberikan kejelasan bahwa keamanan yang ingin diperoleh dari perlindungan, seseorang harus berusaha sendiri untuk mewujudkan keamanan itu, tentu dengan dasar Dhamma atau jalan yang telah ditunjukkan oleh Sang Buddha, dan hal yang ditunjukkan oleh Sang Buddha tepat ada di dalam diri seseorang. Tetapi, kebanyakan orang lebih suka memperoleh keamanan berasal dari luar diri, dan dicari di luar diri. Padahal tidak jauh dari diri sendiri, telah ada keamanan yang lebih aman di dalam diri. Maka tidak jarang, banyak orang mengalami dilema dalam penderitaan karena tidak memahami apa yang merupakan perlindungan yang sesungguhnya dan apa yang bukan merupakan perlindungan. 

Seperti kisah dalam Makkata Sutta (SN 47.7); di Gunung Himalaya, terdapat daerah yang hanya monyet yang bisa melewatinya, tetapi manusia tidak bisa, dan itu adalah tempat yang aman bagi monyet. Ada juga daerah yang bisa dilewati oleh monyet maupun manusia, dan tempat ini adalah tempat bagi pemburu memasang perangkap untuk menangkap monyet. Monyet-monyet yang tidak bodoh dan tidak sembrono ketika melihat perangkap itu, menghindarinya dari jauh. Tetapi seekor monyet yang bodoh dan sembrono mendekati perangkap itu dan memegangnya dengan tangannya, ia pun terperangkap di sana. Monyet ini berusaha untuk membebaskan dirinya dengan kaki dan tangannya, namun yang terjadi baik tangan dan kakinya terperangkap semua, bahkan moncongnya pun ikut ter-perangkap. Monyet itu pun terperangkap pada lima titik, berbaring di tempat itu sambil menangis. Ia mengalami penderitaan yang berat karena pemburu menusuk dan bahkan mengikatnya pada balok kayu. 

Cerita ini mengingatkan untuk lebih waspada saat berada di mana pun, pentingnya memunculkan kewaspadaan supaya bisa jauh dari hal jahat yang dapat memperbudak batin. Apabila lalai, keluar dari perlindungan yaitu kewaspadaan itu sendiri, dan masuk ke rumah orang lain, maka seseorang akan menemui bencana yang sama seperti yang dialami oleh si monyet, karena telah membiarkan kejahatan mendapat akses ke dalam diri.

Apa sebenarnya yang bukan perlindungan, tetapi itu merupakan rumah orang lain? Itu adalah lima saluran kenikmatan sensual, yaitu; bentuk-bentuk yang disadari oleh indra mata, suara-suara yang disadari oleh indra telinga, bau-bauan yang disadari oleh indra hidung, cita rasa yang disadari oleh lidah. Objek-objek yang dapat diraba dan dirasakan oleh tubuh. 

Kelima objek sensual ini dapat memberikan kebahagiaan, tetapi itu hanyalah sedikit dan lebih banyak memberikan kesusahan. Kenikmatan yang diberikan tergantung pada kondisinya. Apabila kondisinya sudah tidak ada lagi, maka kebahagiaan dan kesenangan itupun akan memudar. Oleh karena itulah, kelima saluran sensual ini tidak patut untuk diharapkan dijadikan sebagai perlindungan. Seperti yang terjadi dengan si monyet, karena begitu bodoh dan serakahnya, menganggap perangkap yang dipasang oleh pemburu dilihat sebagai sesuatu yang berharga, tetapi kenyataannya adalah hal berharga yang dianggap merupakan sarang-nya penderitaan.

Supaya sifat buruk tidak memiliki akses untuk mempengaruhi, baik berupa keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, maka perlu untuk berlindung pada diri sendiri dengan masuk ke dalam rumah warisan kita sendiri yang merupakan perlindungan teraman. Apa yang dimaksud rumah warisan kita? Dalam Satipatthana Sutta, Sang Buddha telah memberi petunjuk untuk mengembangkan empat landasan kesadaran. Keempat landasan ini tidak ada di luar diri, tetapi ada di dalam diri, yaitu tubuh, perasaan, pikiran, dan fenomena, inilah rumah warisan kita. Yang oleh Sang Buddha menginstruksikan untuk mengembangkan perhatian penuh terhadap empat landasan tersebut. Siapa pun yang mengembangkannya dengan baik pasti akan memperoleh keamanan yang tertinggi, seperti yang telah direalisasi oleh para siswa ariya Sang Buddha.

Dengan demikian, seseorang mampu memperoleh keamanan dalam hidup ini bukan diperoleh dari luar seperti mengejar kenikmatan objek sensual, melainkan seperti yang telah dinasihatkan oleh Sang Buddha, tepat ada di dalam diri terdapat keamanan dari sebuah perlindungan. Apabila seseorang berusaha untuk mengerti dan memahami secara langsung empat landasan perhatian penuh yang ada di dalam diri, seseorang akan dapat memperoleh keamanan yang lebih aman.

Referensi:
-Bodhi, Bhikkhu. 2010. Saṁyutta Nikāya. Jakarta Barat: Dhammacitta
-Kitab Suci DHAMMAPADA. 2013. Bahussuta Society

Dibaca : 1739 kali