x

Kemiskinan Berdampak Kemerosotan Moral Manusia

Acaritva brahmacariyam, Aladdha yobbane dhanam
Jinnakon'ava jhayanti, Khinamacche'va pallale'ti.


Ketika masih muda mereka tidak menjalani kehidupan suci, juga tidak berhasil mengumpulkan kekayaan. Mereka tetap bertahan hidup seperti bangau tua yang tidak berdaya dan kelaparan di tepi danau yang tidak ada ikannya.

(Dhammapada, Bab XI: Jara Vagga, Syair 155)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Kemiskinan merupakan salah satu masalah kehidupan yang mengglobal. Data statistik dari berbagai belahan dunia menunjukkan permasalahan kemiskinan menjadi salah satu problem utama pada tiap negara. Indonesia sebagai negara maju tentu mengalami permasalahan kemiskinan yang serius, seperti jumlah pengangguran semakin meningkat setelah masa pandemi covid-19 terjadi. Berbagai masalah yang dihadapi setiap umat manusia di kehidupan ini memiliki banyak kendala-kendala dalam menghadapi. Seperti tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin mengglobal baik dari lapisan masyarakat bawah, sedang maupun masyarakat kalangan atas.

Kebanyakan yang terjadi adalah masalah kemiskinan yang di hadapi kalangan masyarakat bawah. Hal ini juga tidak menuntup kemungkinan untuk kalangan-kalangan yang lainnya seperti kalangn atas meskipun mereka tidak menghadapi kesulitan perekonomian, namun banyak terjadi hal-hal yang lebih menyedihkan karena adanya keserakahan atau lobha yang di miliki bisa terjadi mereka akan mengalami kemerosotan moral, ketika mereka lupa akan pentingnya membina diri dan mengenal adanya kesadaran. Kemiskinan yang terjadi di lapisan masyarakat bukan hanya karena kemiskinan materi, namun hal ini bisa terjadi pada batin manusia yang ditunjukkan dengan kemerosotan moral.

Berbagai persoalan kemiskinan penduduk yang dialami perlu disimak dari berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, psikologi, dan politik. Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri, fatalisme, malas, dan rasa terisolir. Sedangkan dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, posisi lemah dalam proses pengambilan keputusan.
Kemiskinan dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan yaitu: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, dan kemiskinan kultural. Seseorang yang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum seperti: pangan, sandang, kesehatan, papan, serta pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas gratis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedangkan kemiskinan kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.

Buddhisme sebagai agama yang mempunyai dasar filosofi bahwa kehidupan merupakan masalah dan memberikan jalan keluarnya terhadap permasalahan secara nyata. Dalam khotbah pertama Sang Bhagava secara tegas telah menjelaskan fenomena kehidupan mengandung permasalahan namun dapat diatasi dengan menghilangkan faktor penyebab masalah (S.V.421-422). Untuk menghadapi masalah yang terjadi perlunya lebih memurnikan latihan praktik moralitas sebagai budaya dan kultur masyarakat yang berbeda. Namun sebagai seorang Buddhis kita sendiri sudah mempunyai dasar yang menjadi dasar yaitu Pancasila Buddhis yang menjadi basic dari praktik moralitas. Pedoman ini akan menjadi sangat penting apabila kita mempunyai satu pedoman, maka manusia akan memilih yang terbaik untuk dirinya.

Penyebab Kemiskinan dan Kemerosotan Moral
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kekurangan pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini, mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, serta kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.

Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yakni kemiskinan alamiah dan kemiskinan buatan. Kemiskinan alamiah dapat terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah, dan bencana alam. Sedangkan kemiskinan buatan terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagai anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia hingga mereka tetap miskin. Maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang terfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan.

Cerita dari Cakkavatti S?hanada Sutta merupakan gambaran sistem kepedulian sosial suatu negara yang kurang sebagai pemicu utama kemiskinan dan berbagai tindak kejahatan. Penegasan yang lain terdapat dalam sabda Guru Buddha bahwa “jika penguasa bersikap adil dan baik, maka para menteri akan berlaku adil dan baik. Jika para menteri berlaku adil dan baik maka para pejabat akan berlaku adil dan baik. Jika para pejabat akan berlaku adil dan baik maka para bawahan akan bersikap adil dan baik. Jika para bawahan bersikap adil dan baik maka rakyat menjadi adil dan baik.” (D.III.26)

Guru Buddha bersabda “mereka yang pada masa mudanya tidak menjalankan kehidupan benar, mengumpulkan kekayaan, akan hidup miskin dan merana seperti bangau tua yang hidup dalam kolam tanpa ikan” (Dhammapada 155). Kesucian spiritual serta kekayaan bukanlah dua hal yang bertentangan melainkan dapat diatur sehingga saling berkorelasi makna dan melengkapi. Seperti contoh Anathapindika dengan Visakha merupakan contoh pengusaha yang kaya pada jaman Buddha dan berhasil mencapai kesucian (Vin.II.158-159; Vin.I.292-294). Dari contoh tersebut ajaran Buddha tidak anti kepada kepemilikan materi dan kekayaan yang dapat menyebabkan kemerosotan moral apabila tidak waspada dan lengah dalam hidup.

