x

DOGMATISME

Appamādarato bhikkhu, pamāde bhayadassi vā;
Abhabbo parihānāya, nibbānasseva santike.
Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan, dan melihat bahaya dalam kelengahan, tak akan terperosok lagi, ia sudah berada di ambang pintu Nibbāna.
(Dhammapada, Appamāda Vagga, Syair 32)

    DOWNLOAD AUDIO

Di dalam dunia modern ini, terdapat berbagai macam tipe-tipe orang. Tentu dengan berbagai tipe, memiliki berbagai jenis pandang yang berbeda, tentu pandangan tersebut mewakili pola perilaku perbuatan mereka, pola perilaku ucapan mereka, dan pola perilaku pikiran mereka. Akan tetapi, dengan berbagai pandangan tentu ada 1 (satu) pola yang sama yang dimiliki oleh kebanyakan makhluk adalah pandangan berdasarkan dogma. Maka dari itu, dalam artikel ini akan ditunjukkan sisi pandangan berdasarkan dogma dan apa yang harus dilakukan untuk tidak berpandangan demikian.

Pandangan dogmatis adalah sebuah pandangan di mana bersifat mengikuti suatu ajaran tanpa kritik sama sekali. Pandangan tersebut memunculkan sikap atau perilaku yang tidak bisa menyesuaikan dengan kenyataan yang ada, pandangan tersebut membuat dirinya intoleran dengan lingkungan sekitarnya dan menganggap pandangan tersebut sebagai hal yang tertinggi. Konsep tentang “aku” di masyarakat yang banyak berkembang pada kondisi masa lalu dan saat ini akan menimbulkan sebuah pandangan yang menyatakan, “inilah yang paling benar, yang lainnya salah.” Sebagai akibatnya, dapat kita temui di dalam masyarakat, perselisihan akan selalu mengikuti demi mempertahankan pandangan tersebut. Seperti yang tercantum di dalam Paramaṭṭhaka Sutta di dalam Sutta Nipāta.

Beberapa alasan mengapa seseorang menganggap sesuatu sebagai kebenaran dan segala hal di luar yang mereka anggap adalah salah telah dijelaskan secara rinci di dalam Dhamma yaitu di dalam Caṅkī Sutta (MN 95). Seseorang yang terjerumus pada pandangan-pandangan ini akan mengisi pikirannya dengan pandangan salah yang justru menghambat pengembangan batinnya. Keyakinan terhadap pandangan tersebut disebabkan oleh:
1.Keyakinan atau keimanan (Saddhā)
Keyakinan yang dimaksud di sini adalah sebuah keyakinan yang terkenal dengan istilah “pokoknya” sehingga cenderung mengabaikan kenyataan atau realita yang ada. Keyakinan tersebut dibawa-bawa oleh dirinya dan diwartakan kepada khalayak ramai sebagai sebuah pedoman kebenaran tanpa berisi kenyataan atau realita yang ada dan berkata bahwa inilah yang benar, dan yang lainnya salah, bukannya mengatakan bahwa keyakinanku adalah demikian. Sehingga demi keyakinannya, ia rela mati.
2.Kesukaan atau Kecintaan (Ruci)
Kesukaan di sini yang dimaksud adalah kecintaan terhadap sebuah pandangan tanpa didasari oleh kenyataan, hanya menggunakan perasaan saja, ‘kecocokan tanpa isi yang baik’ adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kecintaan ini. Dengan kecintaan terhadap sebuah pandangan membutakan dirinya untuk menerima kenyataan dan menganggap bahwa yang lain salah termasuk materinya maupun non materi, ini sajalah yang benar, 
3.Tradisi turun-temurun (Anussava)
Tradisi yang dimaksudkan adalah sebuah tata cara, format, ataupun peraturan tertentu yang disampaikan dari generasi para lampau hingga generasi yang meneruskannya, seperti sebuah tongkat estafet yang diberikan dari satu tangan ke tangan yang lain tanpa melihat apa isi tongkat tersebut, demikianlah orang yang berpandangan bahwa inilah yang benar, yang lainnya salah. Padahal tradisi tersebut bisa mempunyai 2 kemungkinan yaitu benar atau salah.
4.Logika atau penalaran (Ākāraparivitakka)
Penalaran-penalaran yang dilakukan oleh beberapa orang dengan hanya menggunakan sebatas isi pikirannya, bukan berdasarkan penelitian, pembuktian, atau melihat dengan jelas kenyataan yang ada, ia mengumandangkan penalaran inilah yang paling benar, yang lain salah. Bukan dengan mengatakan demikianlah penalaranku, tetapi menganggap penalarannya adalah satu-satunya kebenaran.
5.Pandangan sepintas (Diṭṭhi-nijjhānakkhanti )
Dengan berpandangan sepintas, seseorang dapat menganggap bahwa ini yang benar, yang lainnya adalah salah, disebabkan karena pemikiran ia yang hanya sebatas sampai di situ kemudian menganggapnya adalah yang paling benar disebabkan karena kebodohan batinnya yang begitu kental. Tanpa melihat dengan jelas kenyataan yang ada, cenderung lebih mengabaikan kenyataan yang ada.

