x

BISA BERBUAT BAIK ADALAH BERKAH

Sukarani asadhuni attano ahitani ca
yam ve hitanca sadhunca tam ve paramadukkaram

Sungguh mudah melakukan hal-hal yang buruk dan tak bermanfaat,
tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal yang baik
dan bermanfaat bagi diri sendiri.
(Dhamapada Atta Vagga, 163)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Melihat kondisi yang terjadi sekarang ini menunjukkan bahwa kita berada dalam kondisi krisis moral. Berita yang beredar di berbagai media umum tentang tindakan kriminal. Fakta mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan jahat lebih mudah dilakukan ketimbang perbuatan-perbuatan baik. Menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan sudah dianggap baik. Apalagi, jika seseorang menahan diri untuk tidak berbuat kejahatan dan ditambah melakukan kebajikan, itu sangat lebih baik. Yang disebut berkah dalam agama Buddha bukanlah tentang praktik-praktik mistis. Penghindaran dari perbuatan buruk dan melakukan perbuatan baik itulah yang sesungguhnya disebut berkah.

Buddhisme menekankan pengikutnya untuk menghindari perbuatan buruk, memperbanyak perbuatan baik, dan membersihkan batin. Pemahaman tentang berkah dalam agama Buddha juga tidak lepas dari tiga poin penting tersebut. Berkah bukanlah sesuatu yang dicari di tempat-tempat tertentu, tetapi berkah adalah sesuatu yang diciptakan dengan dasar menghindari kejahatan, memperbanyak perbuatan baik, dan membersihkan batin. Dalam Mahamangala Sutta, Sutta Nipata, secara jelas perbuatan menghindari dan tidak melakukan kejahatan merupakan berkah. Perbuatan baik seperti berdana, berperilaku sesuai Dhamma, dan melakukan perbuatan tanpa cela merupakan berkah. Memiliki kualitas diri seperti rasa hormat, kerendahan hati, kepuasan hati, dan berterima kasih merupakan berkah.

Dalam Dhamma, kita diminta untuk bergegas berbuat kebajikan dan mengendalikan pikiran dari kejahatan. Apabila kita telah berbuat jahat, hendaknya kita tidak mengulanginya lagi dan apabila kita berbuat baik hendaknya kita mengulanginya lagi dan lagi. Sekecil apa pun perbuatan baik atau buruk seharusnya tidak dipandang sebagai remeh. Ibarat air yang menetes demi tetes akan memenuhi isi tempayan. 

Kriteria perbuatan baik dan buruk bisa dilihat di dalam Ambalatthikarahulovada Sutta, Majjhima Nikaya, 61. Jika perbuatan yang dilakukan melalui jasmani, ucapan dan pikiran itu membawa kerugian dan penderitaan bagi diri sendiri atau orang lain atau keduanya, itu dianggap sebagai perbuatan buruk. Sedangkan jika perbuatan yang dilakukan melalui jasmani, ucapan, dan pikiran itu tidak membawa kerugian dan penderitaan diri sendiri atau orang lain, ataupun keduanya, adalah perbuatan baik. Lebih lanjut dalam sutta ini diceritakan bahwa Buddha memberikan perumpamaan cermin Dhamma kepada Rahula. Sebelum seseorang bertindak, berucap, dan berpikir, seseorang seharusnya merenungkan hal ini. Seseorang bisa bercermin kepada diri sendiri sebelum bertindak kepada yang lainnya. Ketika seseorang menyadari bahwa semua orang takut pada hukuman dan kematian, setiap makhluk mencintai hidup, setelah membandingkan dirinya sendiri dengan yang lainnya, ia seharusnya tidak memukul atau membunuh yang lain. Begitu juga dengan perbuatan-perbuatan yang lainnya.

Buddha sendiri menyadari kecenderungan manusia yang lebih mudah melakukan kejahatan ketimbang melakukan kebajikan. Ketidaktahuan yang membuatnya demikian. Ketidaktahuan membuat seseorang tidak menyadari pentingnya berbuat baik dan buruknya kejahatan. Untuk bisa berbuat baik, seseorang perlu memiliki pandangan benar terlebih dahulu. Pandangan benar membantu seseorang untuk melihat bahwa ada akibat dari perbuatan baik dan buruk, ada kehidupan ini dan kehidupan selanjutnya. Seseorang dikatakan memiliki pandangan benar apabila ia memahami perbuatan buruk beserta akarnya dan juga memahami perbuatan baik beserta akarnya.

Berbuat baik juga tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Kesempatan untuk berbuat baik sesungguhnya ada di mana-mana, namun karena ketidaktahuan kita, berbuat baik seakan-akan menjadi sulit sehingga menimbulkan keengganan untuk dilakukan. Untuk menciptakan berkah pun juga sebenarnya tersedia di mana-mana. Berkah tidak hanya terletak pada suatu tempat-tempat ritual. Ambil contoh dalam lingkup pergaulan, tidak bergaul dengan orang dungu dan senantiasa bergaul dengan orang yang bijak adalah berkah. Di lingkup keluarga, menyokong ibu dan ayah, menyayangi istri dan anak, dan membantu kerabat sanak keluarga merupakan berkah. Oleh karena itu berkah bisa diciptakan di mana saja dan oleh siapa saja.

Berkah dalam Buddhisme tidak mengarah pada praktik ritual mistis. Yang disebut berkah dalam Buddhisme masih berdasarkan asas menjauhi kejahatan, memperbanyak perbuatan baik, dan membersihkan batin. Hasil dari praktik tersebut juga disebut berkah. Tak bisa dipungkiri, bisa berbuat baik adalah berkah. Di satu sisi, seseorang yang bisa berbuat baik berarti telah mengerti pentingnya perbuatan baik dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Di sisi lain, bisa berbuat baik disebut berkah karena cara untuk mendapatkan berkah adalah dengan menjauhi kejahatan, memperbanyak kebajikan, dan membersihkan batin. Berkah berguna bagi kemajuan diri sendiri dan juga bermanfaat bagi orang lain juga.

Referensi:

  • Jotidhammo.1999. Sutta-Nipata. Klaten: Vihara Bodhivamsa.
  • Nanamoli. 2013. Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha Majjhima Nikaya. Jakarta Barat: DhammaCitta Press.

Dibaca : 156 kali