Secara penjelasan mengenai tingkat kemiskinan dengan perumpamaan bahwa beberapa orang seperti orang yang sepenuhnya buta. Karena mereka tidak mempunyai visi untuk meningkatkan keadaan secara materi mereka, tidak juga adanya visi untuk menjalankan kehidupan yang tinggi secara moral. Orang-orang lainnya seperti manusia bermata satu, karena meskipun mempunyai visi untuk meningkatkan kondisi materi mereka, mereka tidak mempunyai visi untuk menjalankan kehidupan yang tinggi secara moral. Kelompok ketiga mempunyai visi untuk meningkatkan keduanya. Ajaran-ajaran Buddhis tersebut secara langsung akan mengingatkan kita kepada mengukur kemiskinan tidak cukup hanya menilai kondisi-kondisi materi saja. Untuk penilaian kondisi kekurangan yang lebih menyeluruh, kualitas moral kehidupan orang-orang perlu juga sebagai masukan bahwa bukan untuk mengecilkan pentingnya mata pertama secara kondisi materi. (AN.Tika Nipata)

Berdasarkan sabda Guru Buddha dalam Cakkavatti s?hanada Sutta terdapat hubungan sebab akibat antara kemiskinan materi dengan kemerosotan sosial dan sistem pemerintahan suatu negara. Dalam penjelasan sutta tersebut ada kisah seorang raja yang pada awalnya memuliakan dan mengandalkan ajaran Buddha, melakukan sebagaimana yang dinasihatkan penasihat kerajaan untuk tidak membiarkan kejahatan terjadi dalam kerajaan dan secara rutin memberikan dana (properti) kepada kaum miskin. Tetapi raja kemudian mulai memerintah menurut pemikirannya sendiri dan tidak memberikan properti kepada kaum papa, akibatnya kemiskinan pun meluas.

Karena kemiskinan, seorang penduduk mengambil barang yang tidak diberikan sehingga ditangkap oleh pihak kerajaan; saat raja menanyakan sebab terjadinya pencurian, penduduk mengatakan bahwa tidak punya harta untuk menyambung hidup. Raja akhirnya memberikan properti dengan mengatakan bahwa properti itu akan cukup untuk melakukan usaha dan menopang keluarganya. Tindakan pencurian yang dilakukan menjadi inspirasi bagi berkembangnya tindakan pencurian dan berbagai bentuk kejahatan lainnya. Kerajaan menjadi tidak aman dan kacau, mendengar terjadinya banyak pencurian dan kejahatan orang menyiapkan berbagai alat pengaman berupa senjata tajam dan akhirnya terjadi banyak kasus pembunuhan. Dengan demikian, dari tidak memberikan properti pada kaum papa, kemiskinan meluas, dari berkembangnya kemiskinan, pengambilan akan apa yang tidak diberikan meningkat. Dari meningkatnya pencurian, meningkatlah penggunaan senjata. Dari meningkatnya penggunaan senjata, meningkatlah pembunuhan .... “ (D.III.69-70)

Cara Mengatasi Kemiskinan dan Kemerosotan Moral
Sebagai sebuah cara untuk menjalani hidup memperoleh kesejahteraan, dalam mengatasi masalah kehidupan tercemin dari cara pandang sebab akibat sehingga permasalahan dapat diatasi dengan benar. Dengan cara mengumpulkan kekayaan yang sesuai menurut Dhamma yaitu perumpamaan lebah yang memperoleh madu tanpa merusak bunga justru menguntungkannya. (D.III.187). Oleh karena itu, mengatasi berbagai masalah dalam masyarakat yang timbul akibat kesenjangan sosial, hendaknya setiap masyarakat harus peduli akan kepentingan sosial serta menyadari akan lingkungan sekitarnya. Karena orang yang memperhatikan kepentingan orang lain di samping kepentingan diri sendiri adalah yang terbaik. (AN.II,95; DN.III,233)

Selain itu ketika mencari nafkah hidupnya, seseorang hendaklah selalu mengkondisikan untuk mendapatkan penghasilan dengan cara yang sesuai dengan Dhamma. Hal ini akan memberikan ketenangan dalam hidupnya sendiri maupun keluarganya. Seperti yang terdapat dalam Samyutta Nikaya IV, 331) Seseorang yang mengumpulkan kekayaan dengan cara yang sah dan tanpa kekerasan, memperoleh kenikmatan dan sukacita, dan membagikannya dengan orang lain serta melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dengan demikian, mereka akan menggunakannya tanpa keserakahan dan kehausan kepada pelanggaran-pelanggaran nilai moralitas. Mereka akan menyadari bahaya dalam penyalahgunaan dan sadar akan tujuan hidupnya yang tertinggi. Maka, ia akan patut dipuji dan tidak tercela dalam kehidupannya.

Dibaca : 417 kali