x

MENYELAMATKAN DIRI SENDIRI

Attadattham paratthena, bahunapi na hapaye;
Attadatthamabhinnaya, sadatthapasuto siya.


Jangan karena demi kesejahteraan orang lain lalu seseorang melalaikan kesejahteraan sendiri. Setelah memahami tujuan akhir bagi diri sendiri, hendaklah ia teguh melaksanakan tugas kewajibannya.

Kitab Suci Dhammapada Syair 166


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Sang Buddha sudah mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Sammasambuddha sebagai hasil dari usahanya sendiri. Setelah mencapai pencerahan tertinggi Sang Buddha pun tidak menikmatinya sendiri tapi dengan welas asihnya beliau merasa tergerak untuk menunjukkan jalan yang sudah ditemukkannya kepada orang lain. Sang Buddha menunjukkan jalan tersebut tidak hanya untuk pria atau wanita, tetapi bahkan kepada para dewa.

Kini Sang Buddha sudah lama parinibbana, namun demikian masih ada Dhamma dan Vinaya yang beliau wariskan yang menjadi pedoman bagi umat Buddha saat ini. Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha ini merupakan jalan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Dhamma akan mampu menyelamatkan kita apabila Dhamma itu kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil dari praktik Dhamma itulah yang akan menyelamatkan kita untuk bisa terbebas dari samsara.

Sebagai umat Buddha yang benar-benar menyadari bahwa tidak ada sumber lain di luar diri sendiri yang mampu menyelamatkan kita, tapi kita harus memahami bahwa kita perlu mengandalkan usaha sendiri untuk berjuang dengan keras. Kita harus mencari keselamatan bagi diri kita sendiri karena tak seorangpun yang dapat menyelamatkan diri kita dan kita juga yang harus bertanggungjawab terhadap kehidupan kita saat ini maupun yang akan datang. Sang Buddha menyampaikan dalam syair Dhammapada : “oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, “oleh diri sendiri seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri. Tak seorangpun dapat menyucikan orang lain.”

Mencapai kesucian atau menyelamatkan diri sendiri dapat diumpamakan dengan menyembuhkan penyakit. Jika kita sakit, maka kita akan pergi ke dokter kemudian dokter akan memeriksa penyakit kita dan akan meresepkan obatnya. Obat-obat yang sudah diresepkan harus kita minum sendiri, karena kita tidak bisa meminta orang lain menelan obat itu untuk kita. Dan tidak ada orang yang dapat sembuh dari sakitnya hanya dengan memuji-muji dokternya untuk resep yang bagus.

Untuk bisa sembuh, kita sendiri harus dengan tekun mengikuti petunjuk yang diberikan oleh dokter mengenai cara dan jumlah obat yang diminum, dan pantangan-pantangan yang harus dihindari secara medis. Demikian pula Sang Buddha dapat diumpakan sebagai seorang dokter yang mengobati pasien. Sang Buddha mengobati penyakit batin yaitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, untuk bisa sembuh kita harus mengikuti petunjuk, nasehat, aturan, yang diajarkan oleh Sang Buddha yang sudah memberikan resep untuk bisa sembuh sehinga bisa menyelamatkan diri kita dengan mencapai pembebasan Nibbana dengan mengendalikan pikiran dan membasmi tuntas keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

Kita tidak akan selamat hanya dengan memuji-muji keagungan Sang Buddha, dengan meminta-minta di depan altar Sang Buddha, dan hanya dengan mengikuti acara-acara peristiwa penting tertentu untuk menghormati Sang Buddha kemudian berharap bisa menjadi suci dan bisa mencapai Nibbana. Tetapi kita sebagai umat Buddha harus berjuang keras untuk mengendalikan pikiran untuk membasmi keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin melalui latihan meditasi vipassana.

Kutipan syair Dhammapada di awal memiliki latar belakang mengenai kisah tentang seorang bhikkhu yang berjuang mencapai kebebasan sejati: Ketika Sang Buddha mengumumkan bahwa beliau akan mencapai parinibbana dalam waktu 4 bulan lagi, banyak bhikkhu merasa cemas dan tidak tahu harus berbuat apa, lalu mereka berusaha dekat dengan Sang Buddha.

Seorang bhikkhu bernama Attadattha, meskipun tidak pergi ke hadapan Sang Buddha, bertekad untuk mencapai tingkat kesucian arahat selama Sang Buddha masih hidup, berusaha keras dalam meditasi. Bhikkhu-bhikkhu lain yang tidak memahaminya, membawanya di hadapan Sang Buddha dan berkata, “ bhante, bhikkhu ini tidak terlihat mencintai dan memujamu seperti yang kami lakukan, ia hanya menyendiri.” Attadattha Thera kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa ia sedang berusaha untuk mencapai tingkat kesucian arahat sebelum Sang Buddha mencapai parinibbana, dan itulah alasannya mengapa ia tidak berada dekat Sang Buddha.

Sang Buddha kemudian berkata kepada para bhikkhu, “para bhikkhu,
barang siapa yang mencintai dan menghormatiku seharusnya berkelakuan seperti Attadattha. Kalian tidak menghormat saya hanya dengan memberikan bunga-bunga, wangi-wangian, dupa, atau datang menjengukku. Kalian memberi penghormatan kepada saya bila mempraktekkan Dhamma yang telah kuajarkan kepada kalian seperti Lokuttara Dhamma.”Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 166 berikut: “Jangan karena demi kesejahteraan orang lain lalu seseorang melalaikan kesejahteraan sendiri. Setelah memahami tujuan akhir bagi diri sendiri, hendaklah ia teguh melaksanakan tugas kewajibannya. ”Attadattha Thera mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Daftar Pustaka:

  • Narada Thera. 2010. Ilustrasi Dhammapada Menelusuri Jejak Langkah Buddha. Tanpa Kota: Karaniya.
  • Dhammananda Sri. 2002. What Buddhis Believe. Tanpa Kota: Karaniya.

Dibaca : 550 kali