x

LUKISAN KEHIDUPAN

Sadisaṁ pākaṁ janeti, yādisaṁ vappate bijaṁ tādisaṁ harate phalaṁ. 
Kālyānakārī kalyānaṁ pāpakārī ca pāpakaṁ.
“Kamma akan memberikan hasil yang menyerupainya, seperti biji yang anda tanam, seperti itulah anda akan menuai buahnya. Siapa yang berbuat baik akan menerima kebaikan. Siapa yang berbuat buruk akan menerima keburukan”.
(SN. XI, 10: Samuddaka Sutta)




    DOWNLOAD AUDIO

MAKNA LUKISAN KEHIDUPAN

Beragam kehidupan dari bentuk fisik dan bermacam karakter disandang manusia dalam kehidupan ini sangat kompleks dan beragam. Keberagaman ini jika dilihat dengan sudut pandang yang pesimis maka akan melahirkan perasaan minder, salah satu contoh rendah diri ini yaitu membandingkan diri sendiri dengan orang lain, misalnya mengapa ia tampan dan saya jelek, mengapa ia berpengaruh dan saya tidak berpengaruh. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain, dengan beranggapan orang lain lebih superior dari diri sendiri, inferior ini juga termasuk bagian dari kekotoran batin yaitu jelmaan dari kesombongan. Tentunya jika kita paham dengan hukum perbuatan, hal demikian tidak akan terjadi, karena perbedaan ini ada karena sebab dan sebabnya adalah perbuatan yang telah kita atau mereka lakukan di masa lampau. Sebab inilah yang melahirkan akibat, misalnya mengapa dalam kehidupan ini pendek umur, hal itu karena kehidupan lampau orang tersebut gemar melakukan pembunuhan sehingga kehidupan sekarang mempunyai umur yang pendek, dan mengapa seseorang panjang umur, karena kehidupan lampau ia gemar menghindari pembunuhan sehingga memiliki usia panjang dalam kehidupan ini. Jadi manusia itu sendirilah yang melukis kehidupannya dengan perbuatannya mereka masing-masing, sehingga dalam kehidupan ini begitu banyak keragaman fisik yang disandang dan berbagai jenis karakter yang sangat kompleks.

MANUSIA INFERIOR (HĪNA) DAN SUPERIOR (PANĪTA)

Setelah kematian atau setelah tubuh jasmani ini hancur, sebagian manusia terlahir di alam menderita. Dalam Dhamma dikenal empat alam Apaya, salah satu alam itu adalah alam neraka dan sebagian manusia terlahir di alam bahagia surga setelah kematiannya. Sāleyyaka Sutta, MN. 41., menjelaskan “beberapa makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali dalam kondisi sengsara, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan dalam neraka. Beberapa makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Adalah dengan alasan perilaku yang tidak sesuai dengan Dhamma, dengan alasan perilaku tidak baik maka beberapa makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan dalam neraka. Adalah dengan alasan perilaku yang sesuai dengan Dhamma, dengan alasan perilaku yang baik maka beberapa makhluk di sini, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga”. 

Seperti yang telah kita ketahui, manusia dalam bertindak bisa saja baik dan buruk, di mana baik akan menghasilkan kebaikan dan buruk akan menghasilkan penderitaan dan hal ini selaras dengan hukum perbuatan yang diajarkan oleh guru Agung Buddha. Sering kita jumpai dalam hidup ini ada manusia superior (panīta) dan juga ada manusia inferior (hīna), yang menyebabkan manusia menjadi inferior dan superior adalah perbuatan mereka, jadi “kamma yang membedakan makhluk-makhluk sebagai hina dan mulia (Pa-Auk Tawya Sayadaw: 653)”. Manusia menjadi superior karena perbuatan baik dan manusia menjadi inferior karena perbuatan buruk. Hal ini karena “makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka, pewaris perbuatan mereka, mereka berasal-mula dari perbuatan mereka, terikat dengan perbuatan mereka, memiliki perbuatan mereka sebagai perlindungan mereka (Pa-Auk Tawya Sayadaw: 653)”. 

Cūḷakammavibhanga Sutta, MN. 135., menyebutkan “(1) Seorang pembunuh makhluk hidup ia akan ber-umur pendek, sedangkan seseorang meninggalkan pembunuhan makhluk hidup ia akan berumur panjang. (2) Seseorang terbiasa melukai makhluk hidup ia akan berpenyakit, sedangkan seseorang tidak terbiasa melukai makhluk hidup ia akan sehat. (3) Seseorang memiliki karakter pemarah dan mudah tersinggung memiliki rupa yang buruk, sedangkan seseorang tidak memiliki karakter pemarah dan tidak mudah tersinggung memiliki rupa yang cantik. (4) Seseorang bersifat iri, seorang yang cemburu ia tidak akan memiliki pengaruh, sedangkan seseorang tidak bersifat iri ia akan memiliki pengaruh. (5) Tidak mau memberi kepada petapa dan brahman ia akan menjadi miskin, sedangkan seseorang mau memberi kepada petapa dan brahmana ia akan menjadi kaya. (6) Seseorang keras kepala dan sombong ia akan berkelahiran rendah, sedangkan seseorang tidak keras kepala dan tidak sombong ia akan berkelahiran tinggi. (7) Seseorang tidak mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan bertanya ia akan menjadi bodoh, sedangkan mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan bertanya ia akan menjadi bijaksana (Pa-Auk Tawya Sayadaw, Tanpa Tahun: 651-652)”. Ini adalah bukti keragaman dan sebab yang menghasilkan akibat sehingga ada makhluk hidup yang inferior dan superior dalam kehidupan ini.

