x

Siapa Saya

Yatha idam tatha etam. Yatha etam tatha idam, ti.
Sebagaimana tubuh ini, demikian mayat itu.
Sebagaimana mayat itu, demikian tubuh ini.


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

 


Ketika ada pernyataan, baik yang muncul dari orang lain atau diri sendiri, "siapa saya", berbagai macam jawaban akan didapatkan berkenaan dengan pernyataan tersebut. Misalkan seseorang akan menyebutkan namanya, menyebutkan silsilah keluarganya, seseorang menyebutkan kepemilikannya, bahkan menjelaskan prestasi-prestasi selama karirnya. Demikian juga dengan Anda, tentunya akan menjawab hal serupa apabila mendapatkan pernyataan tersebut. Melalui bermacam jawaban itu, didapatkan informasi bahwa apa yang telah disampaikan, perlu diperiksa ulang apakah respon itu masuk kebenaran berdasarkan kesepakatan atau tidak berdasarkan kesepakatan.
Secara tidak sadar, apabila kita mendapatkan jawaban maupun respon dari orang lain maupun dari diri sendiri secara pribadi, itu menandakan kesombongan sedang muncul, tidak hanya muncul saja tetapi juga mengembangkan kesombongan yang telah ada. Maka, berhati-hatilah ketika memberikan respon atau jawaban supaya tidak memunculkan kesombongan yang barangkali tidak dapat diterima oleh lawan bicara.
Supaya mempermudah dalam pembahasan kali ini, mari kita menyamakan pendapat berkenaan dengan kebenaran. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Sang Buddha bahwa di dunia ini ada dua kebenaran, yakni kebenaran berdasarkan ke-sepakatan (sammuti-sacca) dan kebenaran tidak berdasarkan kesepakatan (paramattha-sacca). Antara kebenaran berdasarkan kesepakatan dengan kebenaran tidak berdasarkan kesepakatan, keduanya selalu bersama kita dan terhubung dengannya. Maka, sebagai umat Buddha amat perlu kiranya untuk mengetahui kebenaran-kebenaran yang bersama dan terhubung ini.
Pemahaman berkenaan dengan dua kebenaran tersebut tentunya amat penting untuk diketahui. Dengan mengetahui hal itu akan dapat memberikan wawasan yang luas dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari, baik dalam peningkatan kualitas spiritual maupun peningkatan tahap hidup manusia normal pada umumnya. Hal ini harusnya menjadi perhatian yang serius sebagai umat Buddha karena banyak umat Buddha cenderung memperhatikan kebenaran berdasarkan kesepakatan. Apabila cenderung memberikan perhatian kepada kebenaran berdasarkan kesepakatan, maka pengetahuan kita dalam memahami diri sendiri akan menjadi sempit, dangkal, dan berakibat merugikan.
Adapun contoh-contoh dari kebenaran berdasarkan kesepakatan adalah semua makhluk hidup, semua benda mati, dan nama-nama yang diberikan kepadanya (Mon, 2012). Sementara kebenaran tidak berdasarkan kesepakatan ini di dalam Dhamma disebutkan hanya kesadaran, faktor-faktor mental dan materialitas yang eksis di alam semesta ini (Mon, 2012). Setelah mengetahui dua kebenaran yang selalu berdampingan dalam kehidupan kita ini, perlukah kita memberikan perhatian terhadap keduanya? Jawabannya adalah iya, seyogianya adalah berusaha untuk mempelajari dan memahami dua kebenaran itu.
Penjelasan lebih rinci berkenaan dengan dua kebenaran itu, tentunya akan menjelaskan contoh-contoh dari kebenaran tersebut yang berada dan terjadi di sekitar kita. Kebenaran berdasarkan kesepakatan misalkan manusia. Manusia adalah sebutan untuk menjelaskan salah satu makhluk yang ada di dunia ini dan itu benar adanya. Keberadaan manusia tersebut tidak dapat eksis untuk selamanya, tetapi memiliki kurun waktu untuk bertahan. Demikian juga dengan hewan-hewan memiliki keberadaan yang sama serta memiliki kurun waktu untuk bertahan.