Pembenaran akan selalu dicari-cari untuk mendatangkan pujian. Perasaan senang dan kegembiraan yang meluapluap akibat dipuji bukanlah hal yang pantas karena kesombongan akan mencengkeram dan merupakan landasan untuk keruntuhan (Pasūra Sutta, Sn 830).

Sang Buddha menjelaskan secara rinci masalah penderitaan, fakta kehidupan yang ada di dunia ini dan tidak dapat dipungkiri oleh kita.  
Khotbah-khotbah Beliau bertujuan agar kita menyadari akan hal itu. Beliau telah memberitahukan kepada kita apa yang telah dijelaskannya dan apa yang tidak dijelaskannya. Bagi seseorang yang berpandangan benar, hal yang penting di dalam hidupnya bukanlah spekulasi atau pencarian sia-sia untuk menemukan absolutely truth, tetapi lebih kepada kebahagiaan dan kedamaian yang dapat dicapai di dalam diri sendiri. Cara untuk mengatasi kebimbangan dan kesulitan ini adalah melalui penyelidikan dalam batin manusia yang dapat dilakukan dengan sebuah praktik melihat dan mengetahui secara mendalam segala fenomena yang muncul, bertahan, dan lenyap berdasarkan pada kemurnian pengertian, tingkah laku, dan latihan konsentrasi.

Perilaku Buddhis di dalam hidup adalah sebuah perilaku yang dilatih secara rutin dan berkala untuk memahami kenyataan yang ada, mampu menerima hal tersebut, dan mampu melepaskannya. Hal ini merupakan pengembangan dan pemurnian diri pada seseorang yang menghasilkan kesadaran diri tanpa imajinasi atau gambaran apa pun (Tevijja Sutta, DN).  Penekanannya adalah kepada hal-hal yang berguna serta bermanfaat untuk diri sendiri maupun pihak lain, dan bukan kepada spekulasi filosofis, teori logika, atau bahkan renungan. Etos dan psikologi Buddhis dibangun berdasarkan kebenaran dan kenyataan tentang adanya penderitaan, ketidakpuasan semua makhluk duniawi, dan seluruh keberadaan empiris.

Pada zaman dahulu sampai sekarang pun ditemukan sebuah pertanyaan, jika seseorang sudah mengetahui minimal mana yang baik dan mana yang buruk, mengapa mereka memiliki disiplin yang berbeda, cara praktik yang berbeda, ajaran yang berbeda, dan pembebasan yang berbeda? Semua itu disebabkan juga oleh pandangan “inilah yang benar, yang lain salah” (Sakkapañha Sutta, DN, 21).

Memahami ajaran Buddha berarti kita memahami seluruh ajaran Buddha tidak lepas dari penemuan empat kesunyataan mulia yaitu adanya penderitaan di dunia ini, sebab adanya penderitaan di dunia ini, lenyapnya penderitaan di dunia ini, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan. Selebihnya merupakan penjelasan yang rinci dari empat kesunyataan mulia tersebut. Inilah ajaran yang khas dari para Buddha di semua zaman.

Tentu apa pun yang dibahas di artikel ini tidak berarti jika hanya dibaca maupun dipahami secara teori, yang diperlukan bagi khalayak ramai adalah mempraktikkan yang dipelajari, tanpa ada praktik yang baik, tidak ada hasil yang baik. Merendahkan pandangan orang lain dan meninggikan pandangan sendiri adalah hasil praktik yang tidak baik. Merendahkan orang lain dan memuji diri sendiri adalah hasil praktik yang tidak baik. Praktik yang baik adalah bagaimana seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan berdamai dengan orang lain, dengan seseorang bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan berdamai dengan orang lain, maka dia tidak akan meninggikan maupun merendahkan karena ia telah bebas dari dualisme dan kesombongan.

Referensi
Premasiri, P.D. 2008, The Philosophy of the Atthakavagga. Kandy: The Wheel Publication. 
Anggawati, Lanny & Cintiawati, Wena (Penerjemah), 1999, Sutta Nipāta Kitab Suci Agama Buddha (judul asli: The Sutta Nipāta by H. Saddatissa). Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa.
Team Giri Mangala Publication & Team Dhammacitta Press (Penerjemah), 2009, Khotbah-khotbah panjang Sang Buddha Dīgha Nikāya (judul asli: The Long Discourse of The Buddha by Maurice Walshe). 
Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, 1995, The Middle Length Discourses of The Buddha, Boston: Wisdom Publication.

Dibaca : 578 kali