PELUKIS KEHIDUPAN

Ketika seseorang melakukan kamma-kamma tidak bajik ataupun bajik, ia adalah seperti seorang seniman yang membuat figur seorang pria atau wanita pada sekeping papan yang sudah dipelitur, tembok, atau kanvas. Pelukis yang tidak terampil menciptakan figur seorang wanita atau pria yang tidak sempurna atau jelek. Tetapi sebaliknya, pelukis yang terampil menciptakan figur seorang wanita atau pria yang sempurna atau baik. Begitu juga dengan kehidupan ini, menjadi lukisan kehidupan yang indah karena seseorang sudah menjadi terampil dalam melukis kehidupannya dan juga menjadi lukisan kehidupan yang tidak indah dikarenakan seseorang tidak terampil dalam melukis kehidupannya.

LUKISAN ISTRI NAHKODA 

Ia mulai melukis ketika kekasihnya mati dan terlahir kembali sebagai seekor anjing. Anjing muda itu terus mengikutinya, ke mana pun ia pergi para pemuda desa itu mengejeknya dengan mengatakan bahwa gadis itu akan berburu dan akan membawa daging yang enak untuk mereka. Gadis itu malu, ketika dia keluar lagi, dia mencoba mengusir anjing itu, tetapi tidak berhasil. Dia menjadi marah, diikatnya sekantong pasir di leher anjing itu dan dilemparnya anjing itu ke sungai. Dia mengalami nasib yang sama ketika menjadi istri nahkoda di kehidupan berikutnya (Mehm Tin Mon, 2016: 148). Kapal dengan tujuh ratus penumpang berangkat dari pelabuhan dan berhenti tidak bergerak di tengah lautan. Tidak bisa digerakkan oleh apa pun. Kemudian nahkoda berkata kepada para penumpang bahwa pasti ada seseorang yang sangat jahat di atas kapal ini. Orang itu harus ditemukan dengan diundi, untuk dilempar ke laut demi menyelamatkan penumpang-penumpang lainnya (Mehm Tin Mon, 2016:146).

LUKISAN SUNITA SI PEMULUNG

Lukisan itu dibuat pada kehidupan lampaunya ketika ia menghina Pacceka Buddha, sehingga dalam kehidupan sekarang ia terlahir di keluarga pemulung. Dengan status sosialnya sebagai kaum buangan, tak mungkin baginya untuk memperoleh pekerjaan dan upah yang baik. Untuk mempertahankan hidupnya, ia bekerja sebagai penyapu jalan dan memperoleh upah yang sangat sedikit. Walaupun ia sudah menghemat pengeluaran, tetap saja ia tidak mampu membeli kebutuhan pokok seperti obat-obatan, pakaian, dan gubuk kayu yang sederhana. Ia hanya makan bubur setiap harinya, ia hanya memakai secarik kain untuk menutupi tubuh bagian bawahnya, dan pada malam hari ia tidur di pinggir jalan karena tak memiliki rumah. Sunita juga dilarang bergaul secara bebas ataupun berjalan bersama orang-orang lainnya. Apabila ada orang berkasta tinggi yang hendak lewat, ia harus pergi dan menjauhi orang itu agar bayangannya tidak mengenai orang tersebut. Jika tidak, ia akan dicaci dan dihukum berat. Yang lebih menyedihkan ia tak berkesempatan mempelajari apa pun, serta dilarang keras memasuki tempat keagamaan dan mengikuti tempat keagamaan apa pun (Ashin Kusaladhamma, 2015: 273).

KESIMPULAN 

Setelah mengetahui dengan pasti dan jelas bahwa ‘lukisan kehidupan ini dibuat oleh pelukis dan pelukis ini kita kenal sebagai seniman’. Seniman yang handal dan terampil tentunya akan menciptakan lukisan yang indah dan baik, sebaliknya seniman yang kurang terampil akan melahirkan karya lukis yang jelek. Seniman ini ibarat manusia itu sendiri, terampil dan tidak terampil ibarat perilaku yang dilakukan, serta lukisan indah dan jelek ini ibarat perbuatan. Jadi lukisan kehidupan makhluk hidup bergantung pada pe-buatannya. Pemilik kamma, para makhluk, pewaris kamma, lahir dari kamma, terikat dengan kamma, dan terlindung oleh kamma. Kamma membedakan para makhluk, sebagai inferior ‘hīna’ dan superior ‘panīta’ (Pa-Auk Tawya Sayadaw, Tanpa Tahun: 653).

Referensi:
Kusaladhamma, Ashin. 2016. Kronologi Hidup Buddha. Jakarta Barat: Yayasan Satipatthana Indonesia. 
Mon, Mehm Tin. 2016. Karma Pencipta Sesungguhnya. Jakarta Utara: Yayasan Hadaya Vatthu.
Sayadaw, Pa-Auk Tawya. Tanpa Tahun.The Workings of Kamma. Jakarta: Yayasan Hadaya Vatthu.
https://suttacentral.net/sn11.10/id/ anggara diakses Agustus 2020
https://suttacentral.net/mn41/id/ anggara diakses 13 Agustus 2020
https://suttacentral.net/mn135/id/ anggara diakses 13 Agustus 2020

Dibaca : 527 kali