x

Antara Kekayaan Materi dan Kekayaan Non Materi

Dhammapiti sukham seti, vippasannena cetasa.
Ariyappavedite dhamme, sada ramati pandito.

Ia yang mengenal Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran tenang. Orang bijaksana selalu bergembira dalam
Ajaran yang dibabarkan oleh Para Ariya.
(Dhp. 79, Pandita-Vagga))


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekayaan berasal dari kata kaya yang berarti memiliki banyak harta. Harta yang dimaksud terdiri dari dua jenis yaitu harta benda bergerak (dapat dipindah) maupun harta benda yang tidak bergerak (tidak dapat dipindah). Contoh jenis harta benda yang bergerak yaitu uang, mobil, perhiasan, televisi, hewan ternak, meja, kursi, dan lain-lainnya. Sedangkan contoh harta benda yang tidak bergerak meliputi tanah (ladang dan sawah), rumah, gedung, pabrik, dan sebagainya.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa memiliki harta kekayaan merupakan dambaan setiap orang. Hal ini dikarenakan kekayaan dapat menjadikan hidup seseorang memiliki keberkecukupan dari segi materi sehingga hal tersebut mampu membuat hidup seseorang menjadi lebih mudah. Berbeda pula halnya dengan seseorang yang miskin serba kekurangan, maka akan sulit dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu, tidak heran jika selama ini di beberapa negara, termasuk Indonesia sering terjadi tindakan kasus kejahatan yang disebabkan oleh kemiskinan. Kejahatannya pun bermacam-macam, dari kasus pencurian, perampokan, pembegalan, sampai dengan kasus pembunuhan.

Sang Buddha sendiri pun menyatakan bahwa kemiskinan adalah penyakit yang paling berbahaya (dalidda paramam roga). Hal ini dikarenakan seseorang yang miskin secara materi maupun miskin secara spiritual akan mudah membuat seseorang melakukan tindakan kejahatan. Dengan demikian, dalam agama Buddha memiliki harta kekayaan memang tidak dilarang selagi didapatkan dengan cara yang benar. Namun harus kita ingat bahwa kekayaan secara materi sifatnya hanya sementara, tidak kekal, mudah rusak, mudah terbakar, hanyut dan hancur. Oleh karena itu, selain kita memiliki harta kekayaan berupa materi hendaknya kita juga harus memiliki harta kekayaan berupa non materi (kekayaan spiritual).

Di dalam Dhana Sutta, Anguttara Nikaya 5.47, Sang Buddha menyatakan ada lima jenis kekayaan non materi yang harus kita miliki, yaitu:

  • Kekayaan keyakinan (Saddhadhanam)

Kekayaan pertama yang harus dimiliki oleh seseorang adalah kekayaan berupa keyakinan (Saddha). Keyakinan yang dimaksud adalah keyakinan kita terhadap guru kita Sang Buddha. Beliau yang tercerahkan, seorang Arahat, sempurna dalam pengetahuan dan perilaku, sempurna menempuh jalan, pengetahu segenap alam, pelatih terbaik, guru para dewa dan manusia. Seseorang yang hendak belajar Dhamma hendaklah ia memiliki keyakinan terlebih dahulu. Tanpa keyakinan maka kita akan sulit untuk bisa menerima apa yang disampaikan. Selain itu, memiliki keyakinan kepada Buddha berarti kita harus mengikuti sifat-sifat bajik Beliau. Sang Buddha selalu mengajarkan kita agar kita jangan berbuat jahat, melakukan segala jenis kebajikan, serta senantiasa membersihkan batin kita. Jangan membenci dan jangan serakah, tempuhlah jalan menuju kebebasan.

  • Kekayaan moralitas (Siladhanam)

Yang dimaksud kekayaan moralitas di sini artinya seorang bijaksana mampu mengendalikan diri agar tidak melakukan segala tindakan keburukan. Tindakan keburukan di sini dijelaskan oleh Sang Buddha yaitu melakukan pembunuhan, mengambil apa yang tidak diberikan, berbuat asusila, berbohong dan minum atau makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran. Mengapa kita harus memiliki kekayaan moralitas? Karena kekayaan moralitas bukan hanya sekadar untuk kebahagiaan saat ini saja, melainkan juga untuk kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.