Hal itu dapat terjadi karena manusia maupun hewan-hewan tersusun dari berbagai unsur yang saling mengikat, sehingga muncullah sebutan manusia maupun hewan-hewan lainnya. Unsur-unsur yang menopang tubuh manusia dijelaskan oleh Sang Buddha dalam Dvattimsakara, yaitu rambut, bulu, kuku, gigi, kulit, daging, urat daging, tulang, sumsum tulang, ginjal, jantung, hati, selaput, limpa, paru-paru, usus, selaput di antara usus, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, pelumas, air seni, dan otak dalam kepala. Inilah unsur-unsur yang membentuk atau menopang tubuh kita sebagai manusia. Apabila salah satu dari unsur ini tidak ada, maka akan mengakibatkan kerugian berupa penyakit yang berujung pada kematian.
Usai mengetahui tentang unsur-unsur yang telah diuraikan ini, tidak ada dari semuanya yang menunjukkan keindahan, kemolekan, keanggunan yang dianggap saya indah, saya cantik, saya ganteng. Semuanya menunjukkan sesuatu yang tidak indah, tidak menarik, tidak ada yang memberikan kesenangan jika direnungkan secara mendalam, sebab semuanya akan menjadi hancur lebur, terurai dan bahkan menimbulkan bau yang tidak sedap. Sang Buddha dalam Vijaya Sutta menjelaskan bahwa tubuh ini seperti mayat dan mayat itu seperti tubuh ini.
Inilah kenyataan yang ada di dalam diri ini, inilah fakta yang sebenarnya di dalam tubuh ini, itulah realitas yang selama ini menopang tubuh ini yang dianggap sebagai saya. Selalu dibanggakan di hadapan orang lain sebagai sesuatu yang indah, menarik serta memberikan kesan-kesan menyenangkan dalam menjalani kehidupan ini. Namun, perlu disadari bahwa anggapan selama ini hanyalah hiburan sesaat yang tidak dapat dipertahankan. Tiba saatnya kelak akan mengalami sakit, hancur, terurai dan akhirnya tidak dapat ditemukan di mana saya berada. Oleh sebab itu, pahamilah diri dengan benar, pahamilah tubuh ini dengan saksama dan berusahalah untuk tidak melekati atau bahkan meng-anggap bahwa inilah saya, ini adalah milik saya, inilah kepunyaan saya.
Berhubungan dengan kebenaran tidak berdasarkan kesepakatan atau unsur-unsur hakiki tentang kesadaran, faktor-faktor kesadaran dan materialitas. Tidak akan dijelaskan secara terperinci atau komprehensif di sini, namun para umat diharapkan untuk mempelajarinya sendiri di rumah. Namun, perlu diketahui dan diingat bahwa saya maupun Anda semua hanyalah ikatan dari materialitas dan kesadaran yang selalu berubah dan tidak dapat eksis selamanya.
Sebagai runutan akhir dari pembahasan berkenaan dengan "siapa saya" dapat diambil kesimpulan bahwa tubuh atau jasmani ini tersusun dari banyak ornamen yang bersatu padu membentuk kesatuan sehingga disebut sebagai manusia. Ornamen-ornamen tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua secara garis besar yakni
kebenaran secara konsep (berdasarkan kesepakatan) dan kebenaran hakiki (tidak berdasarkan kesepakatan). Dua kebenaran ini layak untuk diketahui oleh orang-orang yang ingin tahu tentang dirinya sendiri, mereka yang ingin memahami apa yang ada di dalam tubuhnya sendiri terutama umat Buddha. Tujuan mengetahui kebenaran ini adalah agar tidak ada yang saling menjelekkan, saling memusuhi, saling menyakiti antara satu dengan yang lainnya. Hal itu karena kita semua sama-sama terdiri dari tumpukan kotoran, ditopang oleh unsur-unsur yang menjijikkan, maka tidak ada alasan untuk saling merugikan setelah mengetahui siapa saya yang sebenarnya. Ingatlah hal ini di setiap langkah Anda sehingga akan selalu eling dan waspada di mana pun berada.

Referensi:

  • Dhammadhiro. 2019. Paritta Suci. Tangerang Selatan: Sangha Theravada Indonesia.
  • Mon, Mehm Tin, Anthony Lauwrence (Ed). 2012. The essence of Buddha Abhidhamma (Versi Bahasa Indonesia). Jakarta: Mangala Indah.

Dibaca : 226 kali