x

R A S A K E B E B A S A N

Seyyathapi, paharada, mahasamuddo ekaraso lonaraso; evamevam kho,
paharada, ayam dhammavinayo ekaraso, vimuttiraso.


Oh, paharada, Seperti halnya samudra yang luas mempunyai satu rasa yaitu rasa garam. Demikianlah paharada, Disiplin dan ajaran ini mempunyai satu rasa yaitu rasa kebebasan

Paharada Sutta, AN 8.18


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Kebebasan merupakan salah satu impian yang diharapkan oleh semua makhluk, baik manusia maupun hewan sama-sama ingin bebas dan tidak terikat. Sebagai contoh pada saat pandemi seperti ini banyak orang yang merasa terkurung di dalam rumah masing-masing, sehingga banyak yang melanggar ketentuan dari pemerintah karena dirinya menganggap kebebasannya terenggut. Contoh yang lain adalah hewan, ketika hewan dimasukkan dalam sebuah kurungan, tentu mereka akan melawan dan terus melawan hingga kelelahan agar bisa terbebaskan. Pengertian umum tentang kebebasan secara sederhana yang dimiliki oleh masyarakat adalah seperti yang diterangkan di atas. Jika menurut KBBI arti dari kebebasan banyak macam, termasuk kemerdekaan merupakan kebebasan yang diharapkan oleh sebuah negara.

Dalam Buddhisme dapat ditemukan juga tentang kebebasan, hanya pengertiannya berbeda dengan pengertian umum yang dimiliki oleh masyarakat. Yang dimaksud kebebasan dalam ajaran Buddha adalah bebas dari penderitaan yang disebabkan oleh nafsu keinginan (Tanha) dan kelekatan (Upadana) kita terhadap objek-objek dari batin dan fisik (Namanca rupanca), kelekatan muncul sebagai akibat dari nafsu keinginan yang tidak terkendali, pada dasarnya kelekatan dan nafsu keinginan tersebut berlandaskan kotoran batin (Kilesa) yang telah meragi di dalam batin kita.

Setelah memahami ini, lantas bagaimana cara kita untuk bisa terbebas dari penderitaan?. Caranya adalah dengan praktik Dhamma secara berulang-ulang yang telah diajarkan oleh Sang Buddha. Dhamma yang ada luasnya seperti Samudera yang amat luas, tetapi yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada kita sudah cukup untuk membawa kita bebas dari penderitaan seperti yang tercakup dalam Simsapavana Sutta (SN 56.31). Lalu, harus mulai dari mana agar kita bisa mempraktikkan Dhamma?. Jawabannya adalah mulai dari kecocokan masing-masing, ada yang cocok dengan meditasi bisa memulainya dari meditasi, ada yang cocok dengan belajar tipitaka bisa memulainya dari belajar tipitaka, dan ada pula yang cocok dengan praktik dana dan sila, hal inipun bisa dipraktikkan asalkan dengan satu tujuan yaitu mengikis kotoran batin. Dimulai darimanapun tidak ada masalah karena ketika ia mempraktikkan Dhamma, maka ia akan menyadari bahwa praktik-praktik yang lain perlu dilakukan juga.

Praktik Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha sudah tentu mempunyai satu rasa yaitu rasa pembebasan, Bagaimana yang dimaksud dengan rasa pembebasan?. Yang dimaksud di sini adalah bebas dari penderitaan, bebas dari kelahiran kembali. Dan rasa pembebasan tersebut bisa dirasakan oleh semua makhluk yang mau mempraktikkannya.

Lantas setelah mengetahui hal ini, bagaimana mengetahui ajaran murni yang diajarkan oleh Sang Buddha atau bisa membedakannya dengan ajaran yang tidak murni tetapi memakai nama Dhamma itu sendiri agar mendapatkan rasa pembebasan murni tersebut?. Ajaran murni Sang Buddha membuat keserakahan kita berkurang, ajaran murni Sang Buddha membuat kebencian kita berkurang, dan ajaran murni Sang Buddha membuat keakuan kita semakin terkikis. Keserakahan, Kebencian, dan Keakuan (selanjutnya disingkat menjadi kilesa) merupakan sumber masalah penderitaan itu sendiri.

Kilesa ini muncul dikarenakan kita tidak mengetahui apa yang harus diketahui dan tidak melakukan apa yang harus dilakukan, sebagai akibatnya di saat ini kita merasakan penderitaan atau kebahagiaan yang palsu, tetapi sebagai akibat di masa yang akan datang sudah pasti kita merasakan penderitaan. Dhamma yang diajarkan kepada kita membuat kita mengetahui apa yang harus dilakukan dan melakukan apa yang harus dilakukan.

Praktik Dhamma yang dilakukan secara berulang-ulang seperti berbagi kepada yang membutuhkan dengan tujuan untuk mengikis kotoran batin, menjalankan pengendalian diri (moralitas) dengan tujuan untuk mengikis kotoran batin, serta melatih ketenangan dan mengembangkan sifat yang baik dan membuang sifat yang buruk dengan tujuan untuk mengikis kotoran batin membuat kilesa tersebut terkikis dan bisa lenyap untuk selamanya. Ketika kilesa mulai terkikis, di situlah kita mulai merasakan rasa pembebasan itu sendiri. Laksana seperti orang yang tercekik, ketika cekikannya telah longgar maka ia merasa lega dan bahagia.

Dibaca : 271 kali