  • Kekayaan pembelajaran (Sutadhanam)

Kekayaan berupa pembelajaran di sini artinya seseorang siswa harus banyak belajar, kemudian diingat dan dikumpulkan. Dengan belajar, seseorang akan memiliki pengetahuan yang di mana pengetahuan di sini dapat berguna untuk memahami dan mengerti ajaran Buddha. Tanpa belajar, maka seseorang akan sulit memahami dalam mempraktikkan Dhamma. Kita akan menjadi orang yang bodoh, tidak mengerti mana yang baik dan mana yang tidak baik. Hal ini sesuai apa yang disabdakan oleh Sang Buddha di dalam Dhammapada syair 152yaitu“Seseorang yang tidak mau belajar akan menjadi tua seperti sapi; dagingnya bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang”.Oleh karena itu, belajar sangatlah penting bagi kita, selain menambah pe-ngetahuan, di sisi lain juga dapat menumbuhkan kebijaksanaan, sehingga kita mampu memandang segala sesuatu dengan penuh pertimbangan.

  • Kekayaan kedermawanan (Cagadhanam)

Yang dimaksud dengan kedermawanan di sini artinya seseorang yang terbebas dari noda kekikiran, tidak serakah, tidak pelit, gemar berbagi, senang dalam memberi. Banyak orang di dunia yang memiliki kehidupan yang berkecukupan. Mereka memiliki banyak harta, rumah mewah, mobil, perhiasan dan lain-lainnya. Akan tetapi, walaupun mereka kaya memiliki harta yang berlimpah, tetapi belum patut disebut kaya. Karena apa? Karena mereka kikir, pelit, dan tidak mau berbagi. Mereka adalah orang-orang yang miskin dari hal kebajikan. Berbeda halnya bagi mereka yang miskin, sederhana hidupnya, akan tetapi mereka mau berbagi, tidak kikir, tidak pelit, tidak serakah, rajin berdana, menolong dan sebagainya, merekalah yang patut dikatakan orang kaya. Kaya dalam hal apa? Kaya dalam hal kebajikan. Oleh karena itu, gemarlah berbagi, jangan kikir, dan jangan pelit.

  • Kekayaan kebijaksanaan (Pannadhanam)

Kekayaan kebijaksanaan di sini disebutkan bahwa seorang siswa mulia bijaksana, memiliki kebijaksanaan mampu melihat munculnya dan tenggelamnya lima unsur kelompok kehidupan. Lima unsur kehidupan tersebut terdiri dari materi (rupa), perasaan (vedana), pencerapan (sanna), bentuk-bentuk pikiran (sankhara), dan kesadaran (vinnana). Jika hal ini dikembangkan dan dipraktikkan akan mampu mengarah pada kehancuran penderitaan secara total. Lalu bagaimana caranya mendapatkan? Cara mendapatkan yaitu dengan mempraktikkan pengembangan batin atau meditasi khususnya meditasi vippasana bhavana yang dapat menimbulkan kebijaksanaan atau pandangan terang. Selain itu, kebijaksanaan dapat kita peroleh dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan banyak belajar, membaca, mendengar, sering berlatih dan sering merenungkan segala fenomena kehidupan. Dengan memiliki kekayaan kebijaksanaan inilah seseorang mampu memiliki penilaian terhadap mana yang baik dan mana yang tidak baik. Selain itu, memiliki kebijaksanaan juga mampu membuat seseorang mencapai kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbana.

Kesimpulan

Memiliki harta kekayaan merupakan dambaan setiap orang. Karena dengan memiliki kekayaan dapat dipercaya akan memudahkan hidup seseorang. Berbeda halnya dengan seseorang yang miskin serba kekurangan, maka akan sulit dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu, dalam agama Buddha, menjadi orang kaya tidaklah masalah selagi hal itu didapatkan dengan cara yang benar. Selain memiliki harta kekayaan berupa materi, umat Buddha juga hendaknya memiliki kekayaan berupa non materi seperti yang terdapat dalam Dhana Sutta, Anguttara Nikaya 5.47, yaitu: kekayaan keyakinan (Saddhadhanam), kekayaan moralitas (Siladhanam), kekayaan pembelajaran(Sutadhanam), kekayaan kedermawanan (Cagadhanam), dan kekayaan kebijaksanaan (pannadhanam).

Referensi:

  • Anguttara Nikaya Jilid 3 (Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha). Ditj. Oleh Bhikkhu Bodhi-DhammaCitta Press, Jakarta Barat.
  • Kitab Suci Dhammpada. Ditj. YM. Phra Rajavaracariya (Win Vijano)- Bahussuta Society.
  • Moral: Landasan Hidup Bahagia. Oleh S.Dhammasiri.

Dibaca : 132 kali