x

D O K T E R

Yo bhikkhave, mam upatthaheyya so gilanam upatthaheyya.
Wahai para bhikkhu, ia yang merawat orang sakit berarti ia juga merawat saya.

Vin 1.301


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2020 ini, peringatan Hari Pahlawan dibarengi dengan pandemi yang menyerang seluruh belahan bumi. Apabila dulu pahlawan membawa senjata untuk melawan penjajah dan merebut kembali kekuasaan bangsa, maka kini dokter serta tenaga kesehatan lainnya merupakan pahlawan yang harus dikenang jasanya sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan jutaan manusia yang terinfeksi Covid-19.
Dalam Girimananda Sutta (A5.108), Buddha menguraikan bahwa tubuh ini adalah sarang dari berbagai penyakit: penyakit mata, penyakit bagian dalam telinga, penyakit hidung, penyakit lidah, penyakit badan, penyakit kepala, penyakit bagian luar telinga, penyakit mulut, penyakit gigi, batuk, asma, radang selaput lendir hidung, pireksia, demam, sakit perut, pingsan, disentri, nyeri lambung, kolera, lepra, bisul, eksim, tuberkulosis, epilepsi, kurap, gatal, keropeng, cacar, kudis, pendarahan, diabetes, wasir, jerawat, fistula. Selain itu, Buddha juga menyampaikan 10 perenungan yang membuat Bhante Girimananda pulih dari penyakitnya, salah satunya adalah perenungan terhadap masuk-keluarnya napas.
Jika setiap penyakit hanya disebabkan oleh karma lampau, seperti anggapan kebanyakan orang, maka minum obat tidak akan berguna. Guru Agung Buddha membuat daftar 8 penyebab penyakit (S 4.230), hanya satu yang diakibatkan oleh karma, sedangkan yang lainnya adalah ketidakseimbangan empedu (pitta), lendir (semha), angin (vata), kombinasi ketiganya (sannipatika), perubahan cuaca (utuparinama), perawatan yang tidak tepat (visamaparihara), dan serangan mendadak (opakkamika) misalnya kecelakaan. Pola makan yang buruk juga membawa penyakit, seperti makan terlalu banyak. Juga terdapat penyakit musiman yang disebabkan oleh angin, panas, dan kelembaban (Vin 1.199).
Seorang dokter (bhisakka atau vejja) dan perawat (gilanupatthaka) yang baik harus memiliki 5 kualitas (A 3.144) dalam menjalankan tugasnya. Apakah 5 kualitas tersebut?

  • Ia mampu memberikan obat dengan baik.
  • Ia mengetahui apa yang bermanfaat dan sebaliknya. Ia harus menjauhkan apa yang tidak bermanfaat dan hanya memberikan apa yang bermanfaat bagi orang sakit.
  • Ia merawat orang sakit dengan penuh cinta kasih, bukan karena keinginan untuk mendapatkan keuntungan.
  • Ia tidak merasa jijik dengan kotoran, urin, muntah, atau ludah.
  • Setiap saat ia dapat menasihati, menginspirasi, menyemangati, dan menghibur orang sakit dengan pembicaraan seputar Dhamma.

Saat seseorang sedang sakit parah dan merasa tidak berdaya, suatu kata ramah atau tindakan baik menjadi sumber kesenangan dan harapan. Itulah sebabnya cinta kasih (metta) dan welas asih (karuna) dianggap sebagai sifat-sifat yang patut dipuji bagi setiap orang. Keadaan sakit adalah saat seseorang sedang menghadapi kenyataan hidup dan kondisi ini adalah kesempatan baik untuk menanamkan kesadaran spiritual, bahkan dalam batin yang paling materialistis sekalipun. Lebih lanjut, orang yang sedang sakit tentunya mempunyai perasaan takut pada kematian lebih besar daripada saat sehat. Cara yang paling baik untuk menenangkan perasaan takut ini adalah dengan mengalihkan perhatiannya kepada Dhamma.
”Seseorang yang merawat orang sakit, berarti ia juga merawat Saya”. Pernyataan terkenal ini dibuat oleh Guru Agung Buddha saat Beliau menemukan seorang bhikkhu yang sedang berbaring dalam jubah kotornya. Bhikkhu tersebut dalam keadaan sakit parah karena serangan disentri. Dengan bantuan Bhante Ananda, Buddha membersihkan bhikkhu sakit itu dengan air hangat. Dalam ke-sempatan ini, Beliau mengingatkan para bhikkhu bahwa mereka tidak mempunyai orangtua maupun sanak keluarga yang menjaga mereka, maka mereka harus menjaga satu sama lain. Jika guru sedang sakit, murid mempunyai kewajiban untuk merawatnya, dan jika murid sakit, guru juga memiliki kewajiban untuk menjaganya. Jika tidak ada guru atau murid, maka masyarakat berkewajiban menjaga orang yang sakit.
Pada kesempatan lain, Buddha menjumpai seorang bhikkhu yang tubuhnya dipenuhi dengan luka, jubah lengket di tubuhnya dengan nanah keluar dari luka-lukanya. Para teman bhikkhu telah meninggalkannya karena tidak dapat menjaganya. Saat menemui bhikkhu ini, Buddha merebus air dan membasuh bhikkhu tersebut dengan tangannya sendiri, selanjutnya membersihkan dan mengeringkan jubahnya. Saat bhikkhu tersebut telah nyaman, Buddha memberikan khotbah kepadanya dan ia menjadi Arahatta, lalu tidak lama kemudian parinibbana. Oleh karena itu, Buddha tidak hanya mendukung pentingnya merawat orang sakit, Beliau juga memberi contoh nyata bagaimana memberikan pelayanan kepada mereka yang sedang sakit, mereka yang bahkan dianggap menjijikkan bagi kebanyakan orang.
Guru Agung Buddha bagaikan seorang dokter yang ahli dalam menyembuhkan penyakit noda batin. Dhamma bagaikan obat yang digunakan secara tepat. Dan Sangha, dengan noda batin yang sudah terobati, bagaikan orang-orang yang telah disembuhkan oleh obat tersebut. Inilah tiga mustika utama yang menjadi perlindungan bagi umat Buddha. Dengan Buddha sebagai dokter, Dhamma sebagai obat, dan Sangha sebagai pasien yang telah berhasil sembuh, sepatutnya kita semua memiliki kesempatan meraih kebahagiaan sejati.

Pustaka Rujukan

  • Anguttara Nikaya: The Numerical Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2012.
  • Samyutta Nikaya: The Connected Discourses of the Buddha. Translated by Bhikkhu Bodhi. Boston: Wisdom Publications, 2000.
  • Vinaya Pitaka: The Book of the Discipline. Translated by I. B. Horner. London: Pali Text Society, 1970.

Dibaca : 152 kali